Dua Korban Pesawat ATR 42-500 Dievakuasi, Delapan Orang Belum Ditemukan

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

PANGKEP, KOMPAS - Tim SAR gabungan mengevakuasi dua korban pesawat ATR 42-500 dari lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Satu berhasil dibawa ke rumah sakit, sementara satu korban lainnya dievakuasi menuju ke jalan utama, Selasa (20/1/2026) malam.

Dalam upaya evakuasi itu, tim penyelamat dari berbagai instansi dan komunitas menghadapi medan terjal dan cuaca ekstrem selama puluhan jam. Meski demikian, delapan korban lainnya belum ditemukan.

Dari pantauan di posko utama Desa Tompobulu, Pangkep, sekitar pukul 20.17 Wita, ratusan anggota tim SAR gabungan membawa jenazah korban yang dibungkus plastik khusus. Tim melewati jalur yang terjal, becek, dan diguyur hujan. Korban yang diketahui berjenis kelamin perempuan ini lalu dibawa ke posko DVI (Disaster Victim Identification) yang telah disiapkan. Setelahnya, jenazah dibawa ke RS Bhayangkara di Makassar untuk pemeriksaan dan identifikasi lanjutan.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC) Muhammad Arif Anwar mengatakan, tim SAR gabungan berhasil membawa satu korban menuju Desa Lampeso, Maros, pada Selasa sore. Sementara itu, satu korban lainnya dibawa ke posko utama di Desa Tompobulu, Selasa malam.

”Untuk korban di Tompobulu, evakuasi korban membutuhkan teknik vertical rescue dan koordinasi lintas unsur yang sangat ketat. Tim bekerja dari lembah menuju puncak dengan peralatan khusus,” katanya.

Sementara itu, hingga Selasa malam, korban yang pertama kali ditemukan masih dalam proses evakuasi lanjutan. Dari Desa Lampeso, tim membawa korban berjenis kelamin laki-laki ini menuju ke kampung baru melalui jalan setapak sekitar 15 kilometer dengan melewati medan yang bervariasi. Setelahnya, dilanjutkan lagi dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 5 kilometer untuk mencapai jalan poros Kecamatan Cenrana dan kemudian akan dievakuasi ke RS Bhayangkara, Makassar.

Arif mengatakan, operasi SAR ini melibatkan kekuatan besar, dengan total 1.075 personel dari berbagai unsur, termasuk Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, komunitas pecinta alam, hingga unsur medis. Dukungan alutsista darat dan udara, seperti helikopter, pesawat intai, dan drone thermal, turut dikerahkan untuk mempercepat pencarian.

Baca JugaPesawat ATR 42-500 Menabrak Gunung Bulusaraung, Apa Saja Kemungkinan Penyebabnya?

“Kami mengapresiasi dedikasi seluruh unsur yang terlibat. Operasi ini adalah wujud nyata sinergi dan kemanusiaan. Fokus kami tetap pada pencarian seluruh korban dengan mengutamakan keselamatan tim di lapangan,” ucapnya.

Komandan Korem 141/Toddopuli Brigadir Jenderal Andre Clift Rumbayan menuturkan, proses evakuasi yang dilakukan menghadapi tantangan yang luar biasa. Mulai dari medan terjal, badai, dan hujan ekstrem. Terlebih lagi, kedua korban yang dievakuasi memiliki tantangan yang berbeda.

“Korban yang berhasil dievakuasi di Tompobulu ini adalah korban kedua yang ditemukan. Mengapa korban pertama masih dalam proses evakuasi itu berbeda, karena memang tantangan jalurnya berbeda,” katanya.

Pesawat ATR 42-500 yang naas ini hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026). Pesawat terdaftar dengan registrasi PK-THT yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT), pemegang AOC 034. Pesawat buatan tahun 2000 dengan nomor seri 611 tersebut terbang dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, menuju Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Pesawat dipiloti Kapten Andy Dahananto.

Kepala Seksi Operasi KKP Makassar Andi Sultan menyampaikan, sekitar 200 personel tetap berada di sekitar puncak Bulusaraung. Mereka menginap dan akan melanjutkan pencarian pada esok hari.

Baca JugaKronologi ATR 42-500 Tabrak Gunung Bulusaraung, Medan Ekstrem Hambat Evakuasi

Menurut Sultan, fokus utama para personel adalah pencarian dan penyelamatan delapan korban lainnya. Selain itu, tim ditugaskan untuk mencari kotak hitam yang juga belum ditemukan.

”Pencarian hari ini belum berhasil menemukan adanya korban lain. Hanya ada serpihan dan beberapa benda lainnya. Tim akan terus berupaya mencari ke depannya,” tuturnya.

Asisten Resimen Kodam XIV/Hasanuddin Kolonel Abi Kusnianto sebelumnya mengatakan, rencana evakuasi dua korban dilakukan secara terpisah. Satu korban berupaya diangkut menuruni lereng, dan satu korban lainnya diupayakan ditarik ke puncak dan dibawa ke posko utama. Sebanyak lima tim ditugaskan untuk mencari korban lainnya.

Tantangan terbesar selama ini, menurut Abi, medan yang sangat terjal dan cuaca buruk. Badai menerjang anggota tim SAR gabungan sehingga mereka kesulitan dalam pencarian maupun evakuasi.

“Namun, dengan langkah yang kami susun, dan kekompakan anggota tim, kita berupaya memaksimalkan apa yang ada, tenaga yang terampil dan berharap hasil yang terbaik. Kita semua ada di sini karena satu misi kemanusiaan yang sama,” uajrnya.

Anggota tim SAR gabungan yang berjumlah lebih dari 1.000 orang ini diatur sedemikian rupa untuk melakukan estafet pencarian sehingga sumber daya cukup dan maksimal.

Baca JugaPesawat ATR 42-500 Laik Terbang, Penyebab Tabrakan di Gunung Bulusaraung Masih Misteri

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pimpinan Komisi I DPR: Pernyataan SBY Patut Dibaca Sebagai Peringatan Dini
• 17 jam laludetik.com
thumb
Lakoni Adegan Intim Dengan Timothee Chalamet, Gwyneth Paltrow Khawatir Anak Bungsu Nonton
• 3 jam laluinsertlive.com
thumb
Ketua Tim Reformasi Polri: Putusan MK soal UU Pers Sejalan dengan Upaya Kurangi Kriminalisasi Wartawan
• 4 jam lalumerahputih.com
thumb
Kabupaten Gowa Raya Bisa Terbentuk, Pemerintah Mesti Perhatikan Dataran Tinggi
• 18 jam laluharianfajar
thumb
Ikuti Australia, Inggris Pertimbangkan Larang Remaja Akses Medsos
• 2 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.