BMKG Deteksi Adanya Awan Cumulonimbus di Maros saat Insiden Pesawat ATR 42-500 Jatuh

mediaindonesia.com
13 jam lalu
Cover Berita

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi awan Cumulonimbus (Cb) di Maros, Sulawesi Selatan, bertepatan dengan peristiwa jatuhnya pesawat ATR 42-500, Sabtu (17/1). Saat itu pesawat tersebut dalam fase menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa kondisi cuaca secara umum masih tergolong stabil. Namun, ia menekankan adanya potensi risiko dari awan Cb di area pendekatan pendaratan.

"Cuaca diperkirakan relatif stabil, namun masih terdapat awan Cb di wilayah pendekatan saat pendaratan yang perlu diwaspadai," ujar Teuku Faisal dalam rapat bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (20/1).

Baca juga : Selimuti Kawasan Maros saat Pesawat ATR 42-500 Jatuh, Apa Itu Awan Cumulonimbus?

Penjelasan tersebut merupakan hasil analisis BMKG yang bersumber dari laporan meteorologi bandara serta citra satelit cuaca. BMKG menegaskan bahwa pemaparan ini disampaikan semata-mata untuk menjelaskan kondisi meteorologis saat kejadian, tanpa mengaitkannya dengan faktor teknis penyebab insiden, sekaligus memberikan gambaran objektif mengenai dinamika cuaca di sekitar wilayah Maros.

Sementara itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memastikan bahwa penyelidikan terkait insiden pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, sepenuhnya ditangani oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Faisal menjelaskan, berdasarkan Meteorologi Aerodrome Report (METAR) Bandara Sultan Hasanuddin pada pukul 12.30 WIB, kondisi cuaca di area bandara terpantau cukup baik.

Jarak pandang mencapai sekitar 9 kilometer, angin bertiup dari arah barat dengan kecepatan 13 knot, serta suhu dan tekanan udara berada dalam batas normal. Meski demikian, BMKG mencatat adanya awan Cumulonimbus di sekitar wilayah Maros, yang berpotensi memengaruhi fase pendekatan pesawat meskipun tidak terdeteksi gangguan signifikan tepat di area bandara.

Lebih lanjut, BMKG memaparkan bahwa pola angin di Indonesia bagian utara umumnya bergerak dari barat laut hingga timur laut dengan kecepatan berkisar 6-25 knot. Adapun di wilayah Indonesia bagian selatan, pergerakan angin dominan berasal dari barat daya hingga barat laut dengan kecepatan sekitar 8-30 knot, yang dapat memengaruhi kondisi penerbangan tergantung situasi atmosfer setempat.(Ant/E-4)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
KPK Jerat Wali Kota Madiun Tersangka Pemerasan-Gratifikasi Total Rp 2,2 M
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
IHSG Rawan Turun, Analis Rekomendasikan Saham ADMR, MDKA, hingga ACES
• 4 jam lalukatadata.co.id
thumb
Banjir di Pekalongan Surut, KAI Masih Batalkan Perjalanan Dua Kereta Api Jarak Jauh
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Komisi Eropa: Pasukan Siap Amankan Arktik, Sanksi Tarif Trump adalah Kekeliruan
• 14 jam lalurepublika.co.id
thumb
Breaking News! KPK Tetapkan Wali Kota Madiun Jadi Tersangka Pemerasan dan Gratifikasi
• 11 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.