Apa Itu Fear Mongering? Strategi Menakut-nakuti yang Sering Tak Disadari

insertlive.com
4 jam lalu
Cover Berita


Berita palsu atau yang tak bisa dipastikan sumbernya beberapa tahun belakangan semakin menjamur.

Tidak hanya itu, berita-berita yang berisi asumsi atau dugaan yang belum pasti terjadi, tetapi sudah menimbulkan ketakutan bagi orang yang membaca juga makin liar.

Secara definisi, tindakan menakut-nakuti ini disebut sebagai fear mongering. Orang yang melakukan fear mongering sengaja menyebarkan rumor yang menakutkan atau berita yang dilebih-lebihkan untuk memanipulasi opini publik atau perilaku masyarakat.

Barry Glassner dalam bukunya yang fenomenal, The Culture of Fear (1999), berpendapat bahwa masyarakat modern sering kali takut pada hal yang salah.

Glassner memandang fear mongering sebagai teknik narasi untuk menormalisasi kesalahan penalaran, di mana insiden terisolasi (kejadian tunggal) diposisikan seolah-olah sebagai tren global.

Ada beberapa tujuan dilakukan fear mongering ini, misal untuk pengalihan perhatian. Menurutnya, politisi dan media memanfaatkan ketakutan ini untuk mengalihkan perhatian publik dari masalah yang lebih mendesak, seperti ketimpangan ekonomi atau kemiskinan.

Akibatnya, masyarakat menghabiskan terlalu banyak energinya untuk menghindari bahaya yang langka, sementara bahaya yang lebih mungkin terjadi justru diabaikan.

Cara Kerja Fear Mongering dan Dampaknya pada Masyarakat

Fear mongering tidak bekerja secara acak. Teknik ini menyerang bagian otak yang disebut amigdala, yang bertanggung jawab atas respons 'lawan atau lari'.

Ketika seseorang merasa terancam, kemampuan berpikir kritisnya cenderung menurun, sehingga mereka lebih mudah menerima solusi instan atau narasi tertentu.

Teknik utama yang sering digunakan dalam fear mongering adalah:

  1. Hiperbola: Mengambil risiko kecil dan menyajikannya seolah-olah bencana besar yang tak terelakkan.
  2. Repetisi: Mengulang-ulang narasi ancaman secara terus-menerus hingga dianggap sebagai kebenaran umum (illusory truth effect).
  3. Ketiadaan Konteks: Menyajikan data statistik yang menyeramkan tanpa membandingkannya dengan rata-rata normal atau probabilitas nyata.

Dampak dari penyebaran ketakutan ini sangat nyata dan sering kali merusak. Masyarakat cenderung mencari 'kambing hitam' atas ketakutan yang mereka rasakan, yang sering kali berujung pada diskriminasi terhadap kelompok tertentu.Paparan terhadap berita buruk secara terus-menerus juga membuat individu merasa tidak berdaya.

Di tingkat pemerintahan, ketakutan publik sering kali melahirkan undang-undang yang reaktif namun mengorbankan hak privasi atau kebebasan sipil.

Cara Mengidentifikasi Fear Mongering

Sebagai audiens yang cerdas, kita perlu melakukan filtrasi informasi dengan langkah-langkah berikut:

Ciri Informasi Sehat:Ciri Fear Mongering:


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pakar Hukum Minta Tidak Ada Konflik Kepentingan dalam Pembahasan RUU Perampasan Aset
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
Ahli Temukan Manfaat Makan Keju untuk Cegah Demensia, Begini Anjurannya
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Tak Cuma Greenland, Trump Kini Ingin Menguasai Kanada
• 3 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
ATR 42-500 Jatuh di Gunung Bulusaraung, Ini 10 Tragedi Penerbangan Mematikan di Indonesia
• 15 jam lalufajar.co.id
thumb
Coki Pardede Bertanya Soal IKN Jadi Kota Hantu, Gibran Klaim Tidak Mangkrak: Tahun Ini Kita Kirim Ribuan ASN Berkantor
• 13 jam lalufajar.co.id
Berhasil disimpan.