REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di bawah kepemimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS), Arab Saudi kini tengah mempertontonkan sebuah anomali ekonomi yang mengejutkan dunia properti internasional.
Di tengah ambisi besar membangun gedung-gedung pencakar langit dan proyek futuristik, sang Putra Mahkota justru menarik kendali dengan keras untuk memastikan bahwa kemajuan tersebut tetap dapat dinikmati oleh rakyatnya. Langkah berani ini membuktikan bahwa di Kerajaan Saudi, kebijakan politik memiliki kekuatan yang mampu menjinakkan hukum pasar yang paling liar sekalipun.
- Nggak Hapus Maskara Sebelum Tidur Bisa Picu Iritasi Mata
- Keraton Kasunanan Hadiningrat Surakarta Ditetapkan Sebagai Cagar Budaya Nasional
- Job Hugging Melanda Dunia
Betapa berpengaruhnya sabda Putra Mahkota Mohammed bin Salman tercermin dari pergeseran drastis indeks harga properti di ibu kota Riyadh. Ketika pasar memproyeksikan kenaikan satu persen akibat tingginya permintaan menjelang akhir tahun 2025, titah MBS untuk mengendalikan spekulasi dan beban finansial warga justru membuat harga properti mendadak amblas hingga tiga persen. Fenomena ini menunjukkan bahwa otoritas MBS bukan sekadar pemimpin administratif, melainkan penggerak utama sentimen pasar yang keputusannya mampu merombak arah ekonomi dalam sekejap mata.
Intervensi langsung ini secara efektif menghentikan laju inflasi properti yang sebelumnya melonjak ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kekuatan kata-kata sang Putra Mahkota bertransformasi menjadi regulasi konkret, mulai dari pengenaan biaya pada tanah kosong hingga subsidi langsung lahan di lingkungan premium Riyadh Utara.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Dampaknya, para spekulan yang biasanya mendikte harga terpaksa mundur, memberikan ruang bagi "keseimbangan sejati" di mana stabilitas lebih diutamakan daripada keuntungan jangka pendek para pemilik modal besar.
Menurut laporan Asharq Al-Awsat, penurunan harga ini adalah cerminan dari strategi besar pemerintah untuk memungkinkan warga negara memiliki rumah pertama mereka tanpa menanggung beban utang yang melumpuhkan. Berdasarkan data Otoritas Statistik Umum Arab Saudi (GASTAT), indeks harga properti nasional turun sebesar 0,7 persen pada kuartal keempat tahun 2025 dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Sektor perumahan, yang memiliki bobot tertinggi dalam indeks, menjadi motor utama penurunan ini dengan koreksi harga tahunan mencapai 2,2 persen.
Pakar real estat Khalid al-Mubayyid menekankan bahwa situasi saat ini bukanlah devaluasi atau pelemahan pasar, melainkan "koreksi harga yang sehat". Peningkatan pasokan di sektor perumahan dan regulasi yang lebih ketat telah membatasi spekulasi, menciptakan peluang yang lebih baik bagi pembeli akhir.




