Dunia Tak Aman Tanpa Greenland, Alarm Geopolitik Baru bagi Indonesia

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

DUNIA internasional seketika tersentak ketika Presiden Donald Trump, berujar: “dunia tidak akan aman kecuali Amerika Serikat menguasai Greenland”. Omongan presiden AS itu, sebagaimana dikutip pers internasional, karuan saja menggemakan masa lalu yang selama ini dianggap telah terkubur. Ini lantaran bukan sekadar lontaran spontan seorang pemimpin populis, melainkan tanda bahwa arus sejarah berbelok kembali ke logika lama: siapa kuat, dia berhak.

Sejak berakhirnya Perang Dunia II, umat manusia bersepakat menulis babak baru —bahwa kedaulatan tidak boleh diganggu, bahwa wilayah bukan lagi barang rampasan, bahwa hukum internasional menjadi pagar moral peradaban. Tetapi, di balik lapisan es Greenland, tersimpan godaan purba yang tak pernah benar-benar mati: hasrat kekuatan besar memperluas pengaruhnya ketika kesempatan strategis terbuka.

Retakan pada dinding norma global ini, menjadi pertanda bahwa dunia kembali diuji oleh naluri lama kekuasaan. Maka Trump tidak berhenti pada keinginan membeli Greenland; ia mengiringinya dengan ancaman tarif ekonomi bagi negara-negara Eropa yang menolak rencananya. Diplomasi yang dahulu diselimuti bahasa konsensus, kini berubah menjadi kalkulasi tekanan.

Ketika Denmark disebut tidak mampu melindungi Greenland dari Rusia dan Tiongkok, narasi ancaman dibangun untuk melegitimasi dominasi. Inilah pola klasik geopolitik: rasa takut dijadikan alat untuk memperoleh kendali.

Dunia menyaksikan bagaimana tatanan yang dibangun atas kesepakatan, perlahan bergeser menuju tatanan yang dibentuk oleh paksaan. Jelaslah ini bagi tatanan global, adalah preseden berbahaya. Jika penguasaan wilayah dengan tekanan kembali dianggap wajar, maka hukum internasional yang selama ini menjadi sandaran negara-negara menengah dan kecil akan melemah.

Baca juga: Niat Trump Caplok Greenland Disebut Gara-Gara Tak Dapat Nobel Perdamaian

Bagi Indonesia, gema perebutan Greenland terdengar hingga ke khatulistiwa. Perubahan geopolitik di Arktik bukan peristiwa jauh; ia menyentuh nadi kepentingan maritim Nusantara. Mencairnya es membuka jalur pelayaran utara yang berpotensi mengalihkan sebagian arus perdagangan Asia–Eropa dari Selat Malaka, salah satu urat nadi ekonomi Indonesia. Jika jalur dunia bergeser, maka posisi strategis Indonesia sebagai poros maritim ikut dipertaruhkan.

Rivalitas Amerika, Rusia, dan Tiongkok di Arktik berpotensi memicu ketegangan global yang merambat ke Indo-Pasifik, kawasan tempat Indonesia berdiri sebagai jangkar stabilitas. Maka retaknya norma kedaulatan di Greenland adalah alarm dini bagi Indonesia: bahwa hukum internasional yang melindungi wilayah dan kedaulatan bangsa tidak boleh dibiarkan runtuh.

Kisah Greenland adalah cermin bagi masa depan tatanan dunia dan sekaligus pengingat bagi Indonesia. Dunia tidak menjadi tidak aman karena Amerika belum menguasai Greenland; dunia menjadi tidak aman ketika ambisi menguasai kembali dianggap sah.

Baca juga: Greenland Tak Dijual ke AS, Trump Ancam 8 Negara Eropa dengan Tarif 25 Persen

Menentukan Masa Depan Dunia

Greenland bukan sekadar daratan berselimut es di ujung utara dunia. Ia adalah simpul strategis tempat denyut militer, ekonomi, dan perdagangan global bertemu dalam satu ruang sunyi yang selama ini luput dari perhatian. Terletak di jalur GIUK Gap—koridor antara Greenland, Islandia, dan Inggris—pulau ini menjadi gerbang utama Arktik menuju Atlantik Utara.

Dalam logika pertahanan modern, siapa pun yang menguasai Greenland memperoleh mata dan telinga yang mengawasi pergerakan kapal selam, armada laut, dan jalur udara lintas samudra. Di sanalah keseimbangan kekuatan maritim dunia dijaga, sekaligus dipertaruhkan.

Pesona Greenland juga tidak hanya terletak pada posisinya di peta pertahanan, melainkan pada perubahan iklim yang membuka takdir baru kawasan Arktik. Es yang mencair perlahan membuka Northern Sea Route, jalur pelayaran yang memangkas jarak Asia–Eropa hampir setengah dibanding rute tradisional melalui Selat Malaka dan Terusan Suez.

Sementara itu di bawah lapisan es yang tampak abadi, Greenland menyimpan kekayaan mineral tanah jarang, uranium, serta cadangan energi yang bernilai strategis. Dalam era transisi energi hijau dan industri digital, mineral tanah jarang adalah unsur kunci bagi baterai, turbin angin, kendaraan listrik, hingga sistem pertahanan modern.

Ketergantungan dunia pada pasokan China menjadikan cadangan Greenland sebagai rebutan baru dalam diplomasi sumber daya. Dengan demikian, perebutan Greenland bukan hanya soal wilayah, melainkan pertarungan atas masa depan teknologi dan kemandirian industri global.

Ketika kekuatan besar menyadari nilai Greenland, maka pulau es itu berubah dari ruang sunyi menjadi panggung perebutan pengaruh. Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok kini menatap Arktik sebagai frontier baru kekuasaan. Di titik itulah, geopolitik kembali memperlihatkan wajah lamanya: wilayah strategis selalu mengundang kompetisi, dan kompetisi selalu mengandung potensi konflik.

Greenland menjadi simbol bagaimana alam, teknologi, dan ambisi manusia bertemu dalam satu pusaran kepentingan yang sulit dikendalikan.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Baca juga: Trump: Dunia Tak Akan Aman jika AS Tak Kuasai Greenland


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
KPK Dalami Dugaan Jual-Beli Jabatan oleh Bupati Pati Sudewo di Level Atas
• 8 jam laludetik.com
thumb
Kementerian LH Dorong Mahasiswa jadi Agen Perubahan Menuju Transportasi Ramah Lingkungan
• 22 jam laluliputan6.com
thumb
Di Balik Kopi Panas: Angkringan, Ruang Sosial yang Tak Pernah Kehilangan Cerita
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Thomas Djiwandono Digadang Jadi Deputi Gubernur BI, Analis Prediksi Respons Pasar
• 5 jam laluviva.co.id
thumb
Mendes PDT Tekankan Kolaborasi Lintas Sektor untuk Entaskan Kemiskinan Desa di Kepri
• 10 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.