Waktu bagi sebagian masyarakat Jawa tidak hanya dihitung, tetapi dibaca, dirasakan, dan dimaknai. Di tengah dominasi kalender Masehi dan penanda waktu digital, pawukon merupakan sistem penanggalan tradisional Jawa yang masih digunakan oleh warga Desa Sidorejo, Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta.
Tradisi ini hadir bukan sebagai simbol masa lalu, melainkan juga sebagai pengetahuan hidup yang terus dipraktikkan dalam keseharian masyarakat.
Pawukon digunakan untuk berbagai kepentingan, mulai dari menentukan hari tanam, membaca karakter manusia berdasarkan kelahiran, hingga memahami kondisi kesehatan fisik dan batin.
Praktik ini berlangsung secara turun-temurun dan bertahan karena dipercaya mampu menjaga harmoni antara manusia dan alam. Meski tidak selalu tampak di permukaan, pawukon tetap berdenyut dalam keputusan-keputusan kecil yang diambil warga.
Salah satu sesepuh yang masih dipercaya masyarakat adalah Rohmat bin Sholiqin bin Sairah bin Ahmad Karyo bin Jopermono bin Sowiryo bin Derbonoyo bin Wongsonoyo bin Soroito Soroyono bin Jopermono(56).
Ia tinggal di Dusun Kwarakan, RT 69, Desa Sidorejo. Dalam kehidupan sosial desa, sesepuh yang kerap disapa Mbah Kemat berperan sebagai tokoh masyarakat. Selain itu, Mbah Kemat juga menjadi anggota Dewan Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo, sekaligus koordinator seni dan budaya Kecamatan Lendah.
Kepercayaan masyarakat kepada Mbah Kemat tidak muncul secara tiba-tiba. Ia dipercaya karena berperan sebagai penyimpan naskah Pawukon tinggalan leluhur, yang dikenal warga sebagai Pawukon Kiai Jotirto. Naskah ini merupakan warisan pengetahuan Jawa lama yang selama bertahun-tahun dijaga dan digunakan secara terbatas oleh kalangan tertentu di Sidorejo.
Menurut Mbah Kemat, Pawukon Kiyai Jotirto sempat dikaji secara akademik oleh Ridwan Rustamaji, S.S., salah satu mahasiswa Universitas Gadjah Mada, melalui penelitian skripsi pada tahun 2022 dari jurusan sastra. Kajian tersebut membantu membuka kembali pemahaman terhadap isi naskah pawukon, khususnya yang berkaitan dengan jamu dan perhitungan kesehatan berbasis penanggalan Jawa.
Seiring meningkatnya perhatian masyarakat, kemudian didirikan Museum Pawukon Sidorejo di Dusun Kwarakan, Desa Sidorejo, yang berfokus pada pengetahuan jamu pawukon. Dalam konteks inilah, Mbah Kemat dipercaya masyarakat untuk membantu membaca dan menjelaskan Pawukon sebagai penjaga pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.
Menurut Mbah Kemat, pawukon telah dipraktikkan sejak masa para leluhur. “Karena ini(pawukon) tradisi, sejak zaman simbah-simbah sudah dipraktikkan sampai sekarang. Turun-temurun,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pawukon bukan sekadar hitungan hari baik, melainkan juga bagian dari sistem pengetahuan Jawa yang memandang manusia sebagai bagian dari alam semesta.
Dalam pemahamannya, pawukon memiliki fungsi yang sangat luas, terutama dalam bidang kesehatan. Di dalamnya terdapat konsep jamu pawukon, yaitu ramuan yang disesuaikan dengan tanggal lahir, watak, dan kondisi fisik dan spiritual seseorang.
“Di Pawukon itu ada obat fisik, ada jamu kesehatan jiwa, dan ada yang sifatnya spiritual. Ditambah doa. Jadi semua itu saling melengkapi,” katanya.
Proses membaca pawukon membutuhkan ketelitian dan pemahaman mendalam. Jika dalam praktik medis modern dokter menanyakan jenis penyakit dan lokasi rasa sakit, pawukon justru menelusuri waktu kelahiran, hari dan pasaran sakit, serta waktu munculnya gangguan.
“Sakitnya hari apa, pasarannya apa, siang atau malam, lalu dicocokkan dengan watak alam,” jelas Mbah Kemat.
Ia menegaskan bahwa semua simbol dalam pawukon memiliki arti. Kesalahan kecil dalam perhitungan dapat berakibat pada kesimpulan yang keliru.
Selain para sesepuh, warga desa juga masih menggunakan pawukon dalam praktik sehari-hari. Mustofa (35)—warga RT 71 Dusun Kwarakan, Desa Sidorejo—mengaku telah mengenal praktik ini sejak kecil. Namun, ia baru menyadari bahwa yang digunakannya adalah ilmu pawukon sekitar lima tahun terakhir.
Mustofa mengatakan bahwa pawukon masih sangat lekat dengan kehidupan agraris. Ia kerap menggunakannya untuk menentukan waktu menanam padi dan tanaman bahan jamu.
“Belum lama saya memakai ilmu pawukon dalam penanaman padi dan bahan jamu, sekitar awal musim hujan. Dengan perhitungan itu (pawukon), kita jadi lebih siap menghadapi perubahan alam,” ujarnya.
Baginya, pawukon bukan soal mistik, melainkan cara membaca tanda-tanda alam agar manusia tidak gegabah mengambil keputusan.
Dalam kehidupan sosial, Mustofa juga menggunakan pawukon untuk kepentingan adat, terutama perhitungan hari-hari setelah kematian. Ia mengakui bahwa terkadang terjadi perbedaan pandangan antara pawukon dan pendekatan modern.
“Orang tua biasanya lebih percaya pawukon, yang muda-muda lebih ke teknologi. Kita menyikapinya dengan saling menghargai,” katanya.
Namun, Mustofa menyebut bahwa keberlanjutan pawukon menghadapi tantangan serius. Banyak orang tua yang memahami pawukon telah meninggal dunia tanpa meninggalkan penerus.
“Beberapa orang sepuh yang tau pawukon sudah meninggal, sehingga penerus penerusnya tidak mempelajari juga. Sekarang mulai ada pemuda yang mau belajar, tapi masih sedikit,” ujarnya.
Keterbatasan literasi aksara Jawa menjadi salah satu penyebab utama.
Pandangan generasi muda diwakili oleh Ilham Rozian Darmawan (23), warga RT 13 RW 00 Gerjen, Desa Sidorejo, Kecamatan Lendah, Kabupatan Kulon Progo, DI. Yogyakarta. Ilham mulai belajar pawukon sekitar tahun 2022. Ia mengaku sudah memahami cara menghitung weton, meski belum sepenuhnya memahami makna simbol-simbolnya.
Menurut Ilham, pawukon masih relevan untuk generasi sekarang, tetapi sangat bergantung pada ketertarikan individu.
“Relevan, tapi hanya untuk orang yang mau belajar,” katanya.
Ia menilai bahwa informasi pawukon di internet sering kali tidak akurat.
“Banyak yang mencari di internet, tapi artinya belum tentu benar dan belum tentu sesuai naskah aslinya,” ujarnya.
Ilham melihat budaya Jawa saat ini berada di persimpangan antara tradisi dan modernitas. Akses digital memang memudahkan pencarian informasi, tetapi tidak selalu menjamin kedalaman pemahaman. Ia berharap generasi muda dapat melihat Pawukon sebagai sumber nilai kehidupan.
“Di dalam pawukon itu bukan cuma hitungan hari, melainkan ada pelajaran hidup,” katanya.
Keberadaan pawukon di Sidorejo menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu harus tampil sebagai simbol besar untuk tetap hidup. Ia bertahan melalui praktik sederhana, keyakinan personal, dan relasi sosial yang dijaga dari generasi ke generasi.
Seperti yang disampaikan Mbah Kemat, pawukon memang belum menjadi gerakan masif, tetapi tetap hadir. “Masih hidup, tapi secara laten,” ujarnya.
Di tengah dunia yang serba cepat dan serba instan, pawukon menawarkan cara pandang lain tentang waktu. Bahwa hidup tidak hanya soal menghitung hari, tetapi juga memahami kapan harus berjalan, berhenti, dan menyesuaikan diri dengan alam.





