Menteri Perdagangan Amerika Serikat (AS) Howard Lutnick mengatakan bahwa pihaknya siap membalas ancaman tarif jika hal itu diterapkan oleh Uni Eropa. Hal ini menyusul isu terkait dengan Greenland.
Lutnick memperingatkan agar blok euro tidak membalas ancaman tarif dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Jika Uni Eropa tetap melakukan retaliasi, ia menilai eskalasi tarif balasan tidak dapat dihindari.
Baca Juga: Bursa Eropa Tertekan Ancaman Tarif Trump Soal Greenland
“Jika Uni Eropa melanjutkan retaliasi, maka kita akan kembali ke eskalasi tarif saling balas,” ujar Lutnick di World Economic Forum, dilansir Rabu (21/1).
Ia mengingatkan bahwa situasi serupa pernah terjadi ketika pemerintaha pertama kali mengenakan tarif terhadap barang-barang Uni Eropa. Nnamun akhirnya kedua pihak mencapai kesepakatan dagang.
“Jika memang harus terjadi gesekan, biarlah. Kami tahu akhirnya akan berujung pada solusi yang masuk akal,” katanya.
Adapun Lutnick mengatakan suku bunga saat ini terlalu tinggi dan menahan potensi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dari AS. Menurutnya, jika suku bunga diturunkan, ekonomi bahkan berpeluang tumbuh hingga 6%.
“Suku bunga seharusnya jauh lebih rendah agar ekonomi kami benar-benar berkembang. Saya pikir kita akan tumbuh lebih dari lima persen pendapatan domestik bruto kuartal ini, dan itu untuk ekonomi senilai US$30 Triliun,” kata.
Ia menambahkan bahwa proyeksi tersebut merupakan pandangan pribadinya.
AS sendiri diproyeksikan akan memiliki pertumbuhan ekonomi riil sebesar 2,4%. Dana Moneter Internasional (IMF) menyebut investasi kecerdasan buatan yang kuat dan prospek tarif yang lebih moderat sebagai pendorong utama.
Baca Juga: Tarif AS ke Eropa Picu Ketegangan Perdagangan, Indonesia Bisa Kena?
Namun, ketenangan perdagangan tersebut terancam buyar oleh ancaman tarif terhadap negara-negara yang menolak pengambilalihan Greenland. Hal itu akan berujung pada perang dagang dengan Uni Eropa.



