Rupiah Dekati Rp 17 Ribu, BI Proyeksi Tahan Suku Bunga 4,75 Persen Hari Ini

kumparan.com
16 jam lalu
Cover Berita

Bank Indonesia (BI) dijadwalkan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari, Rabu (21/1). Sejumlah ekonom memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 4,75 persen, dengan fokus utama menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global.

Berdasarkan data Bloomberg, pagi ini rupiah melemah 7 poin (0,04 persen) ke Rp 16.963 per Dolar AS.

Peneliti LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai tekanan inflasi yang meningkat menjelang akhir 2025 masih berada dalam rentang target BI. Ia menekankan bahwa dorongan inflasi terutama datang dari sisi penawaran komoditas pangan, sementara faktor eksternal kian menantang seiring penguatan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

“Menjelang akhir tahun 2025, inflasi cenderung meningkat, mencapai level tertinggi tahun ini pada bulan Desember, sebagian besar mencerminkan tekanan sisi penawaran pada komoditas pangan, namun tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia,” ujar Riefky kepada kumparan.

Menurutnya, meski arus masuk portofolio masih terjadi pascapemangkasan suku bunga The Fed dan sikap kebijakan BI yang tetap, tekanan eksternal belum sepenuhnya teredam. Dalam kondisi tersebut, menjaga diferensial suku bunga dinilai penting untuk menopang kepercayaan pasar dan menahan volatilitas rupiah.

“Mempertahankan suku bunga kebijakan di 4,75 persen akan membantu menjaga perbedaan suku bunga, mendukung kepercayaan pasar, dan menahan volatilitas mata uang di tengah ketidakpastian global yang terus berlanjut,” tambahnya.

Pandangan senada disampaikan Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede. Ia memproyeksikan BI akan menahan BI Rate karena tekanan pada Rupiah masih kuat dan sensitivitas pasar terhadap isu fiskal. Di sisi lain, indikator domestik belum menunjukkan urgensi pelonggaran tambahan melalui pemangkasan bunga.

“Untuk RDG BI Januari, saya memperkirakan BI akan menahan BI Rate di 4,75 persen, karena tekanan pada rupiah masih kuat dan pasar sedang sensitif terhadap kekhawatiran fiskal,” kata Josua.

Ia memaparkan, keyakinan konsumen Desember 2025 tetap berada di zona optimistis, penjualan ritel tumbuh solid, dan aktivitas industri pengolahan masih ekspansif. Dari dunia usaha, kegiatan juga relatif terjaga. Dengan kombinasi tersebut, BI dinilai akan mempertahankan suku bunga sambil memusatkan perhatian pada stabilitas nilai tukar dan ekspektasi inflasi.

Josua menambahkan, jika BI ingin memberi dukungan tambahan bagi pertumbuhan dan penyaluran kredit, langkah yang lebih aman saat rupiah melemah adalah melalui pelonggaran likuiditas dan penurunan biaya dana jangka pendek tanpa mengubah BI Rate, antara lain lewat pengaturan instrumen operasi pasar terbuka.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Penjarah Kucing Uya Kuya Divonis 6 Bulan Penjara!
• 6 jam laludetik.com
thumb
6 Pemain Chelsea yang Bisa Dipertimbangkan untuk Slot Pinjaman Asing yang Tersisa Januari Ini
• 4 jam laluharianfajar
thumb
Menhaj Ungkap Alasan Calon Petugas Haji 2026 Dilatih Semi Militer
• 12 jam laludetik.com
thumb
Iran Ancam Perang Total, Trump Sebut Bisa "Rata dengan Tanah"
• 5 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Batasi Gawai pada Murid di Sekolah, Disdik DKI: Masuk Gerbang Wajib Mode Hening dan Dikumpulkan
• 18 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.