KUPANG, KOMPAS — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem yang diperkirakan melanda seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur. Hujan dengan intensitas hingga lebat, angin kencang, serta gelombang tinggi akan terjadi selama dua hari ke depan.
Di Kota Kupang, pada Rabu (21/1/2026) awan hitam masih menggantung di langit kota itu. Gerimis mulai turun di beberapa permukiman. Angin terasa bertiup kencang dari biasanya. Banyak nelayan juga menambatkan perahu di pesisir agar aman dari gelombang pasang.
Transportasi laut juga lumpuh. Kapal-kapal kecil yang berukuran di bawah 2.000 gros ton dilarang berlayar. Hanya kapal penumpang milik PT Pelni berkapasitas belasan ribu gros ton yang boleh beroperasi.
Akan tetapi, sejauh ini, aktivitas penerbangan terpantau lancar. Pesawat datang dan pergi di Bandara El Tari Kupang.
Sejumlah warga yang ditemui mengaku sudah mendapat informasi mengenai potensi cuaca ekstrem itu. Mereka mengantisipasinya dengan memeriksa kembali atap rumah. Warga juga memastikan tidak ada pohon besar di dekat rumah yang berpotensi merusak.
”Kami trauma dengan Seroja (siklon tropis Seroja pada April 2021). Waktu itu, kami anggap peringatan dari BMKG itu biasa saja. Kami tidak terlalu peduli. Hasilnya, kami kewalahan menghadapi badai itu. Seperti mau kiamat,” kata Yusuf Koroh (50), warga Kelurahan Bello.
Badai Seroja melumpuhkan NTT. Sebanyak 181 orang tewas dan 49.512 jiwa lainnya terdampak.
Selain itu, 47 orang dinyatakan hilang. Sebanyak 250 orang luka-luka. Rumah rusak berat 17.124 unit, rusak sedang 13.652 unit, dan rusak ringan 35.733 unit.
Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang Sti Nenot’ek mengatakan, hampir seluruh wilayah NTT berpotensi dilanda cuaca ekstrem. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat serta angin kencang akan terjadi hingga 23 Januari mendatang.
Cuaca ekstrem ini terjadi lantaran adanya bibit siklon tropis 97S di selatan NTT yang berpotensi menjadi siklon tropis. Akibatnya, terbentuk belokan, pertemuan, dan perlambatan kecepatan angin di wilayah NTT. Hujan deras disertai petir dan angin kencang terjadi dalam durasi singkat.
Sti memastikan, dampak siklon tropis 97S berbeda dengan Siklon Tropis Seroja 2021. Siklon Tropis 97S berada jauh di luar wilayah NTT. Dengan demikian, NTT terdampak tidak langsung. Masyarakat diminta waspada, tetapi tidak panik.
Serial Artikel
Cuaca Buruk di Labuan Bajo, Kapal Wisata Berhenti Beroperasi
Aktivitas wisata di Labuan Bajo terganggu cuaca buruk. Saat ini, semua daerah di NTT dilanda hal serupa.
Di kampung nelayan Oesapa, Kota Kupang, perahu motor disimpan warga di balik hutan mangrove. Tujuannya, menghindari terjangan gelombang pasang.
Sejauh ini, lebih dari satu minggu, nelayan tidak melaut. Pasokan ikan di sejumlah pasar juga berkurang, bahkan ada yang kosong.
Harga ikan pun melambung. Tuna kecil dengan bobot kurang dari satu kilogram dijual dengan harga Rp 60.000. Normalnya, ikan seperti itu dijual Rp 20.000 per ekor.
”Ikan yang dijual itu pun kebanyakan lama. Ada nelayan yang punya stok di freezer. Tidak ada ikan segar di pasar. Sekitar satu minggu ke depan, baru bisa melaut lagi,” kata Erik (30), nelayan setempat.
Mansyur Dokeng (44), tokoh masyarakat di kampung nelayan Oesapa, mengimbau masyarakat untuk siaga menghadapi kondisi terburuk. Semua dokumen penting serta harta benda yang bisa dipikul agar disimpan di tempat khusus.
Hal yang paling mereka khawatirkan adalah angin kencang dan banjir rob ketika air laut pasang maksimum. Rumah mereka berada di mulut teluk yang siap menerima aliran angin kencang dan hantaman gelombang pasang.
Mansyur yang pernah ikut sekolah cuaca itu telah membentuk pos pemantauan. Secara bergantian, para pemuda ditugasi memantau perkembangan cuaca secara visual dan laporan dari BMKG.
Serial Artikel
Siasat Bertahan Kala Iklim Berubah
Berbagai siasat dilakukan untuk bertahan di tengah iklim yang berubah. Masyarakat diingatkan agar bergerak lewat berbagai aksi.



