FAJAR, MAKASSAR – Post Mortem salah satu korban Pesawat ATR 42-500 telah selesai. Korban kedua yang ditemukan Tim SAR Gabungan berhasil teridentifikasi.
Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan, Polda Sulsel, Kombes Pol dr Muhammad Haris mengumumkan identitas korban. Terkonfirmasi bahwa korban tersebut benar adalah pramugari (kru) ATR 42-500.
“Jenazah dengan nomor post mortem 62B.01 cocok dengan antemortem nomor AM004 teridentifikasi sebagai Florencia Lolita Wibisono,” ujar dr Muhammad Haris dalam konferensi pers di Kantor Biddokkes Polda Sulsel pada Rabu, 21 Januari.
Florencia Lolita Wibisono berumur 33 tahun. Dengan alamat di Alamat OAK Tower A Unit 216 Pulo Gadung, Jakarta Timur. Identifikasi dilakukan pada sidik jari, data gigi, properti dan ciri medis.
Sementara itu, korban pertama Pesawat ATR 42-500 berhasil dievakuasi oleh Tim SAR gabungan melalui jalur udara dari Kampung Lampeso, Desa Rompegading, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros, Rabu pagi, 21 Januari.
Evakuasi dilakukan menggunakan helikopter AS 365 N3+ Dauphin milik Basarnas Makassar setelah kondisi cuaca di lokasi kejadian dinyatakan mendukung.
Kepala Seksi Operasional Basarnas Makassar, Andi Sultan, mengatakan proses evakuasi dapat berjalan lancar karena cuaca cerah sejak pagi hari.
“Alhamdulillah, cuaca hari ini mendukung untuk dilakukan evakuasi,” katanya.
Helikopter Dauphin Basarnas diberangkatkan dari Lampeso pada pukul 07.47 Wita.
Dua menit kemudian, helikopter dengan nomor registrasi HR-3601 itu lepas landas dari titik evakuasi.
Proses pengangkatan jenazah menggunakan metode hoist dilakukan pada pukul 07.59 Wita.
Selanjutnya, helikopter bertolak menuju Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar.
Helikopter yang diawaki Pilot Kapt. Andro dan Kapt. Virnanda serta Lettu Vicky itu mendarat dengan aman di Lanud Sultan Hasanuddin sekitar pukul 08.15 Wita.
“Heli AS 365 N3+ Dauphin (HR-3601) telah landing dengan aman setelah melaksanakan evakuasi jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500,” jelasnya.
Setibanya di Lanud Sultan Hasanuddin, jenazah korban langsung diserahkan kepada Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulsel untuk proses identifikasi lebih lanjut. (uca)



