TABLOIDBINTANG.COM - Rasa gemetar, telapak tangan berkeringat, perut terasa tidak nyaman, hingga sensasi gelisah menyeluruh kerap muncul saat seseorang diliputi kekhawatiran, kecemasan, atau rasa deg-degan. Kondisi ini biasanya muncul ketika harus menghadapi situasi penting, seperti berbicara di depan umum, tampil di hadapan banyak orang, atau mengambil keputusan besar.
Gangguan kecemasan sendiri merupakan salah satu penyakit mental yang paling sering dialami. Kondisi ini dapat memicu ketegangan, pikiran berlebihan, serta perubahan fisik yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Menurut laporan Greatist, sekitar 40 juta orang dewasa diketahui mengalami gangguan kecemasan dalam berbagai tingkat.
Selama ini, menenangkan diri sering disebut sebagai solusi utama untuk menghadapi kecemasan. Sayangnya, bagi banyak orang, anjuran tersebut lebih mudah diucapkan dibandingkan dipraktikkan. Dalam situasi tertentu, upaya untuk memaksa diri agar tenang justru bisa menambah tekanan.
Menariknya, sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Experimental Psychology mengungkap pendekatan berbeda dalam mengelola rasa cemas. Penelitian tersebut menemukan bahwa individu yang mampu mengubah perasaan cemas menjadi kegembiraan menunjukkan performa yang lebih baik, baik saat bernyanyi, berbicara di depan umum, maupun menjawab pertanyaan sulit.
Alih-alih merayu diri agar tenang, berbicara pada diri sendiri dengan kalimat sederhana seperti “Saya gembira” terbukti membantu menggeser pola pikir negatif menjadi lebih positif. Perubahan sudut pandang ini membuat tubuh dan pikiran lebih siap menghadapi tantangan, sehingga hasil yang ditampilkan pun menjadi lebih optimal.
Pendekatan ini dapat diterapkan dalam berbagai situasi, mulai dari presentasi penting, tampil di depan banyak orang, hingga mengungkapkan perasaan kepada orang lain. Dengan mengolah kecemasan menjadi energi kegembiraan, perasaan tegang dapat berubah menjadi dorongan yang menyenangkan dan bermanfaat untuk berinteraksi serta berkembang dalam berbagai aspek kehidupan.




