TANGERANG, KOMPAS.com - Lorong-lorong Pasar Cipadu, Larangan, Kota Tangerang, kini tak lagi seramai dulu.
Pasar yang pernah menjadi pusat perniagaan kain dan pakaian di Tangerang itu perlahan kehilangan denyutnya sejak pandemi Covid-19 melanda.
Di balik kios-kios yang mulai tertutup, tersimpan kisah pedagang yang hidupnya ikut berbalik arah sejak Covid-19 masuk ke Indonesia pada 2020.
Baca juga: Ada Galian di Bintaro Permai, Kemacetan Mengular hingga Jembatan Layang
Salah satunya, Mukhlis (50), pedagang kain di Toko Sabana Textile. Ia mengingat betul bagaimana pandemi menjadi awal kemerosotan usahanya.
Pasalnya, sebelum Covid-19 datang, ada empat toko kain yang dikelolanya di Pasar Cipadu. Kini, toko yang masih bertahan hanya tersisa dua.
"Dulu toko ada empat, sekarang tinggal dua. Abis corona itu, penjualan separuh benar-benar menghilang," ujar Mukhlis saat ditemui Kompas.com di kiosnya, Jalan KH Wahid Hasyim Cipadu, Kota Tangerang, Selasa (20/1/2026).
KOMPAS.com/INTAN AFRIDA RAFNI Potret pedagang Pasar Cipadu yang menunggu pembeli sambil mengobrol dengan tetangga kiosnya pada Selasa (20/1/2026).
Usaha tekstil yang telah dirintis keluarganya sejak awal 2000 itu dulu begitu ramai. Banyak pelanggan datang dari luar pulau untuk membeli kain di kiosnya, bahkan parkiran di depan kios sempat padat oleh mobil pembeli.
Proses tawar-menawar yang nyaris tak pernah berhenti juga sempat menjadi rutinitas sehari-hari.
Namun, suasana itu berubah drastis sejak pandemi. Omzet menurun, pelanggan banyak yang tak lagi muncul, padahal produk kain yang dijual tetap sama seperti saat kios berdiri.
“Dulu sebelum corona bisa dapat Rp 20 juta sampai Rp 30 juta. Sekarang cari Rp 10 juta saja susah,” kata Mukhlis.
Baca juga: Anggaran Antisipasi Banjir dan Cuaca Buruk di Jakarta Tak Dipangkas
Penurunan omzet memaksa Mukhlis menutup dua toko lainnya dan mengurangi jumlah karyawan. Kini, ia hanya bertahan dengan pelanggan lama, terutama pelaku konveksi yang membeli kain untuk seragam.
“Kalau konveksi dapat order, mereka belanja. Kalau enggak, ya kita nunggu. Sekarang sehari paling rame 15 orang yang datang,” cerita dia.
Berbeda dengan Mukhlis yang perlahan mengecilkan usaha, Annisa (50), pedagang pakaian di Pasar Cipadu, merasakan pandemi sebagai guncangan besar yang merembet ke seluruh sendi kehidupannya.
Perempuan yang telah berdagang di Cipadu sejak tahun 2000 itu pernah memiliki 12 toko dengan sembilan karyawan. Kini, yang tersisa hanya enam toko dengan tiga pekerja.