JAKARTA, KOMPAS - Pemerintah Provinsi Jakarta menambah 32 unit bus sekolah ramah disabilitas untuk lima rute baru. Dengan penambahan armada ini, bus ditargetkan dapat melayani hingga 41.000 siswa di Jakarta setiap harinya.
Puluhan bus berwarna kuning cerah, berukuran mikro hingga medium itu, terparkir di halaman Balai Kota Jakarta pada Rabu (21/1/2026). Di sisi bodinya, terdapat ilustrasi pelajar berpadu dengan ikon-ikon khas Jakarta.
Saat pintu samping terbuka, wheelchair lift hidrolik perlahan diturunkan hingga menyentuh aspal. Platform besi berlapis antiselip ini dilengkapi pegangan tangan kuning di sisi kanan dan kiri agar pengguna kursi roda bisa naik dan turun dengan aman.
Di dalam bus, ruang tengah dibuat lapang tanpa kursi. Kursi hadap-hadapan di sisi kanan dan kiri bus. Kursi hadap-hadapan ditempatkan di sisi kanan dan kiri, juga di bagian belakang. Deretan kursi berwarna cokelat muda ini dilengkapi sandaran kepala dan sabuk pengaman.
Lantai bus dibuat rata dengan motif kayu agar kursi roda mudah bergerak. Sementara itu, jalur pemandu (guiding block) berwarna kuning membentang dari pintu hingga ke bagian belakang sebagai penunjuk jalan siswa tunanetra.
Kemudian, di beberapa titik lantai terdapat pengait logam untuk mengunci kursi roda agar tidak bergeser selama perjalanan. Pegangan tangan segitiga berwarna kuning juga terpasang di langit-langit bus. Bus juga dilengkapi emergency kit dan kamera pengawas.
Gubernur Jakarta Pramono Anung mengatakan, penambahan bus ini merupakan langkah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta untuk memastikan hak pendidikan bagi seluruh anak, termasuk siswa berkebutuhan khusus, dengan layanan yang sepenuhnya gratis.
”Jakarta sebagai kota global dan inklusif harus menjadi kota yang ramah disabilitas. Mudah-mudahan fasilitas bus ini bisa membantu anak-anak kita untuk meraih cita-citanya,” ujarnya di Balai Kota Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Pramono turut mendampingi sejumlah siswa mencoba bus ramah disabilitas, sambil mendorong kursi roda salah satu siswa SD dari pendopo Balai Kota hingga masuk ke dalam bus.
Ia mengatakan, 32 bus baru ini akan melayani lima rute baru dan menambah lima rute yang sudah ada, sehingga total ada 10 rute angkutan sekolah ramah disabilitas di Jakarta. Semua rute ini difokuskan untuk mempermudah akses siswa penyandang disabilitas ke sekolah luar biasa (SLB) dan wilayah pemukiman mereka.
Menurut Pramono, program ini bukan sekadar soal transportasi, tetapi tentang memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar.
”Pendidikan adalah hak setiap anak bangsa, dan pemerintah berkewajiban memfasilitasi agar anak-anak kita bisa meraih mimpinya,” katanya.
Ia berharap, dengan layanan bus yang aman, nyaman, dan ramah disabilitas, perjalanan menuju sekolah tidak lagi menjadi hambatan, melainkan bagian dari langkah anak-anak Jakarta menuju masa depan yang lebih cerah.
”Saya mendoakan agar anak-anakku sekalian bisa belajar sebaik-baiknya, setinggi-tingginya, dan mendapatkan kemudahan penuh berkah untuk menjadi anak yang berbakti, bermanfaat, dan berguna bagi nusa dan bangsa,” ujar Pramono.
Kepala Dinas Perhubungan Jakarta Syafrin Liputo mengatakan, 32 armada baru terdiri dari 13 mikro bus dan 19 bus medium, yang seluruhnya telah diuji coba operasional. Pengadaan bus ini masih bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Jakarta tahun 2025.
”Penambahan armada ini bertujuan menjangkau lima sekolah luar biasa tambahan di berbagai wilayah Jakarta, sehingga peserta didik penyandang disabilitas dapat menikmati akses transportasi yang aman dan nyaman,” ujar Syafrin dalam kesempatan yang sama, Rabu.
Lima rute baru ini meliputi Rute Reguler 32 (Yayasan Pendidikan Anak Cacat–Ciledug), Rute Zonasi 12 (Rusun Rawa Bebek–Rorotan–SLB Karya Mulia), Rute Zonasi 16 (BNN Cawang–Cipinang via Jatinegara–SLB Karya Guna), Rute Zonasi 17 (Kampung Rambutan–Lebak Bulus–SLBN 01 Jakarta–SLBA Pembina Tingkat Nasional), serta Rute Zonasi 18 (Permata Hijau–Lebak Bulus–SLBN 1 Jakarta–SLBA Pembina Tingkat Nasional).
Bus ukuran medium memiliki 13 tempat duduk, yaitu empat kursi khusus untuk pengguna kursi roda dan sembilan kursi penumpang biasa.
Sementara itu, mikro bus memiliki total sembilan tempat duduk, terdiri dari dua kursi untuk pengguna ursi roda dan tujuh kursi penumpang biasa. Setiap bus dilengkapi wheelchair lift hidrolik dan petugas pendamping yang membantu siswa naik-turun bus.
Layanan bus sekolah ramah disabilitas sudah berjalan sejak 2007. Saat ini, Dinas Perhubungan Jakarta mengelola 230 bus sekolah yang ditargetkan melayani sekitar 41.000 siswa setiap hari, mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMA.
”Bus sekolah ini beroperasi mulai pukul 04.30 sampai 19.00 WIB,” kata Syafrin.
Salah satu guru di Jakarta, Ani (42), menyambut positif penambahan bus sekolah ramah disabilitas yang baru diluncurkan Pemprov Jakarta. Menurut dia, layanan transportasi ini menjadi solusi penting bagi siswa berkebutuhan khusus yang selama ini menghadapi kesulitan mobilitas.
”Ini sangat membantu, terutama bagi anak-anak yang sebelumnya kesulitan mencapai sekolah sendiri,” ujarnya.
Ia berharap, keberadaan bus ini bisa mendorong siswa lebih mandiri dan percaya diri. Dengan akses transportasi yang lebih mudah, Ani yakin anak-anak akan lebih termotivasi untuk hadir tepat waktu dan mengikuti kegiatan belajar dengan nyaman.
Selain itu, Ani menekankan pentingnya kontinuitas layanan ini. Menurut dia, ketersediaan armada yang cukup dan pengelolaan yang baik akan memastikan semua siswa berkebutuhan khusus di berbagai wilayah Jakarta bisa merasakan manfaatnya secara merata.
Program ini juga diharapkan tidak hanya berhenti pada transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya Jakarta menjadi kota yang inklusif.




