World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos dibuka dengan suasana yang jauh dari sekadar urusan ekonomi. Sejak hari pertama, hampir semua percakapan berujung pada satu nama: Donald Trump. Beberapa pekan setelah Washington menyerang Caracas, menangkap pemimpin kontroversial negara itu, dan kembali mengangkat ambisi menguasai Greenland, kehadiran Trump langsung mengubah suasana forum tahunan ini.
Ancaman tarif baru Amerika Serikat (AS) terhadap Uni Eropa (UE), yang dikaitkan dengan penolakan Eropa atas rencana AS terkait Greenland, mendorong isu perdagangan dan kedaulatan wilayah ke panggung utama Davos. Forum yang biasanya dipenuhi diskusi pertumbuhan ekonomi dan teknologi kini menjadi arena adu sikap politik terbuka antara sekutu lama di Atlantik.
Komisi Eropa: Tarif AS adalah kesalahanPresiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyampaikan pesan paling jelas. Ia menyebut rencana tarif baru AS terhadap Uni Eropa sebagai langkah keliru, terutama karena kedua pihak baru saja menyepakati perjanjian dagang pada Juli lalu.
"Uni Eropa dan Amerika Serikat sudah sepakat. Dalam politik seperti dalam bisnis, kesepakatan tetaplah kesepakatan. Ketika sahabat berjabat tangan, itu harus punya arti," ujarnya di Davos.
Jika tekanan berlanjut, ia menegaskan respons Uni Eropa akan "tegas, bersatu, dan proporsional".
Meski demikian, von der Leyen berupaya meredam eskalasi. Ia menekankan komitmen Eropa terhadap keamanan kawasan Arktik dan menyebut kepentingan strategis Uni Eropa sejalan dengan AS. Finlandia, anggota NATO terbaru, mulai menjual kapal pemecah es ke Amerika Serikat.
"Ini menunjukkan kami punya kapasitas di wilayah es," katanya, seraya mendorong agar pembangunan armada pemecah es menjadi bagian dari lonjakan belanja pertahanan Eropa.
Di sela-sela forum, von der Leyen kembali menegaskan perlunya menghormati sepenuhnya kedaulatan Greenland dan Denmark. Ia juga mengingatkan bahwa isu ini menyentuh inti hubungan transatlantik.
"Tarif bertentangan dengan kepentingan bersama kita," tambahnya, merujuk pada ancaman tarif Trump terhadap sejumlah negara Eropa.
Washington meremehkan keteganganMenteri Keuangan AS Scott Bessent menilai ketegangan soal Greenland terlalu dini untuk dibesar-besarkan.
"Ini baru 48 jam. Santai saja," katanya kepada wartawan di Davos. "Saya yakin para pemimpin tidak akan memperkeruh keadaan dan ini akan berakhir dengan baik bagi semua."
Bessent menyebut hubungan AS dan Eropa "tidak pernah sedekat ini", meski Trump mengancam tarif terhadap sekutu Eropa yang menolak pengambilalihan Greenland. Uni Eropa sendiri bersiap membahas opsi balasan, termasuk tarif atas impor AS senilai €93 miliar (sekitar Rp1.848,9 triliun).
Macron: Eropa tak bisa tundukPidato paling keras datang dari Presiden Prancis Emmanuel Macron. Ia membuka dengan candaan tentang "masa damai dan stabil", sebelum menegaskan bahwa dunia justru bergerak ke arah sebaliknya.
"Kita memasuki masa ketidakstabilan dan ketimpangan," katanya, merujuk pada perang di Ukraina, pergeseran menuju otokrasi, dan konflik global yang meluas.
Macron menyebut ancaman sanksi dan tarif AS "tidak bisa diterima", terlebih jika dijadikan alat tekanan atas kedaulatan wilayah. Ia menolak dua pendekatan ekstrem: menerima begitu saja "hukum pihak terkuat" yang ia samakan dengan pendekatan kolonial baru, atau bersikap moralistis tanpa daya.
"Kami memilih multilateralisme yang efektif," ujarnya.
Menutup pidatonya, Macron menyampaikan kalimat yang langsung menjadi kutipan utama Davos.
"Kami lebih memilih rasa hormat daripada para perundungan. Kami lebih memilih sains daripada teori konspirasi. Kami lebih memilih supremasi hukum daripada kebrutalan."
Davos menunggu pidato TrumpDi Davos, dua topik paling sering terdengar adalah akal imitas (AI) dan Trump. Billboard teknologi mutakhir, termasuk agentic AI, memenuhi ruang publik. Namun di balik jargon teknologi, perhatian utama tetap tertuju pada pidato Trump yang dijadwalkan Rabu (21/01).
Sejumlah delegasi mengaku mengatur ulang agenda demi mendengar langsung apa yang akan disampaikan Presiden Trump. Ada suasana tegang dan penuh antisipasi, mengingat pidato itu datang di tengah ancaman tarif dan sengketa Greenland yang memicu reaksi keras Eropa.
Kehadiran negara-negara berkembang juga menonjol. India membuka paviliun terbesarnya sepanjang sejarah Davos. Indonesia, Filipina, Nigeria, dan Afrika Selatan memamerkan peluang investasi, sementara negara-negara Teluk tampil dengan kehadiran besar. Meski begitu, sorotan tetap kembali ke satu figur: Trump.
Merz: Kepentingan Eropa akan dibelaKanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan ia memperkirakan akan bertemu Trump di Davos. Isu Greenland, menurutnya, hampir pasti masuk agenda.
"Saya tidak ingin melakukannya, tapi jika memang perlu, tentu kami akan membela kepentingan Eropa dan kepentingan nasional Jerman," ujarnya.
Merz mengakui pentingnya Greenland secara strategis, tetapi menilai narasi ancaman saat ini berlebihan. Ia mengingatkan bahwa pada masa Perang Dingin, AS pernah menempatkan lebih dari 30.000 tentara di Greenland.
"Sekarang jumlahnya kurang dari 200. Artinya, analisis ancaman tidak sedramatis yang digambarkan saat ini, meski situasinya bisa berubah," jelas Merz.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rivi Satrianegara
Editor: Hani Anggraini
width="1" height="1" />
(ita/ita)





