Hari ke-23 Protes Nasional Iran: Darah Mengalir, Internet Diputus, Rezim Saling Menangkap

erabaru.net
7 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Gelombang aksi protes nasional di Iran kini telah memasuki hari ke-23, menandai salah satu periode gejolak politik terpanjang dan paling intens dalam sejarah Republik Islam. Di tengah tekanan publik yang terus membesar, pemerintah Iran memilih mempertahankan pendekatan represif, sembari memperketat kontrol keamanan dan pemblokiran informasi secara nasional.

Namun, situasi terbaru menunjukkan bahwa ancaman terbesar bagi rezim tidak lagi datang semata dari jalanan, melainkan dari retakan serius di dalam lingkaran elite kekuasaan sendiri.

Korban Jiwa Terus Bertambah, Penindakan Diperluas ke Berbagai Provinsi

Berdasarkan data terbaru dari seorang direktur lembaga hak asasi manusia dan komunikasi sosial yang berbasis di Amerika Serikat, hingga pertengahan Januari 2026 telah 4.029 korban jiwa terkonfirmasi, sementara 9.049 kematian lainnya masih dalam proses verifikasi. Angka ini menjadikan krisis Iran sebagai salah satu penindasan sipil paling mematikan dalam dekade terakhir.

Menurut laporan Epoch Times pada 19 Januari 2026, sejumlah kota besar dan kecil di Iran masih berada dalam status siaga tinggi. Aparat keamanan dikerahkan secara masif di jalan-jalan utama, pusat transportasi, serta kawasan pemukiman, dengan pos pemeriksaan dan patroli bergerak diberlakukan hampir tanpa henti.

Organisasi HAM melaporkan bahwa penangkapan massal terjadi di wilayah Rafsanjan dan Sirjan, Provinsi Kerman Selatan. Sementara itu, dari Kota Marivan dan Malard, beredar video yang memperlihatkan penahanan sewenang-wenang dan pengakuan paksa terhadap warga sipil—rekaman yang semakin memperkuat tuduhan pelanggaran HAM sistematis.

Internet Diputus Lebih dari 10 Hari, Iran Diduga Uji Sistem Jaringan Tertutup

Pemutusan jaringan internet nasional Iran kini telah berlangsung lebih dari 10 hari berturut-turut. Data pemantauan global menunjukkan konektivitas Iran ke internet internasional berada pada titik terendah.

Meski sempat terdeteksi koneksi singkat dan sporadis, para analis menilai hal tersebut bukan pemulihan nyata, melainkan uji coba terbatas.

Lembaga pemantau internet NetBlocks menyatakan bahwa pemerintah Iran kemungkinan sedang menguji sistem jaringan domestik tertutup dengan penyaringan ekstrem. Jika sistem ini diterapkan sepenuhnya, masyarakat Iran hampir sepenuhnya akan terisolasi dari platform dan informasi global.

Media Israel: Mantan Presiden dan Menlu Iran Ditangkap IRGC

Situasi semakin memanas setelah media Israel mengungkapkan dugaan konflik internal tingkat tinggi di tubuh rezim Iran.

Menurut laporan eksklusif Channel 14 pada 20 Januari 2026, mantan Presiden Iran, Hassan Rouhani dan mantan Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif dilaporkan telah ditahan oleh Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Sumber Channel 14 menyebutkan bahwa Zarif diduga beberapa kali melakukan kontak rahasia dengan Reza Pahlavi, putra mahkota Iran di pengasingan, selama gelombang protes nasional berlangsung. Informasi mengenai komunikasi tersebut dikabarkan telah disampaikan Zarif kepada Hassan Rouhani.

Namun, rencana itu diduga terbongkar, memicu langkah cepat IRGC untuk mengamankan dua figur kunci kubu reformis.

Pertarungan Faksi: Reformis vs Garis Keras

Analisis media menilai bahwa Rouhani dan Zarif berasal dari kubu reformis, yang selama bertahun-tahun mendorong pelonggaran hubungan dengan Barat dan menentang kebijakan ultra-konservatif. Konflik ideologis mereka dengan faksi garis keras diyakini telah berlangsung lama, sehingga keduanya kemungkinan sudah berada di bawah pengawasan ketat sejak awal gelombang protes.

Laporan tersebut juga menyinggung posisi Presiden Iran saat ini, Masoud Pezeshkian, yang dikenal sebagai figur moderat dan memiliki kedekatan politik dengan Rouhani dan Zarif. Tak tertutup kemungkinan bahwa dia mengetahui adanya komunikasi tersebut, meski belum ada bukti keterlibatan langsung.

Terlepas dari apakah kontak itu mencakup rencana pembentukan pemerintahan transisi atau tidak, para pengamat sepakat bahwa penangkapan elite oleh rezim sendiri merupakan sinyal krisis internal yang sangat serius.

Seorang warganet menulis: “Ketika Garda Revolusi mulai menangkap orangnya sendiri, itu berarti yang paling ditakuti rezim bukan lagi demonstrasi, melainkan pembelotan dari dalam.”

Komentar lain menyindir: “Ini seperti tentara AS sudah di gerbang Beijing, lalu elite lama diam-diam mencari jalan menyerah—tapi keburu ditangkap.”

Isu Wartawan CCTV Dipukuli Viral di Media Sosial Tiongkok

Di sisi lain, dinamika Iran juga memicu resonansi internasional, termasuk di Tiongkok.

Dalam beberapa hari terakhir, sebuah video di platform Douyin mengklaim bahwa seorang wartawan CCTV dipukuli oleh demonstran Iran, dengan peralatan liputannya dirusak. Video tersebut dengan cepat dihapus, namun pencarian kata kunci “wartawan Tiongkok di Iran” masih menunjukkan lonjakan aktivitas.

Menariknya, meski wartawan CCTV kerap dicap warganet sebagai “corong propaganda PKT”, kabar pemukulan tersebut justru dipercaya luas. Kolom komentar dipenuhi sindiran tajam, antara lain:

Menuju Titik Kritis

Memasuki hari ke-23, krisis Iran kini berada di persimpangan berbahaya: tekanan jalanan belum mereda, korban terus bertambah, internet dibungkam, dan—yang paling krusial—retakan di tubuh elite rezim semakin nyata.

Banyak analis menilai bahwa ketika kekuasaan mulai kehilangan kepercayaan terhadap orang-orangnya sendiri, maka krisis telah melampaui fase demonstrasi dan memasuki tahap eksistensial bagi rezim.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Iran akan berubah, melainkan seberapa cepat dan seberapa keras perubahan itu akan terjadi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Edukasi Ramah Anak, BPBD Ponorogo Ajarkan Kesiapsiagaan Bencana ke Siswa PAUD
• 5 jam laluberitajatim.com
thumb
Bahlil Setujui Penetapan 301 Blok jadi Wilayah Pertambangan Rakyat di Sumbar
• 2 jam lalubisnis.com
thumb
Kemlu: Partisipasi RI di Board of Peace Bentukan Trump Sejalan Bebas Aktif
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Korban Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 Berhasil Diidentifikasi, Pramugari Florencia Lolita Wibisono
• 10 jam lalugrid.id
thumb
Cara Mengurus Balik Nama Sertifikat Rumah di BPN Tanpa Notaris, Ini Persyaratannya
• 42 menit lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.