Perhatian dunia tertuju ke Pangkalan Angkatan Luar Angkasa Vandenberg di California, AS, pada 11 Januari 2026. Dari lokasi yang dijaga ketat itu, sebuah roket Falcon 9 milik SpaceX melesat ke orbit membawa Pandora, teleskop exoplanet terbaru NASA. Peluncuran ini menjadi momen penting dalam upaya manusia memahami planet-planet di luar Tata Surya.
Exoplanet adalah planet yang mengorbit bintang selain Matahari. Mengamatinya bukan perkara mudah. Dari Bumi, exoplanet hanya tampak sebagai titik sangat redup yang berada tepat di sebelah bintang induknya, bintang yang cahayanya bisa jutaan hingga miliaran kali lebih terang, sehingga menenggelamkan pantulan cahaya dari planet tersebut. Di sinilah peran Pandora menjadi krusial.
Pandora dirancang untuk melengkapi kemampuan Teleskop Luar Angkasa James Webb, yang lebih dulu beroperasi. Jika Webb menjadi alat utama NASA untuk mengamati exoplanet dan bintangnya, Pandora hadir sebagai pendamping yang membantu membersihkan gangguan dalam data pengamatan, sehingga para ilmuwan bisa membaca sinyal dari planet jauh itu dengan lebih akurat.
Cara Astronom Intip Atmosfer Planet AsingUntuk mempelajari atmosfer exoplanet, astronom memiliki satu trik utama, yakni mengamati planet saat melintas di depan bintang induknya. Ketika itu terjadi, sebagian cahaya bintang akan melewati atmosfer planet sebelum sampai ke teleskop.
Prinsipnya mirip seperti menyorotkan lilin ke segelas anggur merah. Cahaya yang menembus cairan akan membawa informasi detail tentang kualitas anggur tersebut. Begitu pula dengan cahaya bintang yang difilter oleh atmosfer planet, dari situ ilmuwan bisa mendeteksi uap air, hidrogen, awan, bahkan kemungkinan tanda-tanda kehidupan.
Metode ini berkembang pesat sejak 2002 dan membuka jendela baru untuk menjelajahi dunia-dunia asing. Namun, seiring waktu, masalah mulai muncul.
Sejak sekitar 2007, astronom menyadari bahwa permukaan bintang tidaklah bersih. Artinya, banyak bintang memiliki bintik gelap (starspots) dan wilayah aktif yang lebih terang akibat aktivitas magnetik. Gangguan inilah yang bisa merusak pengukuran transit planet.
Serangkaian studi pada 2018–2019 menunjukkan bahwa bintik bintang dan area aktif tersebut dapat menyesatkan analisis atmosfer exoplanet. Masalah ini kemudian dikenal sebagai transit light source effect. Lebih rumit lagi, sebagian bintang juga mengandung uap air di lapisan atasnya, terutama di area bintik yang bisa disalahartikan sebagai uap air di atmosfer planet.
Dengan kata lain, para astronom seolah mencoba menilai kualitas anggur di bawah cahaya lilin yang berkedip dan tidak stabil.
Lahirnya PandoraKekhawatiran itulah yang kemudian melahirkan Pandora. Pada 2018, NASA menginisiasi gagasan untuk membangun teleskop luar angkasa yang secara khusus mempelajari variasi dan kontaminasi dari bintang induk. Tujuannya,: membantu James Webb agar bisa bekerja maksimal.
Pandora menjadi misi yang tidak biasa bagi NASA. Teleskop ini dibangun lebih cepat dan dengan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan misi luar angkasa pada umumnya. Konsekuensinya, desain teleskop dibuat sederhana dengan menerima risiko yang sedikit lebih tinggi.
Meski lebih kecil dari Webb dan tidak mampu mengumpulkan cahaya sebanyak kakaknya, Pandora memiliki keunggulan unik.
Pandora dirancang untuk memantau bintang secara intens. Dengan kamera cahaya tampak dan inframerah, teleskop ini akan mengamati satu bintang hingga 24 jam penuh untuk merekam perubahan halus pada kecerlangan dan warnanya.
Saat wilayah aktif bintang berputar masuk dan keluar dari pandangan, atau ketika bintik bintang terbentuk, berkembang, lalu menghilang, Pandora akan mencatat semuanya. Berbeda dengan James Webb yang jarang kembali mengamati bintang yang sama dalam konfigurasi instrumen serupa, Pandora justru akan memantau bintang targetnya hingga 10 kali dalam setahun, dengan total waktu pengamatan lebih dari 200 jam per bintang.
Data inilah yang akan membantu para ilmuwan memahami bagaimana perubahan pada bintang memengaruhi sinyal transit planet. Pandora juga akan mengamati peristiwa transit itu sendiri. Ketika data Pandora digabungkan dengan data James Webb, gambaran tentang komposisi atmosfer exoplanet akan menjadi jauh lebih jelas dan detail dibanding sebelumnya.
Setelah peluncuran yang sukses, Pandora kini mengorbit Bumi setiap sekitar 90 menit. Seluruh sistemnya sedang diuji secara menyeluruh sebelum masuk ke fase operasi penuh.
Sekitar sepekan setelah peluncuran, kendali wahana ini akan dialihkan ke pusat operasi misi di University of Arizona. Dari sanalah para peneliti mulai bekerja, menangkap cahaya bintang yang telah melewati atmosfer planet jauh, dan melihat dunia lain secara lebih jernih dan stabil.
Dengan kehadiran Pandora, upaya manusia untuk memahami exsoplanet dan mencari kemungkinan kehidupan di luar Bumi kini memasuki babak baru.





