Jakarta (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) menyatakan siap untuk membawa rupiah menguat, dengan dukungan cadangan devisa (cadev) yang dinilai lebih dari cukup untuk melakukan upaya stabilisasi nilai tukar.
“Cadangan devisa kami kumpulkan pada saat masuk dan tidak segan-segan kami gunakan cadangan devisa itu untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah. Kami meyakini rupiah akan stabil dan bahkan akan cenderung menguat,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo menjawab pertanyaan media dalam konferensi pers secara daring di Jakarta, Rabu.
Selain itu, optimisme ini juga didukung oleh kondisi fundamental ekonomi domestik yang tetap baik, termasuk imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, serta prospek ekonomi yang membaik.
Untuk diketahui, nilai tukar rupiah mengalami pelemahan belakangan ini. Rupiah berada di level Rp16.945 per dolar AS pada Selasa (20/1), melemah 1,53 persen (point to point/ptp) bila dibandingkan dengan akhir Desember 2025.
Baca juga: Rupiah menguat karena adanya penyesuaian pasar pasca tekanan besar
Adapun pada Rabu (21/1), rupiah ditutup pada level Rp16.936 per dolar AS atau menguat 20 poin atau 0,12 persen.
Perry menegaskan, bank sentral tidak segan-segan melakukan intervensi dalam jumlah besar melalui pasar offshore NDF (non-delivery forward), DNDF (domestic non-delivery forward), serta pasar spot.
Ia mengamini bahwa perkembangan nilai tukar belakangan ini dipengaruhi oleh faktor global maupun domestik. Dari sisi global, faktor dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, kebijakan tarif AS, tingginya imbal hasil US Treasury, serta ekspektasi penurunan Fed Funds Rate (FFR) yang lebih kecil.
“Di samping itu, kondisi-kondisi lain yang menyebabkan dolar menguat dan terjadi aliran modal keluar dari emerging market ke negara maju termasuk Amerika. Pada 2026 (hingga 19 Januari 2026), terjadi net outflow 1,6 miliar dolar AS,” jelas Perry.
Baca juga: BI tingkatkan intensitas stabilisasi guna menjaga nilai tukar rupiah
Sementara dari sisi domestik, terdapat kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi serta adanya persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan proses pencalonan Deputi Gubernur BI.
“Oleh sebab itu, kami tegaskan bahwa proses pencalonan Deputi Gubernur adalah sesuai undang-undang, tata kelola, dan tentu saja tidak mempengaruhi pelaksanaan tugas dan kewenangan Bank Indonesia yang tetap profesional dengan tata kelola yang kuat,” kata Perry.
Pada kesempatan yang sama, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan bahwa pelemahan nilai tukar tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga beberapa negara tetangga. Namun, pelemahan rupiah belakangan memang lebih dalam terutama karena adanya persepsi pasar.
“Oleh karena itu, kita memang perlu membalikkan persepsi itu dan menunjukkan bahwa sejauh ini kita masih relatif aman. Cadangan devisa kita juga masih sangat kuat di 156 miliar dolar AS,” katanya.
Baca juga: Fokus stabilisasi rupiah, BI pertahankan BI-Rate di level 4,75 persen
Di samping intervensi yang dilakukan, Destry menambahkan bahwa bank sentral Indonesia juga mengoptimalkan operasi moneter yang dimiliki, baik itu melalui pemanfaatan SRBI, jalur suku bunga, maupun mengupayakan aset rupiah menjadi lebih atraktif dengan imbal hasil yang lebih menarik.
Dia juga menyampaikan, BI terus memperkuat pemanfaatan local currency transaction (LCT). Sepanjang Januari-Desember 2025, catat dia, volume transaksi LCT meningkat signifikan.
Pada akhir Desember 2025, nilai transaksi LCT tercatat mencapai 25,66 miliar dolar AS, meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 12,5 miliar dolar AS pada 2024.
Peningkatan penggunaan mata uang lokal selain dolar AS tersebut menjadi salah satu strategi BI untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar.
Baca juga: Analis: Kurs rupiah dapat membaik jika ada kepastian arah kebijakan
Destry mengungkapkan, BI juga mengembangkan pasar non-dolar. Dalam satu bulan terakhir, BI telah membuka pasar transaksi rupiah-yen Jepang serta rupiah-renminbi (RMB) Tiongkok, yang menunjukkan tren peningkatan.
Langkah ini dinilai penting karena berdasarkan data transaksi perbankan, BI melihat masih banyak bank yang membutuhkan RMB atau CNY, namun selama ini melakukan transaksi melalui dolar AS terlebih dahulu.
“(Pola) ini yang kami coba potong, sehingga untuk ke depan mereka yang membutuhkan CNY itu kita dorong supaya pasar rupiah-CNY juga akan aktif. Dan dalam hal ini, BI dalam satu bulan terakhir ini sudah aktif untuk melakukan perdagangan di dua currency itu,” kata Destry.
Baca juga: BI yakin NPI 2026 tetap baik, defisit transaksi berjalan tetap rendah
“Cadangan devisa kami kumpulkan pada saat masuk dan tidak segan-segan kami gunakan cadangan devisa itu untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah. Kami meyakini rupiah akan stabil dan bahkan akan cenderung menguat,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo menjawab pertanyaan media dalam konferensi pers secara daring di Jakarta, Rabu.
Selain itu, optimisme ini juga didukung oleh kondisi fundamental ekonomi domestik yang tetap baik, termasuk imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, serta prospek ekonomi yang membaik.
Untuk diketahui, nilai tukar rupiah mengalami pelemahan belakangan ini. Rupiah berada di level Rp16.945 per dolar AS pada Selasa (20/1), melemah 1,53 persen (point to point/ptp) bila dibandingkan dengan akhir Desember 2025.
Baca juga: Rupiah menguat karena adanya penyesuaian pasar pasca tekanan besar
Adapun pada Rabu (21/1), rupiah ditutup pada level Rp16.936 per dolar AS atau menguat 20 poin atau 0,12 persen.
Perry menegaskan, bank sentral tidak segan-segan melakukan intervensi dalam jumlah besar melalui pasar offshore NDF (non-delivery forward), DNDF (domestic non-delivery forward), serta pasar spot.
Ia mengamini bahwa perkembangan nilai tukar belakangan ini dipengaruhi oleh faktor global maupun domestik. Dari sisi global, faktor dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, kebijakan tarif AS, tingginya imbal hasil US Treasury, serta ekspektasi penurunan Fed Funds Rate (FFR) yang lebih kecil.
“Di samping itu, kondisi-kondisi lain yang menyebabkan dolar menguat dan terjadi aliran modal keluar dari emerging market ke negara maju termasuk Amerika. Pada 2026 (hingga 19 Januari 2026), terjadi net outflow 1,6 miliar dolar AS,” jelas Perry.
Baca juga: BI tingkatkan intensitas stabilisasi guna menjaga nilai tukar rupiah
Sementara dari sisi domestik, terdapat kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi serta adanya persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan proses pencalonan Deputi Gubernur BI.
“Oleh sebab itu, kami tegaskan bahwa proses pencalonan Deputi Gubernur adalah sesuai undang-undang, tata kelola, dan tentu saja tidak mempengaruhi pelaksanaan tugas dan kewenangan Bank Indonesia yang tetap profesional dengan tata kelola yang kuat,” kata Perry.
Pada kesempatan yang sama, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan bahwa pelemahan nilai tukar tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga beberapa negara tetangga. Namun, pelemahan rupiah belakangan memang lebih dalam terutama karena adanya persepsi pasar.
“Oleh karena itu, kita memang perlu membalikkan persepsi itu dan menunjukkan bahwa sejauh ini kita masih relatif aman. Cadangan devisa kita juga masih sangat kuat di 156 miliar dolar AS,” katanya.
Baca juga: Fokus stabilisasi rupiah, BI pertahankan BI-Rate di level 4,75 persen
Di samping intervensi yang dilakukan, Destry menambahkan bahwa bank sentral Indonesia juga mengoptimalkan operasi moneter yang dimiliki, baik itu melalui pemanfaatan SRBI, jalur suku bunga, maupun mengupayakan aset rupiah menjadi lebih atraktif dengan imbal hasil yang lebih menarik.
Dia juga menyampaikan, BI terus memperkuat pemanfaatan local currency transaction (LCT). Sepanjang Januari-Desember 2025, catat dia, volume transaksi LCT meningkat signifikan.
Pada akhir Desember 2025, nilai transaksi LCT tercatat mencapai 25,66 miliar dolar AS, meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 12,5 miliar dolar AS pada 2024.
Peningkatan penggunaan mata uang lokal selain dolar AS tersebut menjadi salah satu strategi BI untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar.
Baca juga: Analis: Kurs rupiah dapat membaik jika ada kepastian arah kebijakan
Destry mengungkapkan, BI juga mengembangkan pasar non-dolar. Dalam satu bulan terakhir, BI telah membuka pasar transaksi rupiah-yen Jepang serta rupiah-renminbi (RMB) Tiongkok, yang menunjukkan tren peningkatan.
Langkah ini dinilai penting karena berdasarkan data transaksi perbankan, BI melihat masih banyak bank yang membutuhkan RMB atau CNY, namun selama ini melakukan transaksi melalui dolar AS terlebih dahulu.
“(Pola) ini yang kami coba potong, sehingga untuk ke depan mereka yang membutuhkan CNY itu kita dorong supaya pasar rupiah-CNY juga akan aktif. Dan dalam hal ini, BI dalam satu bulan terakhir ini sudah aktif untuk melakukan perdagangan di dua currency itu,” kata Destry.
Baca juga: BI yakin NPI 2026 tetap baik, defisit transaksi berjalan tetap rendah





