Jakarta, VIVA – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2026 bakal meningkat dalam kisaran 4,9-5,7 persen, ditopang kenaikan permintaan (demand) domestik.
Menurutnya, hal ini sejalan dengan berbagai kebijakan pemerintah dan berlanjutnya dampak positif dari bauran kebijakan bank sentral, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Efektivitas berbagai program stimulus pemerintah pada tahun 2026 perlu diperkuat untuk mendorong konsumsi rumah tangga dan penyerapan tenaga kerja,” kata Perry dalam telekonferensi pers, Rabu, 21 Januari 2026.
- [tangkapan layar]
Menurutnya, efektivitas berbagai program stimulus pemerintah pada tahun 2026 perlu diperkuat untuk mendorong konsumsi rumah tangga dan penyerapan tenaga kerja.
Investasi juga diprakirakan lebih tinggi, ditopang oleh berlanjutnya program prioritas pemerintah termasuk hilirisasi sumber daya alam (SDA). Sehingga, diharapkan hal itu makin dapat meningkatkan produktivitas dan kapasitas perekonomian.
“Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan melalui penguatan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi erat dengan kebijakan stimulus fiskal dan sektor riil Pemerintah untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan berdaya tahan,” ujar Perry.
Sementara pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 diprakirakan lebih tinggi, ditopang oleh kenaikan permintaan domestik yang sejalan dengan membaiknya keyakinan pelaku ekonomi dan peningkatan stimulus fiskal.
Berdasarkan lapangan usaha (LU), LU utama seperti LU industri pengolahan, LU perdagangan besar dan eceran, serta LU informasi dan komunikasi menunjukkan kinerja positif.
Secara spasial, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tercatat di wilayah Bali-Nusa Tenggara (Balinusra), diikuti Jawa dan Kalimantan didorong kenaikan permintaan domestik.
“Pertumbuhan ekonomi keseluruhan tahun 2025 diprakirakan berada di kisaran 4,7-5,5 persen,” ujarnya.




