Transformasi Kampung Bandit Jadi Kampung Pink, Ada Peran Mantan Preman

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

KOTA TANGERANG, KOMPAS.com - Ibnu Jandi (65) bersama sembilan mantan preman menjadi sosok di balik transformasi Kampung Pink, Tanah Tinggi, Kota Tangerang.

Kampung yang dulunya kawasan rawan kriminalitas dan dijuluki Kampung Bandit itu, berubah menjadi kampung tematik dengan dominasi warna pink dan penuh mural.

Ibnu Jandi yang merupakan inisiator Kampung Pink, mengatakan, perubahan lokasi tersebut dimulai pada 2020 saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia.

Baca juga: Cerita di Balik Kampung Pink yang Dulu Dikenal Kampung Bandit

Saat itu, sembilan mantan preman mendatangi Ibnu Jandi dengan keinginan untuk mengubah hidup jadi lebih baik lagi.

Awalnya, ia menolak lantaran masih belum percaya dengan niat baik mereka. Namun, dua minggu berjalan, mereka terus menerus mendatangi rumah Ibnu Jandi hingga akhirnya luluh.

"Saya bilang, kalau mau berubah, kita bikin konsep kampung,” ujar Ibnu saat ditemui Kompas.com di Kampung Pink.

Setelah melihat keseriusan mereka, Ibnu Jandi mulai merancang konsep Kampung Pink.

Warna pink pun dipilih sebagai simbol perubahan sekaligus penanda bahwa kampung tersebut meninggalkan citra lama sebagai Kampung Bandit.

“Pink itu paling indah di kampung. Walaupun dulu bandit, hati harus baik,” kata dia.

Setelah konsep Kampung Pink terbentuk, mereka langsung merealisasikannya. Pendanaan pun berasal dari swadaya warga dan sponsor.

Baca juga: Sampah Menggunung di Muara Baru, Warga: Bukan dari Sini, Dibawa Pakai Truk

Tak ada dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) yang digunakan selama membangun Kampung Pink. Justru Pemerintah Kota Tangerang hanya memberikan dukungan kepada warganya.

“Kalau diuangkan sekitar Rp 1,7 miliar. Luasnya 7,5 hektare, ada 475 rumah yang dicat, sekitar 80 persen berwarna pink,” jelas Ibnu.

Sebagai inisiator, Ibnu Jandi menilai, tujuan utama Kampung Pink bukan sekadar mempercantik lingkungan, tetapi mendorong perubahan perilaku warga.

Ia menyebut, sekitar 50 persen kawasan sebelumnya masuk kategori kumuh.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

"Kumuh itu bukan cuma soal wilayah, tapi perilaku. Yang malas jadi enggak malas, narkoba enggak ada lagi, minuman juga hilang," kata dia.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Siapkan Rp93 Miliar untuk Pulihkan UMKM Terdampak Bencana di Sumatra
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Mahfud MD Soroti Masa Depan Demokrasi: Vonis Rudi S. Kamri Keliru, RUU Disinformasi Jangan Ujug-ujug
• 7 jam lalusuara.com
thumb
DFSK Pastikan Penyebab Gelora E Terbakar Bukan dari Baterai
• 9 jam lalumedcom.id
thumb
Geely Bakal Luncurkan 6 Model Baru dan Buka 80 Dealer di 2026
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Bantuan Beras Bulog ke Bencana Sumatera Tembus 53.586 Ton hingga 20 Januari 2026
• 5 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.