Pengusaha Beberkan Tantangan Industri Alas Kaki di Tengah Gejolak Ekonomi Global

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pengusaha menyebutkan industri alas kaki nasional menghadapi berbagai tantangan di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global dan persoalan domestik.

Ketua Umum Terpilih Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Anton J Supit, mengatakan jika pemerintah tidak mampu menjaga iklim industri dengan baik, investor bisa melirik India sebagai basis produksi baru.

Meskipun menurut Anton, di mata pembeli global atau buyers, Indonesia saat ini masih dianggap sebagai negara sourcing yang penting.

“Kalau kita tidak bisa maintain dengan baik ini, memberikan signal yang jelek, ya dia kan ada pilihan India,” kata Anton dalam konferensi pers usai Musyawarah Nasional Aprisindo di Hotel Borobudur Jakarta, Rabu (21/1).

Menurut Anton, India kini mulai muncul sebagai pemain baru di industri sepatu global. Selama ini, pilihan utama buyers hanya berkisar di Vietnam dan Indonesia. Namun jika Indonesia terlalu lama menyelesaikan persoalan internal, buyers bisa terlanjur membangun infrastruktur di India.

Ketika investor telah memasuki pasar India, maka akan sulit Indonesia mengambil kembali investasi yang telah masuk.

“Jadi sebenarnya peluang ke sana besar. Realitas memang sangat dipengaruhi kondisi geopolitik, kita berharap terjadi perdamaian, tetapi buyers kan berharap cepat. Karena kalau dia baru putuskan setelah keadaan semua aman, dia ketinggalan,” jelasnya.

Pasar Global Masih Lesu

Wakil Ketua Umum Aprisindo Harijanto mengamini ucapan Anton. Dia menjelaskan kondisi pasar global hingga kini belum menunjukkan pemulihan berarti. Ketidakpastian geopolitik masih menjadi tekanan utama, mulai dari perang Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, hingga konflik internasional lain yang mempengaruhi ekonomi Eropa dan Amerika Serikat.

Dia memperkirakan hingga akhir 2027, industri sepatu nasional masih bergerak lambat. Utilisasi pabrik diprediksi hanya di kisaran 60–70 persen, sehingga investasi baru cenderung minim karena kapasitas terpasang yang ada masih mencukupi.

“Jadi kalau menurut saya ini sampai akhir tahun 2027 mungkin masih, menurut saya akan slow, kapasitas terpasang kita paling hanya 60 sampai 70 persen. Jadi investasi baru itu mungkin akan kecil karena utilisasi, fasilitas yang ada itu masih cukup tinggi gitu,” terangnya.

Biaya Tenaga Kerja dan Regulasi Jadi Beban

Harijanto juga memaparkan tantangan struktural industri sepatu, terutama tingginya porsi biaya tenaga kerja atau labor cost. Berbeda dengan sektor berteknologi tinggi seperti otomotif yang labor cost-nya hanya 7–8 persen, industri sepatu berkisar antara 18 hingga 28 persen.

Selain itu, ada tiga masalah utama yang dinilai paling krusial. Pertama, perizinan lahan dan AMDAL yang berlarut-larut hingga membuat pembangunan pabrik bisa memakan waktu bertahun-tahun.

Kedua, ketidakpastian kebijakan ketenagakerjaan atau labor policy. Ketiga, lemahnya dukungan terhadap industri pendukung sehingga komponen masih banyak diimpor dari Vietnam dan China.

“Waktu ekspor kita USD 2 miliar, industri pendukungnya tetap sama. Sekarang USD 7 miliar, (industri pendukung) tidak ada yang tumbuh. Makanya itu tekstil, leather synthetic, semua dari Vietnam, Cina. Nah ini sebetulnya added value kita jadi kecil,” jelasnya.

Dari sisi kinerja, ekspor Industri alas kaki nasional menunjukkan resiliensi di tengah fluktuasi ekonomi global, berdasarkan World Footwear Book 2025 total nilai ekspor mencapai USD 32 miliar selama periode 2020-2024.

Ketua Dewan Pembina Aprisindo Eddy Widjanarko mengatakan hingga November 2025, nilai ekspor sektor ini tercatat mencapai USD 7,2 miliar, naik sekitar 13,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan tambahan kinerja ekspor pada Desember, Aprisindo memperkirakan ekspor tahun 2025 bisa menutup pada kisaran USD 7,8–7,9 miliar.

Jika kondisi ekonomi global membaik dan sejumlah perjanjian dagang seperti Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) bisa diberlakukan, Eddy optimistis ekspor alas kaki Indonesia dapat menembus USD 10 miliar pada 2028 atau 2029.

“Tahun 2028 atau maksimum di tahun 2029, kita akan mencapai minimal USD 10 miliar yang saya kira ini adalah kontribusi yang sangat baik, penerima devisa untuk negara,” kata Eddy.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Suami Jadi Tersangka Usai Tegur Anak yang Mencuri di Warung, Istri Lapor KDM lewat TikTok
• 8 jam lalukompas.com
thumb
China janjikan dukungan penuh untuk perdagangan bebas di Davos
• 21 jam laluantaranews.com
thumb
Masyarakat Adat Distrik Konda Papua Barat Daya Terus Perjuangkan Pengakuan Penuh Hutan Adat
• 23 jam lalupantau.com
thumb
Dituduh KKN dan di-PHK Sepihak, Puluhan Pegawai ASDP Curhat ke DPR
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
KKN Unhas – BPJS Ketenagakerjaan Sosialisasikan Perlindungan Pekerja Informal di Desa Lainungan
• 1 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.