Beberapa dari kita mungkin mengira membicarakan rencana masa depan sering dianggap sebagai tanda keseriusan. Padahal, nyatanya tidak selalu demikian. Sebagian justru menjadi pola manipulasi emosional yang dikenal sebagai future faking.
“Future faking adalah situasi ketika seseorang menjanjikan masa depan untuk mendapatkan kedekatan, tanpa niat sungguh-sungguh mewujudkannya,” ujarnya, dr. Ramani Durvasula, psikolog klinis asal Amerika Serikat.
Fenomena tersebut muncul di era kencan modern karena hubungan semakin terasa cepat dan minim kepastian. Akibatnya, banyak orang terjebak dalam harapan tanpa arah yang jelas.
Future faking merupakan pola hubungan di mana seseorang sering membuat rencana besar tentang masa depan, tetapi tidak pernah mengambil langkah konkret. Janji yang disampaikan memang terdengar serius, namun selalu tertunda atau mengambang.
Fokus hubungan pun bergeser dari kenyataan saat ini ke gambaran masa depan yang belum tentu terjadi. Harapan dijadikan pengikat utama, bukan malah berorientasi pada komitmen. Dalam jangka panjang, pola ini bisa membuat hubungan terasa stagnan meski secara emosional terasa intens.
Ciri-Ciri Future FakingSalah satu ciri utama future faking adalah janji yang berulang kali tidak terealisasi. Saat diminta kepastian waktu atau rencana konkret, pelaku cenderung menghindar atau mengubah topik.
Ciri lainnya adalah minimnya tindakan konsisten. Alih-alih merencanakan langkah nyata, pelaku lebih mengandalkan kata-kata besar atau gestur emosional. Ketika dipertanyakan, tanggung jawab sering dialihkan. Pasangan yang meminta kejelasan justru dianggap terlalu menekan atau merusak suasana.
Dampak Emosional bagi Pasangan dan Cara MenghadapinyaFuture faking menciptakan jarak antara harapan dan realitas. Seseorang dibuat merasa hubungan ini memiliki masa depan, padahal sebenarnya tidak ada progres nyata.
Padahal, hubungan yang sehat harus dibangun dengan konsistensi. Jika dibiarkan, pola ini dapat memicu kelelahan emosional, kebingungan, dan rasa tidak aman dalam hubungan.
Bila menemukan seseorang dengan ciri-ciri di atas, segera ajukan pertanyaan konkret, seperti rencana jangka pendek yang jelas. Respons terhadap pertanyaan ini sering menjadi indikator niat sebenarnya.
Menjaga batasan emosional dan berani meminta kejelasan adalah langkah penting. Dalam hubungan yang sehat, komitmen ditunjukkan lewat tindakan, bukan sekadar janji.




