Sebuah lukisan cap tangan di dinding gua karst di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara ditetapkan sebagai seni cadas tertua di dunia, melampaui penemuan sebelumnya di Sulawesi hingga 15.000 tahun atau lebih. Temuan ini sekaligus memberikan bukti langsung bahwa manusia telah menyeberangi laut sejak hampir 70.000 tahun lalu, yang menunjukkan peradaban bahari telah dimulai sejak itu.
Terawetkan di gua-gua batu kapur Liang Metanduno, Pulau Muna, cap tangan dikelilingi oleh lukisan-lukisan yang berasal dari masa yang jauh lebih baru. Sebuah tim internasional, yang dipimpin bersama oleh para peneliti dari Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra-Badan Riset dan Inovasi Nasional Indonesia (BRIN), Universitas Griffith, dan Universitas Southern Cross, telah memastikan bahwa usia lukisan cap tangan itu dibuat oleh spesies kita setidaknya 67.800 tahun yang lalu.
Penelitian juga melibatkan Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVIII dan XIX, Universitas Hasanuddin, Universitas Halu Oleo, dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Tim peneliti menyatakan temuan ini memajukan pemahaman kita tentang bagaimana dan kapan manusia modern (Homo sapiens) telah menyeberangi lautan di Zona Wallacea. Pembuat lukisan ini kemungkinan juga yang menjadi leluhur orang Papua dan Aborigin Australia.
Studi berjudul "Seni cadas dari setidaknya 67.800 tahun yang lalu di Sulawesi" telah diterbitkan di jurnal terkemuka Nature pada Rabu (21/1/2026). Adhi Agus Oktaviana, arkeolog yang fokus pada lukisan purba, menjadi penulis pertama laporan ini.
Adhi dan tim menerapkan teknik penanggalan seri uranium tingkat lanjut (laser-ablation uranium-series) untuk menganalisis endapan mineral mikroskopis yang terbentuk baik di atas maupun di bawah lukisan-lukisan dari Liang Metanduno. Ini memberikan periode waktu pembuatan karya seni tersebut.
Hasil analisis menunjukkan umur stensil atau cap tangan itu 71,6 ± 3,8 ribu tahun, yang memberikan batas usia minimum sebesar 67.800 ribu tahun. Ini menjadikannya seni gua tertua yang dapat diandalkan penanggalannya hingga saat ini, jauh lebih tua daripada lukisan batu yang ditemukan di Sulawesi oleh para peneliti yang sama pada 2024.
Temuan baru ini juga mengungkapkan bahwa gua Muna digunakan untuk membuat karya seni selama periode yang sangat panjang. Lukisan-lukisan diproduksi berulang kali selama setidaknya selama 35.000 tahun, berlanjut hingga sekitar 20.000 tahun yang lalu.
”Kini terbukti dari fase penelitian baru kami bahwa Sulawesi (termasuk Pulau Muna) adalah rumah bagi salah satu budaya seni terkaya dan tertua di dunia, yang asal-usulnya terdapat dalam sejarah awal pendudukan manusia di pulau itu setidaknya 67.800 tahun yang lalu," kata profesor Maxime Aubert, arkeolog dan ahli geokimia dari Griffith Center for Social and Cultural Research (GCSCR), yang turut memimpin penelitian ini.
Penemuan cap tangan berusia setidaknya 67.800 tahun di gua karst Muna ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat terpenting dalam sejarah awal seni simbolik. Sebelumnya, penanggalan dari periode Pleistosen telah dilaporkan untuk seni gua figuratif dan cap tangan manusia di dua kawasan utama di Indonesia, yaitu karst Maros–Pangkep di Sulawesi Selatan serta wilayah Sangkulirang–Mangkalihat di Kalimantan Timur. Kedua kawasan ini telah lama menjadi rujukan penting dalam kajian global mengenai asal-usul seni manusia modern.
Kini, penemuan lukisan tangan tertua di Pulau Muna ini juga menandai Indonesia sebagai lokus bagi penjelajahan laut manusia modern tertua di dunia. Pulau Muna yang berada di Zona Wallacea tidak pernah terhubung dengan daratan Asia maupun Australia melalui jembatan darat.
Oleh karena itu, keberadaan manusia di wilayah ini secara langsung membuktikan adanya kemampuan teknologi, pengetahuan lingkungan, serta organisasi sosial yang memungkinkan penjelajahan laut terbuka pada masa Pleistosen.
Usia minimum lukisan dari Pulau Muna ini lebih tua 16.600 tahun dibandingkan seni cadas dari Maros–Pangkep, serta 1.100 tahun lebih tua dibandingkan cap tangan dari Spanyol yang sebelumnya dikaitkan dengan Neanderthal dan selama ini dianggap sebagai seni gua tertua di dunia.
Menurut Shinatria Adhityatama, arkeolog maritim BRIN yang turut dalam penelitian ini, temuan ini tidak hanya berbicara tentang seni, tetapi juga tentang cara hidup manusia awal di kepulauan Indonesia. “Kehadiran manusia di Sulawesi pada masa ini hanya mungkin terjadi melalui penjelajahan laut. Ini bukan perjalanan kebetulan, melainkan hasil dari perencanaan, pengetahuan navigasi, dan kerja sama sosial,” ujar Shinatria.
Menurut Shinatria, manusia pada masa ini sudah menjalani kehidupan sehari-hari yang kompleks, terstruktur, dan sangat familiar dengan lingkungan maritim. Mereka tidak hanya berburu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari namun juga melakukan aktivitas kreatif seperti melukis.
Lukisan di Gua Liang Metanduno juga menunjukkan bahwa aktivitas seni tidak bersifat sesaat. Analisis penanggalan memperlihatkan bahwa lukisan-lukisan di gua ini dibuat berulang kali selama sedikitnya 35.000 tahun, dan aktivitas tersebut masih berlangsung hingga sekitar 20.000 tahun yang lalu.
Pembuat lukisan ini merupakan bagian dari populasi yang kemudian menyebar lebih jauh ke timur dan akhirnya mencapai Australia.
Hal ini menunjukkan aktivitas jangka panjang dan berulang, bukan sekadar persinggahan sementara. Cap tangan yang ditemukan juga memiliki ciri unik secara global, dengan modifikasi yang mempersempit bentuk jari sehingga menyerupai cakar (narrow finger), mencerminkan ekspresi simbolik yang matang.
“Makna simbolik dari penyempitan bentuk jari ini masih bersifat spekulatif,” ujar Adam Brumm dari Australian Research Centre for Human Evolution (ARCHE), Griffith University, yang turut memimpin penelitian ini.
Namun,, ungkap Brumm seni ini bisa saja melambangkan gagasan bahwa manusia dan hewan memiliki hubungan yang sangat erat. Hal tersebut sudah mulai terlihat dalam seni lukis paling awal di Sulawesi, termasuk setidaknya satu adegan yang peneliti tafsirkan sebagai representasi makhluk setengah manusia dan setengah hewan.
Selain di Pulau Muna, beberapa cap tangan lain juga ditemukan di pulau-pulau lain di Sulawesi Tenggara, yang menunjukkan bahwa aktivitas seni cadas berlangsung secara luas dan berkesinambungan sepanjang Kala Pleistosen Akhir, bahkan hingga Maksimum Glasial Terakhir (Last Glacial Maximum). Di Gua Mbokita, Kabupaten Menui Kepulauan, dua sampel lukisan tangan memberikan usia minimum masing-masing sekitar 44.700 tahun dan 25.900 tahun, menunjukkan bahwa gua ini telah digunakan sebagai ruang ekspresi simbolik selama puluhan ribu tahun.
Sementara itu, di Gua Anawai, dua cap tangan terpisah bertanggal minimum 19.000– 20.000 tahun, dengan hasil penanggalan maksimum yang menunjukkan bahwa aktivitas melukis berlangsung antara 20.100 dan 20.400 tahun lalu.
Temuan ini mengindikasikan bahwa manusia masih aktif menciptakan seni cadas hingga periode iklim paling ekstrem pada Zaman Es. Penanggalan tambahan dari Gua Berlian menunjukkan sebuah cap tangan merah dengan usia minimum sekitar 17.300 tahun dan usia maksimum sekitar 20.400 tahun, semakin menegaskan bahwa tradisi seni cadas di Sulawesi Tenggara tidak berhenti pada satu fase, melainkan berlanjut lintas generasi.
Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa Sulawesi Tenggara merupakan lanskap budaya aktif selama puluhan ribu tahun, dengan gua-gua karst yang digunakan berulang kali sebagai ruang hidup, ruang simbolik, dan penanda identitas kelompok manusia modern awal. “Sangat mungkin bahwa pembuat lukisan ini merupakan bagian dari populasi yang kemudian menyebar lebih jauh ke timur dan akhirnya mencapai Australia,” kata Adhi Agus Oktaviana.
Temuan ini sekaligus memperkuat model kronologi panjang, yang menyatakan bahwa manusia telah mencapai daratan Sahul (Australia–Papua) setidaknya sekitar 65.000 tahun lalu. “Penemuan ini memberikan dukungan kuat bahwa leluhur masyarakat Aborigin Australia (dan Papua) telah berada di Sahul pada atau sebelum 65.000 tahun yang lalu,” tambah Oktaviana.
Penelitian ini memberikan bukti langsung tertua keberadaan manusia modern di jalur migrasi utara menuju Sahul, yang melibatkan penjelajahan laut antara Kalimantan (Borneo) dan Papua, sebuah wilayah yang hingga kini masih relatif kurang dieksplorasi secara arkeologis.
“Dengan penanggalan seni cadas ini, kita kini memiliki bukti paling awal keberadaan manusia modern di jalur migrasi utara menuju Sahul,” ujar Renaud Joannes-Boyau dari Southern Cross University.
Penemuan ini menegaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu tempat lahir tradisi penjelajahan laut manusia, di mana seni, teknologi, dan relasi manusia dengan laut telah berkembang hampir 70.000 tahun yang lalu.
“Mereka bukan sekadar pelintas,” tutup Shinatria Adhityatama. “Manusia yang menghasilkan seni cadas ini hidup dalam rutinitas harian yang kompleks, melibatkan pergerakan antara pesisir, pulau-pulau kecil, dan kawasan karst. Seni, pelayaran, dan pengelolaan lingkungan merupakan satu kesatuan cara hidup.”



:strip_icc()/kly-media-production/medias/3938377/original/044594100_1645165608-20220218-Waspada_Cuaca_Ekstrem_di_Jakarta-8.jpg)
