Penulis buku Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, kembali melontarkan pandangan agresif terkait masa depan perak. Dalam unggahan terbarunya di platform X, Kiyosaki menyebut harga perak berpotensi melonjak sangat tajam dalam waktu singkat. Ia bahkan menyatakan harga perak bisa melesat hingga USD 107 per ons.
Menurut Kiyosaki, lonjakan tersebut dapat dipicu oleh pengetatan pasokan perak global yang berpotensi memicu kenaikan harga secara tiba-tiba, bahkan hanya dalam satu sesi perdagangan. Dalam unggahan yang sama, ia turut menyinggung sisi permintaan industri yang dinilai semakin menekan pasar fisik.
“Tesla sedang kesulitan mendapatkan perak dalam jumlah yang cukup,” tulis Kiyosaki.
Dalam beberapa pekan terakhir, Kiyosaki secara konsisten menyoroti perak dan menyampaikan optimisme terhadap prospek komoditas ini.
Prediksi Robert Kiyosaki Soal Harga PerakOptimisme Kiyosaki terhadap perak bukan cerita baru. Ia telah lama memposisikan perak bukan sekadar komoditas industri, melainkan juga alat lindung nilai terhadap inflasi dan pelemahan mata uang fiat. Pada 14 Januari 2026, Kiyosaki merayakan momen ketika harga perak menembus level USD 90 per ons.
Dalam unggahannya saat itu, ia menilai pencapaian tersebut sebagai sinyal penting dari pergerakan jangka panjang perak. Namun, dua hari sebelumnya, Kiyosaki sempat menyampaikan nada yang lebih berhati-hati. Ia menyebut harga perak mungkin sedang mendekati puncaknya tetapi berlangsung jangka pendek.
Kiyosaki mengatakan akan terus membeli perak hingga level USD 100 per ons, lalu menunggu perkembangan pasar. Ia juga menyebut rencana untuk menukar sebagian kepemilikan peraknya dengan emas pada fase tertentu, sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Lonjakan harga perak ke rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Desember 2025 memicu kekhawatiran serius di sektor industri. CEO Tesla Elon Musk secara terbuka memperingatkan bahwa kenaikan harga perak berpotensi menimbulkan dampak signifikan terhadap berbagai proses manufaktur. Dalam unggahannya di platform X, Musk menyatakan bahwa perak merupakan material penting yang dibutuhkan dalam banyak proses industri.
Pernyataan tersebut muncul di tengah reli logam mulia yang dipicu oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga Amerika Serikat oleh Federal Reserve pada 2026. Analis menilai kebijakan moneter yang lebih longgar berpotensi meningkatkan permintaan terhadap aset keras sebagai pelindung nilai dari inflasi dan pelemahan mata uang fiat. Sentimen ini turut mendorong harga emas dan platinum mencapai level tertinggi baru pada periode Boxing Day.
Perak memiliki peran yang semakin krusial dalam berbagai sektor strategis. Logam ini digunakan secara luas dalam elektrifikasi, panel surya, kendaraan listrik, hingga pusat data. Peningkatan kebutuhan di sektor-sektor tersebut secara bertahap menggerus persediaan perak global dan menciptakan tekanan struktural di sisi pasokan.
Kebijakan China dan Dampaknya terhadap Pasokan PerakKekhawatiran pasar semakin meningkat menjelang 2026 seiring kebijakan China yang resmi memperketat kontrol ekspor perak mulai 1 Januari. Kebijakan tersebut menaikkan status perak dari komoditas biasa menjadi Strategic Minerals, dengan pengawasan regulasi yang setara dengan rare earths. Langkah ini juga mencakup pembatasan ekspor tungsten dan antimoni.
Pengetatan ekspor oleh China, yang merupakan salah satu pemain dominan dalam rantai pasok perak global, memicu kekhawatiran akan semakin terbatasnya pasokan di pasar internasional. Dampaknya mulai terasa di pasar fisik, dengan sejumlah pembeli bersedia membayar premi tinggi untuk mendapatkan pasokan perak.


