EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran resmi memasuki fase paling berbahaya dalam sejarah hubungan kedua negara. Dalam dua hari berturut-turut, pernyataan keras, ancaman militer, dan pengerahan kekuatan bersenjata skala besar saling berbalasan, memicu kekhawatiran dunia akan pecahnya konflik regional yang berpotensi berubah menjadi perang global.
Ultimatum Trump: “Iran Akan Dihapus dari Muka Bumi”
Pada Selasa, 21 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengeluarkan pernyataan yang mengguncang komunitas internasional.
Dia secara terbuka menyatakan bahwa dirinya telah mengeluarkan perintah langsung kepada militer AS: Jika Teheran berani merencanakan atau melakukan upaya pembunuhan terhadap dirinya, maka Amerika Serikat akan segera bertindak dan menghapus Iran dari muka bumi.
Trump menegaskan bahwa respons Amerika tidak akan terbatas pada individu atau kelompok tertentu, melainkan akan berupa penghancuran negara Iran sebagai entitas politik.
“Harga dari pilihan yang salah adalah lenyapnya Iran sebagai sebuah negara,” tegas Trump.
Dia bahkan secara eksplisit menyatakan bahwa apabila rencana pembunuhan terhadap dirinya benar-benar terjadi, ia akan memerintahkan pemboman besar-besaran terhadap Iran hingga terhapus dari peta dunia.
Ancaman Balasan Iran: “Dunia Akan Tenggelam dalam Lautan Api”
Pernyataan Trump langsung disambut dengan respons keras dari pihak Iran.
Sehari sebelumnya, pada Senin, 20 Januari 2026, juru bicara Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi, menyampaikan pernyataan resmi melalui media pemerintah Iran:
“Jika ada yang berani menyentuh Pemimpin Tertinggi, kami akan memotong tangan itu dan membakar dunia. Mereka tidak akan punya tempat bersembunyi di kawasan ini.”
Militer Iran menegaskan bahwa setiap serangan terhadap Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei akan dianggap sebagai deklarasi perang terhadap seluruh dunia Islam.
Pernyataan resmi Teheran bahkan lebih jauh menyebutkan bahwa jika provokasi tersebut terjadi, Iran:
- Tidak lagi terikat pada aturan perang konvensional
- Akan melancarkan jihad global
- Memanggil seluruh kekuatan bersenjata Muslim di dunia
- Mengancam bahwa Eropa tidak akan aman
Seorang pejabat tinggi militer Iran menyatakan secara terbuka: “Jika Khamenei disakiti, dunia akan diseret ke dalam lautan api.”
Video Resmi AS: “Rezim Iran Berperang Melawan Rakyatnya Sendiri”
Pada 21 Januari 2026, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat merilis video resmi berbahasa Persia yang ditujukan langsung kepada rakyat Iran.
Dalam video tersebut ditegaskan bahwa:
Ketika truk militer dan senapan mesin berbaris di jalanan Iran, itu bukan tanda keamanan, melainkan bukti bahwa rezim sedang berperang melawan rakyatnya sendiri.
Pesan tersebut menyebut bahwa rezim Teheran tidak melindungi rakyat, melainkan menjadikan rakyat sebagai musuh internal.
Namun di sisi lain, pesan itu juga mengakui satu hal penting: “Sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa rakyat Iran, dalam kondisi apa pun, tidak pernah berhenti melawan penindasan.”
Trump Perintahkan Penambahan Bomber Siluman B-2
Dalam wawancara dengan CNBC pada 21 Januari 2026, Trump mengungkap langkah strategis militer yang sangat signifikan.
Dia menyatakan telah memerintahkan penambahan 25 unit pesawat pengebom siluman B-2 Spirit ke dalam kesiapan operasional, sembari mengatakan: “Saya berharap kita tidak perlu melangkah lebih jauh.”
Pernyataan ini ditafsirkan sebagai sinyal bahwa opsi militer telah masuk tahap kesiapan penuh, meskipun Trump masih menyisakan ruang diplomasi.
Iran Balas Peringatan: “Perang Ini Akan Berdarah dan Global”
Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Iran mengeluarkan pernyataan peringatan keras kepada Amerika Serikat.
Dia menyatakan bahwa jika Iran diserang:
- Iran akan menggunakan seluruh kemampuan militernya
- Konflik tidak akan bersifat singkat
- Perang akan berlangsung berdarah, kacau, dan berkepanjangan
- Dampaknya akan dirasakan oleh rakyat di seluruh dunia
Pengamat geopolitik internasional menilai bahwa sikap keras Teheran mencerminkan tekanan ekstrem yang kini dihadapi rezim Iran, baik dari dalam negeri (krisis sosial dan politik) maupun dari luar negeri (tekanan militer dan diplomatik Barat).
Mobilisasi Militer Iran: Drone, Rudal, dan Klaim Uji Coba ICBM
Dalam perkembangan paralel, Iran mulai melakukan pengerahan militer nasional:
- Seluruh komandan militer diperintahkan kembali ke pos dalam waktu 48 jam
- Drone pengintai Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) beroperasi di atas Teluk Persia
- Kanal Telegram afiliasi IRGC menyebarkan foto konvoi militer:
- Pemindahan drone
- Rudal
- Persenjataan berat
- Kendaraan tempur ke berbagai kota
Seorang pakar Iran, Profesor Tabriz, mengungkap informasi sensitif:
Dengan bantuan Rusia, Iran telah melakukan uji coba pertama rudal balistik antarbenua (ICBM) dengan klaim jangkauan sekitar 10.000 km, diluncurkan ke arah Siberia atas persetujuan Moskow.
Secara teknis:
- Rudal >5.500 km = kategori strategis (potensi nuklir)
- Jangkauan 10.000 km = mampu menjangkau:
- Eropa
- Amerika Serikat
- Wilayah lintas benua lainnya
Jika informasi ini terbukti, maka kapabilitas strategis Iran meningkat drastis dan mengubah keseimbangan keamanan global.
Trump Bocorkan Senjata Rahasia di Davos
Pada 21 Januari 2026, dalam forum World Economic Forum (WEF) Davos, Trump membocorkan keberadaan sistem senjata rahasia AS:
“Kami memiliki senjata yang tidak bisa saya sebutkan. Dua minggu lalu seseorang menyaksikannya. Sistem pertahanan udara mereka tidak bereaksi. Rudal darat-ke-udara naik sekitar 30 kaki, lalu kembali ke peluncur dan meledak sendiri. Semua sistem itu buatan Rusia dan Tiongkok.”
Pernyataan ini menjadi peringatan strategis terbuka kepada negara-negara yang berpotensi bermusuhan dengan AS, khususnya Iran.
Pengerahan Militer AS Skala Besar di Timur Tengah
Dalam 24 jam terakhir (20–21 Januari 2026), aktivitas militer AS meningkat drastis:
- 13 pesawat tanker KC-135R diterbangkan dari California ke Pangkalan Al-Udeid, Qatar
- Total tanker AS di kawasan: hampir 30 unit
- 15 pesawat angkut C-17 diterbangkan ke:
- Qatar
- Yordania
- Satu skuadron F-15 dikerahkan oleh Komando Pusat AS
- Drone MQ-4 patroli maritim real-time di Teluk Persia
- Sistem drone buatan Inggris ditempatkan di Pangkalan Udara Gabir
- Media The Wall Street Journal melaporkan persiapan pengiriman:
- Sistem Patriot
- Sistem THAAD
Pada 21 Januari 2026, pesawat C-40A Angkatan Udara AS yang diduga membawa Panglima Komando Pusat Jenderal Brad Cooper mendarat di pangkalan militer AS di Yordania, memicu spekulasi bahwa keputusan serangan bisa terjadi dalam hitungan hari.
Israel Ikut Siaga Perang
Media Israel melaporkan:
- IDF menaikkan status kesiapan tempur
- 3 jet tempur F-35 baru tiba di Pangkalan Udara Nevatim
- Data penerbangan menunjukkan pesawat pribadi Perdana Menteri Netanyahu lepas landas menuju lokasi luar negeri yang tidak diungkapkan
Situasi ini dinilai sangat mirip dengan kondisi menjelang eskalasi konflik Israel–Iran sebelumnya.
Kesimpulan Strategis
Dunia kini menyaksikan konfrontasi terbuka antara dua kekuatan yang:
- Saling mengancam kehancuran total
- Melakukan mobilisasi militer besar-besaran
- Menggunakan bahasa politik yang tidak lagi diplomatis, tetapi eskalatif dan eksistensial
Ancaman Trump untuk “menghapus Iran dari bumi” dan ancaman Iran untuk “membakar dunia” menempatkan kawasan Timur Tengah — dan dunia — di ambang krisis global paling berbahaya dalam beberapa dekade terakhir.
Pertanyaan besar yang kini muncul di tingkat internasional:
Apakah rezim Iran akan runtuh dari dalam akibat tekanan internal dan eksternal — atau dunia justru akan lebih dulu terseret ke dalam konflik global berskala penuh?
Situasi berkembang dari jam ke jam. Dunia menahan napas.



