Grid.ID - Raffi Ahmad mengakui dirinya sempat merasa minder ketika pertama kali berpikir untuk menantang diri berlari jarak maraton penuh. Ia bahkan tak pernah membayangkan mampu menyelesaikan lari sejauh 42 kilometer.
Presenter ternama itu mengatakan rasa ragu muncul karena dirinya merasa tidak memiliki latar belakang sebagai atlet. Kondisi fisik dan jadwal kerja yang padat membuatnya sempat pesimistis.
“Di kepala saya waktu itu cuma ada satu pikiran, rasanya nggak mungkin bisa lari 42 kilometer,” ujar Raffi Ahmad saat ditemui di kawasan TMII, Jakarta Timur, Kamis (22/01/2026).
Keraguan tersebut tidak datang sekali saja, tetapi terus muncul setiap kali ia menaikkan target latihan. Raffi menyebut tantangan mental justru lebih berat dibanding tantangan fisik.
Ia mengungkapkan bahwa rasa minder kerap menghantuinya sebelum memulai latihan jarak jauh. Namun perlahan, ia belajar untuk tidak menyerah pada rasa takut itu.
“Awalnya minder banget karena ngerasa ini bukan dunia saya,” kata Raffi.
Seiring waktu, Raffi mulai membuktikan bahwa batasan tersebut hanya ada di pikirannya. Dengan latihan yang konsisten, ia mulai percaya diri menghadapi tantangan yang lebih besar.
Keberhasilan menyelesaikan maraton penuh menjadi momen yang tak terlupakan bagi Raffi. Ia merasa pencapaian tersebut mengubah cara pandangnya terhadap diri sendiri.
“Pas akhirnya bisa menyelesaikan 42 kilometer, rasanya campur aduk antara capek, lega, dan bangga,” ucap Raffi.
Menurut Raffi, pengalaman tersebut mengajarkannya arti konsistensi dan keberanian melawan rasa ragu. Ia menyadari bahwa keterbatasan sering kali hanya ilusi yang diciptakan oleh pikiran.
Raffi juga menilai proses menuju maraton jauh lebih penting dibanding hasil akhirnya. Dari proses itu, ia belajar menikmati perjalanan tanpa terlalu tertekan oleh target.
Ia menyebut olahraga membantunya lebih mengenal kemampuan tubuh dan mentalnya sendiri. Hal itu berdampak positif pada keseharian dan cara ia menghadapi tekanan pekerjaan.
“Dari lari, saya belajar kalau yang paling berat itu sebenarnya melawan diri sendiri,” tutur Raffi.
Kini, Raffi tak lagi memandang minder sebagai penghalang utama. Ia justru melihatnya sebagai bagian dari proses menuju pencapaian yang lebih besar.
Raffi berharap ceritanya bisa memotivasi banyak orang yang merasa ragu memulai sesuatu yang baru. Menurutnya, setiap orang berhak mencoba dan gagal tanpa harus merasa takut.
Ia menegaskan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Selama ada kemauan untuk mencoba, rasa minder bisa perlahan dikalahkan. (*)
Artikel Asli



