Puncak Pekan Doa Sedunia (PDS) 2026 di Kevikepan Yogyakarta Timur digelar di Gereja Kristus Raja (GKR) Baciro, Kota Yogyakarta, Rabu (21/1) malam. Sekitar 1.000 jemaat Katolik dan Kristen dari berbagai gereja mengikuti ibadah doa bersama lintas denominasi.
Romo Andreas Novian Ardi Prihatmoko dari Paroki Kristus Raja Baciro mengatakan Pekan Doa Sedunia menjadi momentum umat Kristiani untuk mendoakan kesatuan gereja di seluruh dunia. Menurutnya, persatuan tidak berhenti pada perayaan ibadah, tetapi perlu terwujud dalam kehidupan sehari-hari meski terdapat perbedaan denominasi dan tata ibadah.
“Maka kami sebagai bagian dari umat Kristiani juga hendak merayakannya dalam doa bersama untuk, ya, kesatuan umat Kristiani sedunia sebagaimana diamanatkan oleh Tuhan Yesus,” ujar Romo Andreas, Rabu (21/1).
Pendeta Seno Adhi Noegroho dari GKJ Gondokusuman Yogyakarta, yang terlibat sebagai panitia sekaligus penyampai khotbah, menyampaikan bahwa Pekan Doa Sedunia merupakan panggilan rutin gereja yang telah berlangsung lebih dari satu abad dan diperingati setiap 18–25 Januari.
“Maka kita perlu mengingat, di minggu kedua setiap tahun di bulan Januari, tanggal 18 sampai dengan 25 Januari, itu adalah panggilan untuk kita mengingat senantiasa, ya, sebagai apa bagian dari anggota tubuh Kristus,” kata Pendeta Seno.
Ketua Badan Kerja Sama Antar Denominasi Kristen (BKSADK) Daerah Istimewa Yogyakarta, Pdt. Em. Agus Haryanto, mengatakan Pekan Doa Sedunia 2026 di Yogyakarta merupakan pelaksanaan ke-11 hasil kerja sama Kevikepan Yogyakarta Timur dengan BKSADK DIY. Ia menjelaskan tema PDS tahun ini mengangkat ayat Efesus 4:4 tentang kesatuan tubuh Kristus.
“PDS tahun ini dengan tema: ‘Satu tubuh dan satu Roh, sebagaimana semua telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu,’” kata Agus.
Menurutnya, tema tersebut menegaskan bahwa orang percaya merupakan satu kesatuan dalam tubuh Kristus dan dipersatukan dalam pimpinan Roh Kudus, sekaligus menjadi pengingat untuk tetap menjaga iman dan kepedulian sosial di tengah dinamika dunia.
Pelaksanaan PDS 2026 di Paroki Baciro dirancang dalam tiga rangkaian kegiatan. Kegiatan pertama berupa seminar ekumenisme pada 8 Januari 2026. Kegiatan kedua adalah ibadah puncak pada 21 Januari 2026 yang mempertemukan umat Katolik dan Kristen dalam satu perayaan doa. Kegiatan ketiga berupa aksi sosial melalui pengumpulan persembahan yang akan disalurkan ke Panti Asuhan Helen Keller di Wirobrajan.
Ketua Panitia Pekan Doa Sedunia 2026, Roland Modestus Jemuru, menyebut panitia menargetkan sekitar seribu peserta dari berbagai gereja Katolik dan Kristen di Yogyakarta. Kapasitas gereja yang sekitar 800 orang diantisipasi dengan pengaturan ruang agar seluruh jemaat tetap dapat mengikuti ibadah secara nyaman.
“Kami memang menargetkan sekitar seribuan peserta dari berbagai gereja, termasuk juga Gereja Baciro dan gereja-gereja sekitarnya, baik yang Katolik maupun yang Kristen,” ujar Roland.
Ibadah puncak PDS 2026 juga diisi penampilan grup vokal dari BODA Integrity Voice, ekstrakurikuler SMA BOPKRI 2 Yogyakarta. Mei, salah satu anggota paduan suara, mengatakan kelompoknya membawakan dua lagu pujian di hadapan ratusan jemaat.
“Kita merasa terhormat banget dan bersyukur banget bisa bersama-sama dan ikut berpartisipasi memuliakan nama Tuhan di sini,” kata Mei.
Sementara itu, Fx. Sunaryo, jemaat Paroki Santo Albertus Agung Jetis, menilai kegiatan doa bersama lintas gereja memberikan pengalaman iman yang memperkaya relasi antarumat.
“Yang pertama adalah kita untuk memperkaya pengalaman iman jelas, kebersamaan dengan paroki lain, dengan gereja lain,” ujar Sunaryo.



