Coco Chanel dan Italia bak kisah pelarian dan penemuan. Pelarian dari rasa duka dan penemuan akan inspirasi tanpa akhir.
Pada awal tahun 1920, Coco yang tengah tenggelam dalam duka usai kematian kekasihnya Arthur ‘Boy’ Capel, diajak berpelesir ke Venesia oleh kedua sahabatnya, pasutri Misia dan pelukis José Maria Sert.
Pemandangan yang menyambut mata Coco—paduan arsitektur Byzantine, Gotik dan Renaisans serta gondola-gondola yang hilir mudik di antara kanal-kanal—mengunci kekagumannya.
Ditambah lagi, lambang kota The Lion of Saint Mark berupa patung perunggu berbentuk singa bersayap, serasi dengan astrologinya.
Romansa Coco dengan Italia tak berakhir di Venesia. Pada era 1930an, ia akrab bergaul dengan sutradara ternama Luchino Visconti yang kerap mengundangnya berlibur di vila milik keluarga aristokratnya, Villa Erba di tepi Danau Como.
Kolaborasi di antara keduanya pun menjalar ke area karya. Ketika awal 1960an Luchino menyutradarai episode Il Lavoro dalam film antologi Boccaccio ’70, Coco membuatkan seluruh kostum aktris Romy Schneider, si pemeran utama.
Film tersebut seolah menegaskan kuatnya ikatan Chanel dengan lanskap budaya Italia. Warisan ini pun terus bergema, bahkan puluhan tahun kemudian, ketika Italia kembali menjadi panggung bagi narasi visual rumah mode tersebut dalam koleksi Cruise 2026.
Dirilis pada musim semi lalu, tim desain Chanel memutuskan kembali ke Italia, kembali ke Danau Como. Hotel legendaris Villa d’Este yang bertetangga dengan Villa Erba, jadi pilihan lokasi peragaan.
Menariknya, ketika koleksi ini lalu dibawa menyeberang samudera untuk diperagakan di Asia, Singapura menjadi nyonya rumah. Di penginapan historis Raffles Hotel, koleksi Chanel Cruise 2025/26 digelar kembali di hadapan pers dan selebritas Asia serta duta Chanel Tilda Swinton pada awal November 2025.
Di teras bergaya kolonial serba putih, koleksi pun dimulai serba putih. Baju renang putih dan luaran putih serupa peignoir alias jubah mandi.
Koleksi terus bergerak, warna putih dan hitam tampak mendominasi. Warna menyala adalah palet bunga Poppy. Siluet longgar dikedepankan, gaya feminin jadi minoritas.
Selain tweed khas Chanel yang hadir di sebagian besar busana, datang pula setelan berbahan renda, aplikasi kristal di tepi dan sebagai aksen, menempatkan gaya keseharian di dalam frekuensi yang berbeda.
Intip saja luaran baju renang berupa terusan panjang berkerah. Tebaran gambar bunga Kamelia di bagian dalamnya adalah eksekusi cerdas, memungkinkan pengenanya memamerkan dua busana sekaligus.
Dari busana pagi hingga malam hari, koleksi ini tidak memberi ruang untuk tampil sekadarnya. Tiga komponen seragam pergaulan Coco Chanel dan kelompok sosialitanya pada era Venesia—beach pyjama, setelan linen putih dan gaun malam—mengalami rekonstruksinya masing-masing.
Piyama pantai jadi setelan kaus polo dan celana lebar bergaris-garis. Reinkarnasi setelan linen putih adalah paduan tunik berkerah dan celana palazzo berbahan rajut. Mantra busana malam adalah keglamoran dramatis, seperti jumpsuit semburat dadu berkilat dengan cape senada.
Pada area aksesori, tas-tas koleksi Cruise kali ini menjamah semua ukuran. Tas rafia dari makro hingga mini untuk liburan musim panas. Makro untuk saat berenang atau berjemur, mini untuk menemani makan malam di tepi pantai. Tas malam dari persegi motif Macan Tutul hingga bulat serupa bola kristal.
Sementara di bagian alas kaki, jari-jari dibiarkan terbuka. Model selop, sandal gladiator berhak tinggi atau datar, semuanya menuntut barisan kuku terawat apik.
Peragaan usai, para tamu berbaur melanjutkan hangat malam bersama penampilan penyanyi asal Inggris Raye, musisi jazz Indonesia Rio Sidik dan DJ Nicolette.
Seperti hari dan malam seorang Coco Chanel di tanah Italia, ketika lingkaran sosialnya beradu gaya dan gagasan, saat keglamoran bersanding dengan kultur. Sebuah tempat di mana ia tak hanya menemukan senyum kembali, tapi juga inspirasi tanpa ujung.
Penulis: Rifina Marie





