Seiring terus memburuknya kondisi ekonomi Tiongkok dan meningkatnya tekanan stabilitas sosial di tingkat daerah, jumlah warga yang datang ke Beijing untuk mengajukan pengaduan (petisi) melonjak tajam. Menurut sejumlah warga yang datang ke Beijing untuk mengajukan petisi, sistem kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan saling berkolusi serta terus melakukan penindasan, membuat para pemohon keadilan terjerumus ke dalam keputusasaan. Akibatnya, semakin banyak orang memilih langsung mendatangi Zhongnanhai untuk menuntut hak mereka
EtIndonesia. Seorang pemohon keadilan asal Shanghai berusia 70 tahun, Liu Dongbao, telah berulang kali datang ke Beijing untuk mengajukan petisi. Selama itu, ia pernah ditahan di penjara gelap, dipukuli, hingga kedua kakinya cacat akibat penganiayaan dan belum pernah pulih hingga kini.
Pada 16 Januari, ia kembali ke Beijing dengan menyeret kakinya yang cacat untuk mengajukan petisi. Ia mengatakan bahwa jumlah pemohon di Kantor Pengaduan saat ini meningkat sedikitnya sepuluh kali lipat dibandingkan sebelumnya.
“Tidak bisa lagi mengantre, akhirnya lari ke Zhongnanhai. Sekarang jumlah orangnya bertambah berkali-kali lipat, untuk bisa mengantri saja totalnya perlu 20 jam. Di usia kami yang sudah tua, mana sanggup? Lebih baik langsung ke Zhongnanhai. Semua orang berpikir seperti itu,” ujar Liu Dongbao.
Seorang pemohon lama yang menetap di Beijing, Liu Mei, juga mengatakan bahwa meskipun PKT terus melakukan penindasan, jumlah orang yang datang ke Beijing untuk mengajukan petisi tetap meningkat pesat. Ia menyebutkan bahwa beberapa tahun lalu saja sudah beredar kabar bahwa jumlah pemohon tetap yang menetap di Beijing mencapai sekitar 2 juta orang, dan memperkirakan angka saat ini jauh lebih besar.
“Saya sebagian besar waktu tinggal di Beijing. Beberapa tahun lalu sudah dikatakan bahwa jumlah penduduk tetap yang tertahan di Beijing mencapai lebih dari 2 juta orang. Rumah sudah digusur, semuanya hilang. Pulang ke kampung juga sudah tidak ada harapan, jadi kami bertahan hidup di Beijing, sambil bekerja dan sambil mengajukan petisi. Begitu ada ketidakadilan, semua datang ke sini. Jumlah orangnya jauh lebih banyak daripada biasanya,” ujar Liu Mei.
Dalam kunjungannya kali ini, Liu Dongbao langsung menuju Zhongnanhai untuk mengajukan petisi. Pada 16 Januari pagi, saat masih berada di dalam bus dan dua halte lagi sebelum tiba di Zhongnanhai, ia dibawa oleh polisi yang sedang melakukan pemeriksaan ke Kantor Polisi Zhongnanhai. Di sana, ia melihat sebuah tempat seperti gedung bioskop yang digunakan untuk menahan sejumlah besar pemohon keadilan. Mobil polisi terus-menerus mengangkut para pemohon ke lokasi tersebut, lalu mereka dipisahkan dan diserahkan kepada petugas stabilitas dari daerah asal masing-masing.
“Saya memang menuju Zhongnanhai, saya tahu betul. Dulu tidak banyak orang. Bus besar paling banyak hanya dua atau tiga bus per hari. Sekarang luar biasa, sekali datang bisa ratusan orang,” ujar Liu Dongbao.
Seorang warga daratan Tiongkok bernama Yube mengatakan bahwa kesewenang-wenangan dan kekerasan kekuasaan PKT telah membuat masyarakat berada di ambang kehancuran, dan rakyat hidup dalam penderitaan yang mendalam. Menurutnya, masyarakat yang ingin mencari keadilan melalui jalur hukum sama sekali tidak memiliki jalan keluar.
“Kami rakyat kecil benar-benar menderita, tidak punya tempat untuk mencari keadilan. Orang seperti Gui Shanhong, yang begitu jujur dan hanya mengajukan petisi secara normal ke Kantor Pengaduan Nasional, bisa sampai dipukuli hingga meninggal. Rezim ini membangkitkan kemarahan rakyat,” katanya.
Laporan wawancara oleh Hong Ning dan Huang Yuning, reporter New Tang Dynasty Television.




