Profil Trofi Piala Dunia dari Sejarah hingga Kandungan Emas

tvrinews.com
6 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Kunta Bayu Waskita

TVRINews - Jakarta

Mulai Piala Dunia 1974 di Jerman Barat, FIFA memperkenalkan trofi baru yang masih digunakan hingga sekarang, yakni FIFA World Cup Trophy. 

Kedatangan Trofi Piala Dunia ke Jakarta, tepatnya di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (22/1/2026), bukan sekadar agenda seremonial.

Kehadirannya membawa simbol sejarah, prestise, dan mimpi global sepak bola dunia ke hadapan publik Tanah Air. 

Trofi Piala Dunia FIFA merupakan simbol tertinggi dalam sepak bola internasional.

Lebih dari sekadar piala juara, trofi ini merepresentasikan sejarah panjang, prestise global, serta impian para pemain dari seluruh penjuru dunia.

Tiap empat tahun sekali satu tim juara berhak mengangkat trofi ini, sekaligus menjadi sebuah momen yang menjadi puncak karier bagi banyak pesepak bola.

Geraldo, salah satu peserta yang hadir dalam acara bertajuk FIFA World CupTM Trophy Tour by Coca-Cola di JCC, mengaku terkesan dengan kedatangan trofi Piala Dunia ke Jakarta.

"Kebanggaan bagi Indonesia bisa menjadi salah satu dari sedikit negara yang dikunjungi trofi Piala Dunia," ujar Gerado.

"Trofi Piala Dunia merupakan trofi yang bergengsi. Ini kesempatan emas buat kita untuk melihat langsung emas yang sangat bernilai. Ada aura yang berbeda dari trofi ini," pria asal Jakarta itu menambahkan.

Kunjungan ini juga merupakan momen langka karena terakhir kali trofi asli singgah di Indonesia adalah lebih dari satu dekade yang lalu (2014).

Sejarah Trofi Piala Dunia

Dikutip dari FIFA.com, pada awal penyelenggaraan Piala Dunia 1930 hingga 1970, trofi yang diperebutkan dikenal sebagai Jules Rimet Trophy, yang diambil dari nama Presiden FIFA saat itu.

Trofi ini menampilkan patung Dewi Nike, simbol kemenangan dalam mitologi Yunani.

Sesuai aturan FIFA, negara yang berhasil menjuarai Piala Dunia sebanyak tiga kali berhak memiliki trofi tersebut secara permanen.

Brasil memenuhi syarat itu pada 1970 dan membawa pulang Jules Rimet Trophy.
Mulai Piala Dunia 1974 di Jerman Barat, FIFA memperkenalkan trofi baru yang masih digunakan hingga sekarang, yakni FIFA World Cup Trophy.

Trofi ini dirancang oleh seniman Italia Silvio Gazzaniga dan diproduksi oleh Bertoni Milano. Sejak saat itu, trofi inilah yang menjadi lambang supremasi sepak bola dunia.

Tinggi, Berat, dan Material

Trofi Piala Dunia memiliki tinggi 36,8 sentimeter dan berat sekitar 6,1 kilogram. Sekitar 4,9 kilogram dari total beratnya adalah emas murni.

Trofi ini dibuat dari emas 18 karat, yang berarti kandungan emasnya mencapai kurang lebih 75 persen.

Bagian dasar trofi terbuat dari malachite, batu semi mulia berwarna hijau, yang memberikan sentuhan artistik sekaligus memperkuat kesan eksklusif.

Kombinasi emas dan malachite menjadikan trofi ini tidak hanya bernilai tinggi secara material, tetapi juga estetis.

Makna Simbol dan Desain

Desain trofi menampilkan dua figur manusia yang menopang dan mengangkat bola dunia. Figur tersebut melambangkan perjuangan, kerja sama, dan pencapaian tertinggi manusia.

Bola dunia di bagian atas menegaskan sifat Piala Dunia sebagai kompetisi global yang menyatukan bangsa-bangsa.

Lekukan dinamis pada tubuh trofi mencerminkan energi, pergerakan, dan emosi yang menjadi inti dari sepak bola.

Tidak ada sudut kaku. Semuanya mengalir, seolah menangkap momen kemenangan yang penuh luapan perasaan.

Pada bagian bawah trofi, terukir nama negara-negara juara Piala Dunia sejak 1974, menjadikannya sebagai catatan sejarah hidup yang terus bertambah setiap edisi turnamen.

Trofi asli hanya dipajang saat seremoni penyerahan di lapangan setelah laga final. Setelah itu, trofi tersebut harus dikembalikan ke markas FIFA di Zurich, Swiss.

Sebagai gantinya, tim pemenang diberikan Piala Pemenang Piala Dunia FIFA (FIFA World Cup Winners' Trophy), yaitu replika yang terbuat dari perunggu berlapis emas (bukan emas padat seperti aslinya).

Menariknya, nama-nama negara pemenang yang diukir pada bagian dasar trofi asli, diperkirakan akan penuh dengan nama pemenang pada edisi tahun 2038.

Editor: Kunta Bayu Waskita

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Cerita Hakim Anwar Usman Sering Bolos Sidang MK karena Sakit: Saya Tak Pernah Check-Up
• 13 jam lalusuara.com
thumb
Jemaah Haji Ponorogo 2026 Lampaui Kuota, 127 Calhaj Masuk Cadangan
• 2 jam lalurepublika.co.id
thumb
Hujan Deras di Jakarta, 45 RT dan 22 Ruas Jalan Terendam Banjir
• 10 jam laluokezone.com
thumb
6 Cara Menghilangkan Kebiasaan Mendengkur saat Tidur
• 9 jam lalubeautynesia.id
thumb
Prabowo di Forum Ekonomi Dunia: Tidak Ada Kemakmuran Tanpa Perdamaian
• 6 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.