REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Presiden RI Prabowo Subianto menjelaskan alasan ketidakhadirannya sebagai pembicara kunci pada World Economic Forum (WEF) 2025. Prabowo mengungkapkan bahwa pada waktu itu ia baru dua bulan menjabat sebagai presiden, sehingga merasa belum memiliki cukup pencapaian untuk disampaikan.
Dalam sambutannya di hadapan para pemimpin negara pada WEF 2026 di Davos, Swiss, Kamis, Prabowo menyatakan, "Saya diundang untuk berbicara tahun lalu di sini dan saya menolak. Mengapa? Karena jika saya datang tahun lalu, saya baru memimpin pemerintahan saya selama dua bulan. Jadi apa yang bisa saya katakan?" katanya dalam sambutannya yang disaksikan melalui akun YouTube Sekretariat Presiden dari Jakarta, Kamis malam.
Tahun ini, Prabowo hadir di mimbar WEF 2026 dengan percaya diri, memaparkan pencapaian satu tahun pemerintahannya bersama Kabinet Merah Putih. Ia menyoroti kemajuan signifikan dalam penyederhanaan birokrasi dan penghapusan ratusan peraturan yang dinilainya menghambat keadilan dan menciptakan budaya korupsi.
"Dalam satu tahun, kita telah mencapai kemajuan yang luar biasa, reformasi yang luar biasa. Ratusan peraturan yang tidak masuk akal telah kita hapus," ujar Prabowo.
Prabowo menambahkan, negara harus memiliki administrasi publik yang efisien dan menekankan pentingnya budaya baru dalam birokrasi yang melayani kepentingan umum, serta menghindari kolusi dengan pengusaha yang serakah.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Lebih lanjut, Prabowo menawarkan Indonesia sebagai destinasi investasi yang terbuka baik bagi investor dalam maupun luar negeri. Ia menegaskan bahwa stabilitas politik dan ekonomi merupakan prasyarat utama untuk investasi, didukung dengan kepastian penegakan hukum yang adil.
"Indonesia saat ini menawarkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dengan stabilitas. Kita mungkin sederhana dan berada di bawah radar, tetapi kita percaya pada bukti," tutup Prabowo.