FAJAR, MAROS – Lima korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang ditemukan di Gunung Bulusaraung Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, bakal dievakuasi via udara hari ini, Jumat, 23 Januari 2026.
Komandan Lanud Sultan Hasanuddin, Marsekal Pertama (Marsma) TNI Arifaini Nur Dwiyanto, mengatakan untuk proses evakuasi korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung rencananya akan difokuskan melalui jalur udara dengan memanfaatkan jendela cuaca pagi hari.
Dia menjelaskan, jika sejak pukul 06.30 Wita pihaknya telah melaksanakan briefing penerbangan bersama satuan udara yang terlibat dalam operasi pencarian dan evakuasi.
“Jadi dari pemaparan BMKG, kami melihat pukul 08.00 hingga 11.00 Wita menjadi window time terbaik. Pada ketinggian maksimal 5.000 feet, pertumbuhan awan tidak begitu banyak, hanya awan-awan scatter,” jelasnya Jumat, 23 Januari 2026.
Dia mengatakan dengan kondisi tersebut, kata dia, helikopter memungkinkan untuk melakukan evakuasi lima body part korban langsung dari puncak Gunung Bulusaraung yang berada di ketinggian sekitar 4.000 hingga 4.200 feet.
Strategi ini dipilih karena jalur evakuasi dengan berjalan kaki menuju helipad di bawah dinilai tidak efektif dan memakan waktu hingga tiga jam.
“Kita lihat sendiri, jangankan tiga jam, satu jam saja cuaca bisa berubah sangat cepat,” katanya.
Dia mengatakan sejak pukul 05.00 Wita tim SAR sudah bergerak dari bawah untuk membawa lima paket korban menuju puncak.
Proses pengangkatan dari lereng ke puncak diperkirakan memakan waktu sekitar tiga jam.
“Kami targetkan pukul 08.00 sampai 09.00 Wita sudah berada di puncak. Di saat itu helikopter sudah standby untuk menjemput,” jelasnya.
Dalam operasi ini, dua helikopter milik Basarnas dan TNI AU dikerahkan.
Evakuasi akan dilakukan secara bergantian tanpa harus menunggu seluruh korban terkumpul di puncak.
“Begitu satu sampai dua jenazah sudah tiba di puncak, langsung dijemput helikopter. Satu heli lainnya sudah disiapkan untuk korban berikutnya,” jelasnya.
Selain itu, pesawat modifikasi cuaca juga dijadwalkan terbang satu jam lebih awal untuk mencegah pertumbuhan awan di lokasi evakuasi.
Upaya penjemputan langsung ke titik korban sebelumnya sempat terkendala faktor keselamatan penerbangan.
“Pertumbuhan awan sangat cepat. Pandangan pilot hanya sekitar 15 meter dan berada di sisi tebing. Dari segi safety, tidak memungkinkan helikopter masuk ke titik itu,” jelasnya.
Untuk satu korban sebelumnya telah berhasil dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara melalui jalur darat pada malam hari.
Sementara lima korban lainnya kini dalam proses penarikan menuju puncak.
“Medannya sangat terjal, jaraknya sekitar 500 meter dengan elevasi 4.200 feet. Evakuasi dilakukan menggunakan tali. Strategi kita adalah menarik korban ke atas, tidak perlu dibawa turun ke Posko Tompobulu,” tutupnya. (rin)



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482122/original/083540300_1769161252-1000694228.jpg)
