Chaosnya KRL Green Line saat Hujan Deras: Berdesakan, Pingsan, Emosi Memuncak

kompas.com
13 jam lalu
Cover Berita

TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com - Hujan deras yang mengguyur wilayah Tangerang Selatan sejak Kamis (22/1/2026), berdampak pada perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL) Green Line lintas Tanah Abang–Rangkasbitung.

Gangguan operasional membuat perjalanan kereta tersendat, gerbong dipadati penumpang, hingga memicu kepanikan saat jam sibuk pagi.

Gangguan terjadi akibat tiang listrik aliran atas (LAA) yang menjorok ke jalur kereta di lintas Stasiun Maja–Stasiun Tigaraksa.

Akibatnya, perjalanan KRL Green Line hanya melayani relasi Tanah Abang–Tigaraksa pulang-pergi (PP) dan tidak melanjutkan perjalanan hingga Rangkasbitung.

Manager Public Relations KAI Commuter, Leza Arlan, mengatakan penanganan gangguan telah dilakukan sejak pagi hari.

“Estimasi waktu perbaikan kendala tersebut memakan waktu kurang lebih dua jam, terhitung mulai pukul 06.00 WIB,” ujar Leza dalam keterangannya.

Meski perbaikan fisik telah dilakukan, proses normalisasi jalur membuat perjalanan KRL masih mengalami keterlambatan hingga sore hari.

Baca juga: Pengemudi Meninggal Terjebak Macet akibat Banjir, Pramono: Kami Sangat Berduka

Penumpang Berdesakan, Emosi Sempat Memuncak

Pantauan Kompas.com di Stasiun Pondok Ranji, Ciputat, menunjukkan kepadatan penumpang di peron jalur Green Line akibat keterlambatan rangkaian menuju Tanah Abang.

Kereta yang tiba di stasiun sudah dalam kondisi penuh sesak, nyaris tanpa ruang kosong.

“Jangan dorong-dorongan dong, sabar,” teriak salah satu penumpang saat situasi mulai tidak terkendali.

Petugas stasiun terus memberikan imbauan melalui pengeras suara agar penumpang tetap mengutamakan keselamatan dan mengikuti arahan petugas selama proses naik dan turun kereta.

Baca juga: Banjir Jakarta Meluas, Pramono Ungkap Penyebab Wilayah yang Tadinya Aman Kini Terendam

Hujan dan Banjir Membuat Penumpang Bertahan Menunggu KRL

Meski perjalanan terganggu, sebagian penumpang memilih tetap menunggu KRL dibanding beralih ke transportasi online.

Cuaca ekstrem berupa hujan yang tidak kunjung reda serta banjir di sejumlah titik membuat perjalanan darat dinilai tidak efektif.

“Kalau Gojek atau Gocar sekarang susah, hujan dari tadi enggak berhenti, banjir di mana-mana,” ujar Isti (27), karyawan swasta yang ditemui di Stasiun Pondok Ranji.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Ia juga mempertimbangkan potensi lonjakan tarif transportasi online saat cuaca buruk.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Rencana Purbaya Kenakan Bea Keluar Batu Bara Terganjal Aturan Teknis ESDM
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Adu Argumen Bupati dan Eks Bupati Sleman di Sidang Korupsi Dana Hibah Wisata
• 51 menit lalukumparan.com
thumb
Legislator PKB: Tak Ada Pendidikan Berkualitas Tanpa Kesejahteraan Guru
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Ironi Kota Antikorupsi: Raih Indeks Tertinggi, Wali Kota Madiun Justru Jadi Tersangka KPK | ROSI
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
[FULL] Kabiddokkes Sebut Korban Ketiga ATR 42-500 Teridentifikasi Sebagai Esther Aprilita
• 7 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.