Oleh: Heru Subagia
(Ketua Kagama Cirebon)
Tulisan ini bermaksud mengingatkan agar Pemerintah bukan hanya memberikan sanksi dan ancaman tetapi juga memberikan solusi bahkan juga infrastruktur hukum dan lainnya bagi warga Indonesia yang berkarier atau mencari kehidupan layak di negara asing.
Dalam konteks ini, menyoroti sedang viral video yang menampilkan seorang warga negara RI menjadi bagian tentara asing .
Pertanyaan, Siapa yang harusnya disalahkan dan bertanggung jawab?
Sudah banyak persoalan dan juga kejadian bagaimana warga Indonesia tiba-tiba viral tergabung dalam bagian operasi khusus militer di medan peperangan negara asing. Warga Indonesia menjadi tentara di Rusia dan Ukraina dan tentunya banyak juga yang tidak mengaku atau terdeteksi.
Sebagai warga sipil biasa, penulis mencoba memberikan pembelaan dalam perspektif kemanusiaan dan ketenagakerjaan dan juga politik. Keseluruhan pemikiran itu disinkronkan dalam konteks kekinian.
Jangan Bicara Nasionalis
Adalah kebohongan bahwa stage holder bangsa ini masih setia sepenuh hati mempunyai jiwa patriotisme dan nasionalis. Pasti dan tentunya ini berpijak pada esensi bagaimana para pejabat para pemegang kekuasaan saat ini mengendalikan memerintah dan juga sedang berpikir untuk melanjutkan kekuasaannya dan terus terang saya katakan dalam konteks nasionalisme dan patriotisme jauh dari harapan jauh dari kesempurnaan.
Bagaimana penjarahan masalah SDA dan maraknya korupsi masalah di negeri ini dan banyaknya Pejabat Pusat dan Daerah terkena OTT adalah bukti jika mereka yang diperjuangkan bukan berorientasi tugas negara, melayani masyarakat dan juga bentuk kepatuhan kepada Pancasila dan UUD 45.
Berhenti Menghakimi
0ejabat dan warga beserta entitas bangsa ini sudah layak disebutkan kehilangan identitas, nasionalis dan loyalitas. Sudahlah berhentilah kita melakukan pembohongan publik men-judmen atau memvonis bagi warga negara ya yang sedang mencari nafkah seperti Mbak Syifa yang viral warga negara RI menjadi tentara di Amerika Serikat.
Bagi Perempuan Warga Negara Indonesia (WNI) Kezia Syifa memutuskan untuk bergabung dengan Army National Guard di Maryland, Amerika Serikat adalah keterpaksaan paling pahit di tengah isu sulitnya atau mahalnya untuk menjadi bahkan dari aparatur pemerintah Indonesia.
Diketahui baru-baru ini sebuah video viral yang menontonkan seorang WNI memilih menjadi tentara Amerika Serikat (AS). Video tersebut viral saat diantar oleh orang tua dan kerabatnya di salah satu bandara.
Mahal Menjadi Tentara Indonesia
Dalam tayangan video, Syifa lantas muncul membeberkan sejumlah alasan hingga dirinya memilih berkarier sebagai tentara Amerika. Dalam video yang beredar, Syifa menyebutkan setidaknya tiga alasan yang mendasarinya.
“Jadi alasan aku kenapa mau jadi tentara Amerika, yang pertama adalah, jadi tentara di Indonesia itu sulit guys, harus keluarin duit ratusan juta,”
Betul, sesuai UU Kewarganegaraan, pada prinsipnya, WNI tidak boleh menjadi tentara asing kecuali mendapatkan izin dari Presiden. Tetapi konstruksi dan infiltrasi masalah dan pemahaman sangat kompleks dan rumit. Bukan hanya berpikir pelanggaran UU, tetapi paradoks internal dalam diri Mbak Syifa dan Pemerintah RI Sendiri.
Tamparan Prabowo
Dari urusan sulitnya dan mahalnya menjadi Abdi Negara hingga bagaimana pun harusnya pemerintah bertanggung jawab dalam urusan penyediaan tenaga kerja. Sangat ironi jika kualitas Mbak Syifa yang lulusan Amerika dicampakkan di negeri sendiri.
Penulis berharap Presiden Prabowo yang juga berasal dari militer akan merespons cepat kejadian pahit warga yang hijrah ke Luar Negeri menjadi Tentara hanya karena menjadi bagian TNI berbiaya mahal. Apa betul begitu hingga Mbak Syifa berakhir berkarir militer di negeri Pama Sam? Prabowo harusnya malu bahkan terluka dengan melihat anak bangsa ini justru berkarier di kedinasan militer negara lain. (*)





