Jakarta (ANTARA) - Perusahaan-perusahaan energi Indonesia menegaskan komitmennya dalam mendukung pencapaian karbon bersih/Net Zero Emission (NZE) melalui strategi transisi energi, demikian yang disampaikan dalam sesi panel diskusi di Paviliun Indonesia, World Economic Forum (WEF) Davos, Swiss.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri dalam pernyataan diterima di Jakarta, Jumat menegaskan peran strategis perusahaan negara itu sebagai motor penggerak transformasi energi nasional melalui pengembangan energi rendah karbon, penguatan portofolio energi bersih, serta pemanfaatan teknologi bioenergi, panas bumi dan penangkapan karbon.
Upaya itu dilakukan pihaknya dengan tetap menjaga ketahanan serta keterjangkauan energi bagi masyarakat.
Lebih lanjut, Simon dalam diskusi yang bertajuk Powering the Future: Indonesia’s Strategy for a Just and Ambitious Energy Transition, pada Rabu (21/1) tersebut menyampaikan bahwa pihaknya menerapkan dual growth strategy yang memaksimalkan bisnis yang sudah ada (existing) dengan terus meningkatkan produksi di sektor hulu yang masih memiliki potensi besar.
Baca juga: Danantara pastikan teknologi PLTSa penuhi standar emisi ketat
"Sekaligus mengembangkan bisnis rendah karbon, salah satunya melalui pembangunan ekosistem biofuel, di mana Indonesia telah berhasil mengimplementasikan program biodiesel B40,” kata Simon.
Presiden Direktur RGE Indonesia Bernard Riedo mengungkapkan bahwa pihaknya terus mengembangkan proyek energi rendah karbon, termasuk melalui investasi global yang berorientasi pada sumber energi bersih.
Pihaknya kata dia, memiliki rencana mengembangkan gas alam cair (LNG) di Kanada yang didukung oleh pasokan listrik dari pembangkit hidro.
"Ini menjadi salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan. Dengan demikian, setelah konstruksi selesai, proyek tersebut dapat diklaim sebagai rencana energi net zero karena sumber energinya berasal dari listrik hidro,” ujar Bernard.
Sementara itu, Presiden Direktur Indika Energy Azis Armand menekankan pentingnya kepastian kebijakan serta pendekatan transisi energi yang rasional agar investasi berkelanjutan dapat tumbuh dan teknologi rendah karbon diadopsi secara luas.
Baca juga: IBCSD dorong industri di Jabar terapkan teknologi bersih tekan emisi
“Dalam proses transisi tingkat korporasi, prioritas utama kami menjaga keamanan energi dan ketahanan bisnis. Setiap langkah transisi harus masuk akal secara ekonomi dan finansial, serta memperkuat keamanan energi dan resiliensi usaha. Dalam konteks Indika Energy, transisi energi harus memperkuat platform bisnis agar dapat tumbuh secara berkelanjutan dan tetap layak secara finansial,” kata Azis.
Pemerintah Indonesia menargetkan bauran energi baru dan terbarukan sebesar 23 persen pada 2025 sebagai bagian dari komitmen penurunan emisi nasional menuju NZE 2060.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri dalam pernyataan diterima di Jakarta, Jumat menegaskan peran strategis perusahaan negara itu sebagai motor penggerak transformasi energi nasional melalui pengembangan energi rendah karbon, penguatan portofolio energi bersih, serta pemanfaatan teknologi bioenergi, panas bumi dan penangkapan karbon.
Upaya itu dilakukan pihaknya dengan tetap menjaga ketahanan serta keterjangkauan energi bagi masyarakat.
Lebih lanjut, Simon dalam diskusi yang bertajuk Powering the Future: Indonesia’s Strategy for a Just and Ambitious Energy Transition, pada Rabu (21/1) tersebut menyampaikan bahwa pihaknya menerapkan dual growth strategy yang memaksimalkan bisnis yang sudah ada (existing) dengan terus meningkatkan produksi di sektor hulu yang masih memiliki potensi besar.
Baca juga: Danantara pastikan teknologi PLTSa penuhi standar emisi ketat
"Sekaligus mengembangkan bisnis rendah karbon, salah satunya melalui pembangunan ekosistem biofuel, di mana Indonesia telah berhasil mengimplementasikan program biodiesel B40,” kata Simon.
Presiden Direktur RGE Indonesia Bernard Riedo mengungkapkan bahwa pihaknya terus mengembangkan proyek energi rendah karbon, termasuk melalui investasi global yang berorientasi pada sumber energi bersih.
Pihaknya kata dia, memiliki rencana mengembangkan gas alam cair (LNG) di Kanada yang didukung oleh pasokan listrik dari pembangkit hidro.
"Ini menjadi salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan. Dengan demikian, setelah konstruksi selesai, proyek tersebut dapat diklaim sebagai rencana energi net zero karena sumber energinya berasal dari listrik hidro,” ujar Bernard.
Sementara itu, Presiden Direktur Indika Energy Azis Armand menekankan pentingnya kepastian kebijakan serta pendekatan transisi energi yang rasional agar investasi berkelanjutan dapat tumbuh dan teknologi rendah karbon diadopsi secara luas.
Baca juga: IBCSD dorong industri di Jabar terapkan teknologi bersih tekan emisi
“Dalam proses transisi tingkat korporasi, prioritas utama kami menjaga keamanan energi dan ketahanan bisnis. Setiap langkah transisi harus masuk akal secara ekonomi dan finansial, serta memperkuat keamanan energi dan resiliensi usaha. Dalam konteks Indika Energy, transisi energi harus memperkuat platform bisnis agar dapat tumbuh secara berkelanjutan dan tetap layak secara finansial,” kata Azis.
Pemerintah Indonesia menargetkan bauran energi baru dan terbarukan sebesar 23 persen pada 2025 sebagai bagian dari komitmen penurunan emisi nasional menuju NZE 2060.




