Indonesia serukan aksi global pulihkan ekosistem laut di WEF Davos

antaranews.com
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Indonesia menyerukan perlunya aksi global dalam memulihkan ekosistem laut dari dampak perubahan iklim, pencemaran, hingga praktik penangkapan ikan ilegal.

Dalam forum Velocity of the Blue Economy, bagian dari World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Kamis (22/1) waktu setempat, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyatakan aksi global menjadi penting karena kerusakan laut menjadi ancaman serius bagi dunia.

“Lautan kita menghadapi ancaman serius, pemanasan laut, meningkatnya keasaman, menurunnya stok ikan, dan pencemaran laut. Lautan kita memanggil kita semua untuk bertindak bersama menyelamatkan, dan mengelolanya dengan tanggung jawab,” ujarnya dalam keterangan pers Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Jakarta, Jumat.

Trenggono menyatakan Indonesia sebagai negara kepulauan menegaskan komitmen memimpin upaya global melalui program Ekonomi Biru.

Baca juga: Riset BRIN: Faktor emisi karbon Jawa-Sumatra tertinggi di Indonesia

Ia menyebut pemerintah Indonesia telah memperluas kawasan konservasi laut hingga lebih dari 30 juta hektare, dengan target mencapai 97,5 juta hektare pada 2045.

Sistem kuota penangkapan ikan juga disebutnya tengah disiapkan untuk menekan praktik penangkapan ikan berlebih (overfishing) dan ilegal atau illegal fishing.

Selain itu, Trenggono menyebut budidaya perikanan dikembangkan secara inovatif, berkelanjutan, dan inklusif guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga ketahanan pangan.

Ia menambahkan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil juga dilindungi dari aktivitas ekonomi yang berpotensi merusak ekosistem.

Trenggono menekankan pentingnya ekosistem pesisir sebagai penyerap karbon biru.

Indonesia disebut memiliki cadangan karbon biru terbesar di dunia, menyimpan sekitar 17 persen cadangan global.

“Ekosistem pesisir ini adalah penyerap karbon yang sangat penting, berperan mengatur iklim global serta menjaga kesehatan laut,” ujarnya.

Dalam forum tersebut, Trenggono juga mengumumkan bahwa Indonesia akan menjadi tuan rumah Ocean Impact Summit (OIS) 2026 yang digelar pada Juni mendatang di Bali.

Pertemuan global ini akan mempertemukan pemimpin dunia, pelaku bisnis, dan para ahli untuk menghasilkan aksi nyata dalam tata kelola laut berkelanjutan.

Dalam sesi yang sama, European Commissioner for Sustainable Transport and Tourism Apostolos Tzitzikostas menekankan bahwa ekonomi biru bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga daya saing dan keamanan.

Baca juga: Peneliti Unhas riset ekosistem bawah laut bersama OceanX dan BRIN

Uni Eropa mendorong penggunaan bahan bakar alternatif di sektor maritim untuk menekan emisi karbon.

“Apa yang tengah kami siapkan di Uni Eropa adalah Strategi Uni Eropa untuk Pelabuhan dan Sektor Maritim, yang akan menjawab seluruh tantangan saat ini, termasuk pengembangan ekonomi biru,” ujarnya.

Forum Velocity of the Blue Economy dihadiri perwakilan negara dan organisasi global peserta WEF 2026.

Isu kelautan menjadi fokus utama, ditandai dengan peluncuran inisiatif Blue Davos serta penetapan 2026 sebagai Year of Water—sebuah langkah terintegrasi untuk menjaga stabilitas ekonomi, ketahanan iklim dan pangan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bukan Jakarta, Ini Wilayah Paling Banyak Korban Scam di RI
• 1 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
AS Roma Gulung Stuttgart 2-0
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
1 dari 11 Body Pack Korban Pesawat ATR 42-500 Berisi Tulang, Kapolda Sulsel: Akan Kami Teliti dan Periksa Secara Saintifik
• 1 jam lalufajar.co.id
thumb
Guru Besar: Fenomena Sinkhole di Sumbar, Cerminan Gagalnya Pengelolaan Tanah dan Air
• 8 jam laluliputan6.com
thumb
WEF 2026: Prabowo Soroti Krisis Global dan Optimisme Ekonomi RI
• 20 jam laluidntimes.com
Berhasil disimpan.