EtIndonesia. Di Jerman pernah hidup seorang pedagang bernama Heinrich Schliemann. Sejak kecil, dia terpesona oleh Homeric Epic, dan diam-diam bertekad: begitu kelak memiliki penghasilan yang cukup, dia akan mencurahkan hidupnya pada penelitian arkeologi.
Schliemann sangat paham bahwa penelitian dan penggalian arkeologi membutuhkan dana besar. Sementara itu, latar belakang keluarganya amat sederhana. Di antara kenyataan dan cita-cita, tidak ada jalan lurus yang bisa ditempuh. Maka dia memilih jalan berliku.
Sejak usia 12 tahun, Schliemann sudah mencari nafkah sendiri. DIa pernah bekerja sebagai murid magang, penjaga toko, pelaut magang, kurir bank, hingga akhirnya membuka sebuah kantor dagang di Rusia.
Namun, Dia tak pernah melupakan mimpinya. Di sela-sela kesibukan, Dia belajar sendiri bahasa Yunani Kuno. Melalui keterlibatannya dalam kegiatan perdagangan lintas negara, dia menguasai banyak bahasa asing. Semua itu kelak menjadi fondasi yang sangat penting.
Bertahun-tahun kemudian, Schliemann berhasil mengumpulkan kekayaan besar dari bisnis minyak di Rusia. Ketika banyak orang mengira dia akan menikmati hidup dengan kemewahan, dia justru meninggalkan bisnis yang sangat menguntungkan dan mengerahkan seluruh waktu serta hartanya untuk mengejar impian masa kecilnya.
Schliemann yakin bahwa melalui penggalian arkeologi, dia pasti dapat menemukan kota-kota, medan perang kuno, dan makam para pahlawan yang diceritakan dalam Iliad dan Odyssey.
Pada tahun 1870, dia mulai melakukan penggalian di Troy. Hanya dalam beberapa tahun, dia berhasil menemukan sembilan lapisan kota. Dia juga menggali dua kota kuno di kawasan Laut Aegea: Mycenae dan Tiryns.
Dengan demikian, Schliemann—yang semula hanyalah seorang pedagang—menjadi orang pertama yang menemukan peradaban Aegea yang telah berkembang tinggi. Temuannya memiliki arti penting dalam sejarah peradaban dunia.
Pada saat itulah orang-orang benar-benar memahami mengapa Schliemann, yang terobsesi pada arkeologi, rela menghabiskan begitu banyak waktu untuk mencari uang. Seperti banyak bidang lainnya, penelitian arkeologi—terutama penggalian—membutuhkan dana besar, sekaligus kondisi batin yang bebas dari kekhawatiran soal sandang dan pangan.
Sesungguhnya, di dunia ini tidak ada hambatan yang benar-benar mutlak. Yang ada hanyalah perbedaan cara pandang dan perbedaan jalan yang ditempuh. Terkadang manusia harus belajar bergerak seperti air:
- jika di depan ada gunung, maka mengalirlah mengitarinya;
- jika di depan ada dataran luas, maka mengalirlah perlahan melintasinya;
- jika di depan ada jaring, maka meresaplah menembus celahnya;
- jika di depan ada palang, maka berhentilah sejenak dan tunggulah waktu yang tepat.
Dalam ilmu geometri, pada sebuah bidang datar, garis lurus adalah jarak terpendek antara dua titik. Namun dalam kehidupan nyata, lebih sering justru jalan berliku yang menjadi rute paling singkat menuju tujuan.(jhn/yn)





