Kemunculan partai-partai politik baru di panggung nasional kembali memantik perbincangan lama dalam demokrasi Indonesia: apakah bertambahnya jumlah partai selalu berbanding lurus dengan peningkatan kualitas demokrasi. Secara normatif, kehadiran partai baru mencerminkan terbukanya ruang partisipasi politik. Namun, pengalaman elektoral selama era reformasi menunjukkan bahwa kuantitas tidak otomatis menghadirkan kualitas.
Sejarah pemilu Indonesia dipenuhi oleh kemunculan partai-partai berumur pendek. Banyak di antaranya lahir dengan semangat perubahan, mengikuti pemilu, lalu tersingkir oleh ambang batas parlemen. Pola “lahir-ikut pemilu-hilang” ini berulang hampir di setiap siklus pemilihan, menandakan bahwa persoalan utama bukan sekadar teknis elektoral, melainkan lemahnya diferensiasi gagasan yang benar-benar menjawab kebutuhan publik.
Dalam konteks itulah, kehadiran Partai Gema Bangsa dan Partai Gerakan Rakyat patut dibaca secara kritis. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa tidak sedikit partai baru yang lahir bukan dari artikulasi kebutuhan ideologis masyarakat, melainkan dari kekecewaan elite atau kebuntuan di internal partai-partai mapan. Ketika partai baru tidak dibangun di atas fondasi gagasan yang jelas, daya tahannya dalam kompetisi demokrasi menjadi sangat terbatas.
Fenomena tersebut dapat dipahami melalui teori cartel party yang dikemukakan Richard Katz dan Peter Mair. Partai-partai mapan cenderung membentuk kolaborasi sistemik yang membuat perbedaan ideologis di antara mereka semakin kabur. Dalam situasi seperti ini, partai baru semestinya hadir sebagai alternatif yang menawarkan pembaruan arah kebijakan. Namun, tanpa diferensiasi yang tegas, partai baru berisiko menjadi sekadar pelengkap kontestasi elektoral.
Tantangan lain yang kerap menghambat daya tahan partai baru adalah personalisasi politik. Banyak partai tumbuh sebagai personalized parties, meminjam istilah Ian McAllister, yakni partai yang bergantung secara berlebihan pada figur sentral. Ketika partai lebih berfungsi sebagai kendaraan politik individu, ketahanan institusionalnya menjadi rapuh dan sangat ditentukan oleh naik-turunnya popularitas tokoh tersebut.
Dalam kondisi demikian, publik berhak bertanya apakah partai-partai baru ini merupakan gerakan pemikiran yang tumbuh secara organik atau sekadar wadah sementara bagi ambisi elite. Partai yang lahir dari sentimen personal cenderung kehilangan daya hidup ketika figur utamanya tak lagi dominan dalam ruang publik. Daya tahan partai politik pada akhirnya ditentukan oleh kekuatan institusi dan gagasan, bukan semata oleh magnet personalitas.
Situasi ini berkelindan dengan paradoks pilihan yang dihadapi pemilih. Mengacu pada gagasan Barry Schwartz tentang paradox of choice, bertambahnya pilihan tidak selalu memperkaya preferensi. Ketika banyak partai menawarkan platform yang serupa dan minim pembeda, pemilih justru mengalami kebingungan. Pilihan yang melimpah secara kuantitatif tidak otomatis menghadirkan kejelasan secara kualitatif.
Tanpa gagasan yang segar dan relevan, partai-partai baru mudah terjebak dalam kompetisi simbolik-baliho, slogan populis, dan pencitraan sesaat. Dalam situasi seperti itu, pemilih cenderung kembali pada partai-partai mapan yang dianggap lebih stabil. Ambang batas parlemen pun kembali menjadi penghalang yang sulit ditembus oleh partai-partai baru yang miskin imajinasi politik.
Pada akhirnya, persoalan demokrasi Indonesia bukan terletak pada kekurangan jumlah partai, melainkan pada defisit gagasan. Daya tahan partai politik baru akan diuji bukan oleh besarnya modal atau ketokohan figur di belakangnya, melainkan oleh kemampuannya menawarkan arah pemikiran dan kebijakan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Jika partai-partai baru gagal bertransformasi menjadi gerakan pemikiran yang kokoh, kehadiran mereka hanya akan menambah daftar panjang partai musiman-hadir sejenak dalam kontestasi, lalu menghilang setelah suara dihitung. Demokrasi pun kembali berjalan di tempat, tanpa memperoleh energi baru yang dibutuhkan untuk terus bertumbuh.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481729/original/081739900_1769144170-daan4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5464155/original/029810500_1767681001-sinkhole.jpg)
