Dari Cerita Child Grooming: Meninjau Peran Sekolah sebagai Ruang Aman

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Kasus kekerasan psikologis terhadap anak yang belakangan terungkap ke ruang publik—melalui cerita child grooming—mengingatkan kita pada satu hal penting: masalah psikologis anak tidak pernah berdiri sendiri dan apa yang sedang menjadi pembahasan hanyalah salah satu dari sekian banyak bentuk kerentanan yang dapat dialami oleh anak.

Fenomena ini seharusnya mendorong refleksi lebih luas—termasuk bagi institusi pendidikan—tentang sejauh mana sekolah dapat hadir sebagai ruang aman yang bukan hanya berorientasi pada capaian akademik, melainkan juga pada pembentukan generasi yang tangguh secara psikologis.

Child grooming sering kali luput dikenali karena tidak hadir dalam bentuk kekerasan yang kasatmata. Ia justru berwujud perhatian, kedekatan emosional, pujian, atau dukungan personal yang tampak positif. Dalam relasi yang timpang antara orang dewasa dan anak, perhatian semacam ini dapat berubah menjadi alat manipulasi.

Anak dibuat merasa spesial, dipahami, dan akhirnya bergantung secara emosional. Proses yang berjalan perlahan dan tanpa konflik terbuka inilah yang membuat grooming sulit disadari, baik oleh anak maupun oleh orang dewasa di sekitarnya.

Selama ini, upaya pencegahan child grooming kerap diletakkan utamanya pada keluarga dan pengasuhan di rumah. Peran ini memang fundamental dan tidak tergantikan. Namun, dalam perspektif teori ekologi perkembangan manusia yang dikemukakan oleh Urie Bronfenbrenner, perkembangan anak dipengaruhi oleh berbagai sistem yang saling berinteraksi.

Selain keluarga, sekolah merupakan bagian dari mikrosistem penting tempat anak membangun relasi, nilai, dan makna tentang diri serta dunia di sekitarnya. Anak menggunakan sekian banyak waktunya di sekolah, sehingga sekolah bukan sekadar tempat transfer pengetahuan akademik, melainkan juga sebagai ruang relasi sosial, pembentukan nilai, dan berbagai kemampuan personal.

Dengan posisi strategis tersebut, institusi pendidikan memiliki tanggung jawab besar untuk terlibat aktif, baik dalam aspek prevensi maupun penanganan berbagai kasus yang menimpa anak, seperti child grooming.

Jika fokus pendidikan hanya berkutat pada pencapaian prestasi dan penilaian, situasi tersebut akan menghasilkan sebuah risiko, yaitu pengabaian sinyal-sinyal psikologis penting pada anak. Anak yang tampak patuh, berprestasi, atau tidak menimbulkan masalah sering kali dianggap baik-baik saja, padahal bisa jadi sedang berada dalam relasi yang tidak sehat.

Ketika kepekaan terhadap kesejahteraan psikologis peserta didik tidak menjadi prioritas, sekolah akan kehilangan peluang emas untuk mampu melakukan pencegahan dini.

Upaya prevensi di lingkungan pendidikan dapat dimulai dari edukasi yang sistematis dan berkelanjutan. Edukasi ini bukan semata-mata tentang bahaya kekerasan seksual, melainkan tentang relasi yang sehat, batas diri, hak anak untuk merasa aman, dan kemampuan mengenali rasa tidak nyaman.

Anak perlu dibantu untuk memahami bahwa perhatian tidak selalu identik dengan kebaikan dan bahwa mereka berhak mengatakan tidak, bahkan kepada orang dewasa yang mereka kenal atau hormati.

Di sisi lain, penguatan kapasitas pendidik juga menjadi kunci. Guru dan tenaga kependidikan perlu dibekali pemahaman perkembangan psikologis anak, dinamika relasi kuasa, serta tanda-tanda awal grooming dan bentuk kerentanan lainnya.

Tanpa literasi psikologis yang memadai, pendidik bisa saja tidak sengaja menormalisasi perilaku yang berisiko atau mengabaikan perubahan perilaku anak yang sebenarnya merupakan sinyal bahaya.

Institusi pendidikan perlu membangun sistem perlindungan anak yang jelas dan transparan. Mekanisme pelaporan yang aman, prosedur penanganan yang berpihak pada anak, serta kerja sama dengan profesional—seperti psikolog, konselor, dan lembaga perlindungan anak—harus menjadi bagian dari tata kelola sekolah.

Budaya menutup-nutupi kasus demi menjaga reputasi lembaga—yang justru menciptakan ruang subur bagi kekerasan untuk terus berulang—perlu diminimalkan.

Di samping itu, aspek penanganan juga tidak kalah penting. Respons awal ketika anak mulai bercerita sangat menentukan. Anak yang disambut dengan keraguan, disalahkan, atau diminta diam demi nama baik institusi akan mengalami luka psikologis berlapis.

Sebaliknya, respons yang empatik dari sekolah, percaya pada cerita anak, dan mengutamakan keselamatan serta pemulihannya merupakan fondasi penting dalam proses penanganan. Sekolah tidak dituntut untuk menyelesaikan semuanya sendiri, tetapi dituntut untuk tidak mengabaikan dan tidak menyederhanakan masalah.

Lebih jauh, peran institusi pendidikan ini perlu dilihat dalam kerangka pembangunan generasi yang tangguh. Ketangguhan bukan berarti anak harus selalu kuat dan tidak pernah terluka, melainkan memiliki kesadaran diri, keberanian untuk bersuara, serta akses pada orang dewasa dan sistem yang dapat melindungi mereka.

Pendidikan yang berorientasi pada ketangguhan psikologis akan menempatkan kesejahteraan mental sebagai bagian integral dari kualitas pendidikan itu sendiri.

Child grooming—dan berbagai problem psikologis lain pada anak—tumbuh subur dalam keheningan dan ketidakpedulian. Ketika sekolah memilih hanya fokus pada angka, peringkat, dan target akademik, aspek kemanusiaan peserta didik berisiko terpinggirkan.

Sebaliknya, ketika institusi pendidikan berani mengambil peran aktif dalam edukasi, pencegahan, dan penanganan isu-isu psikologis, sekolah dapat menjadi benteng penting dalam melindungi anak.

Membangun generasi yang berkualitas tidak cukup dengan mencetak anak-anak yang cerdas secara kognitif. Ia menuntut keberanian institusi pendidikan untuk peduli, peka, dan bertindak.

Dalam konteks inilah, keterlibatan aktif lembaga pendidikan dalam isu child grooming dan masalah psikologis anak lainnya bukan sekadar tambahan peran, melainkan juga sebagai mandat moral dari tujuan pendidikan itu sendiri.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jembatan Penghubung Antarkampung di Puncak Bogor Putus Imbas Hujan Deras
• 5 jam laludetik.com
thumb
Gasak Motor Warga di Ciputat, 2 Pelaku Curanmor Akhirnya Dibekuk Polisi, Motor Curian Berhasil Dikembalikan
• 4 jam laludisway.id
thumb
Strategi Brand Fashion Lokal Menggenjot Penjualan Ramadan
• 11 jam lalumedcom.id
thumb
PM Italia Ngaku Ingin Nominasikan Trump untuk Nobel Perdamaian, Kenapa?
• 14 jam laludetik.com
thumb
Kiriman Air dari Tangerang Bikin Banjir di Jakbar Terparah, Pramono Tambah Pompa dan OMC
• 6 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.