Pemerintah Meksiko sedang mempertimbangkan untuk berhenti mengirim minyak ke Kuba di tengah meningkatnya kekhawatiran, bahwa Meksiko bisa menghadapi pembalasan dari Amerika Serikat atas kebijakan tersebut.
Blokade AS terhadap kapal-kapal tanker minyak di Venezuela pada bulan Desember lalu, dan penangkapan dramatis Presiden Nicolas Maduro bulan ini, telah menghentikan pengiriman minyak Venezuela ke Kuba. Hal ini menjadikan Meksiko sebagai pemasok tunggal terbesar ke Kuba yang menderita kekurangan energi dan pemadaman listrik massal. Peran penting Meksiko dalam mengirim minyak ke Kuba juga telah menempatkan negara tetangga selatan AS itu dalam sasaran Washington.
Presiden Donald Trump telah menekankan bahwa Kuba "siap untuk tumbang" dan mengatakan dalam unggahan di platform Truth Social miliknya pada 11 Januari: "TIDAK AKAN ADA LAGI MINYAK ATAU UANG YANG AKAN DIKIRIM KE KUBA - NOL!"
Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum telah mengatakan Meksiko akan melanjutkan pengiriman minyak ke Kuba, dengan alasan pengiriman tersebut berdasarkan kontrak jangka panjang dan dianggap sebagai bantuan internasional.
Namun, sumber-sumber senior pemerintah Meksiko mengatakan kebijakan tersebut kini sedang ditinjau secara internal. Ini dilakukan karena kekhawatiran meningkat di dalam kabinet Sheinbaum, bahwa pengiriman tersebut dapat memicu permusuhan dengan Trump.
Dilansir Reuters dan Al Arabiya, Sabtu (24/1/2026), dalam beberapa minggu terakhir, Trump telah meningkatkan tekanan pada Meksiko, dengan mengatakan bahwa negara itu dikendalikan oleh kartel dan bahwa serangan darat terhadap mereka bisa segera terjadi.
Sheinbaum telah berulang kali menekankan bahwa tindakan militer AS sepihak di wilayah Meksiko akan menjadi pelanggaran berat terhadap kedaulatan negara tersebut.
(ita/ita)




