Adaro Andalan (AADI) Ungkap Strategi Hadapi Pelemahan Harga Batu Bara

bisnis.com
10 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten tambang batu bara, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) sedang menyiapkan strategi mumpuni untuk menghadapi tantangan pelemahan harga komoditas global sejalan dengan transformasi peralihan energi fosil ke energi bersih.

Direktur PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. Priyadi mengatakan penggunaan energi fosil yang mulai dikurangi menekan penggunaan batu bara global. Di sisi lain, dari sisi suplai produksi batu bara masih tinggi yang membuat harganya jatuh.

"Kedua juga ada faktor peraturan-peraturan pemerintah yang dinamis, tidak hanya dari Kementerian ESDM, maupun lembaga lainnya seperti Kementerian Keuangan sampai Kementerian Kehutanan. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan industri tambang," ujarnya dalam forum Indonesia Weekend Miner by Indonesia Mining Summit di Jakarta, Sabtu (24/1/2026).

Baca Juga : Prospek Emiten Batu Bara AADI, PTBA Cs 2026: Menanti Pemulihan Permintaan Global

Untuk menghadapi tantangan tersebut strategi yang dilakukan perusahaan adalah dengan melakukan perencanaan tambang yang baik, terutama pada aspek memaksimalkan stripping ratio dan sistem angkut atau hauling system.

"Ini yang kita buat sekonsisten mungkin supaya operasi kita tidak fluktuatif. Dan ini tentunya juga akan berpengaruh terhadap cadangan perusahaan ataupun cadangan nasional itu sendiri. Ini [strategi] garis besarnya," tandasnya.

Menilik kinerja perseroan, hingga sembilan bulan 2025 volume penjualan AADI mencapai 52,69 juta ton dengan nisbah kupas 4,2 kali.  Sedangkan, panduan penjualan perusahaan di 2025 sebesar 65-67 juta ton batu bara dan panduan nisbah kupas sebesar 4,3 kali.

Pasar penjualan terbesar AADI selama periode ini adalah Indonesia, diikuti oleh Malaysia, India dan China. Mayoritas pelanggan perusahaan terdiri dari PLTU dan end-user lainnya. 

Dari sisi kinerja keuangan, AADI mencatatkan laba bersih sebesar US$587,3 juta, tergerus hampir setengahnya, atau 45,35% secara tahunan (YoY) dibanding US$1,07 miliar pada periode yang sama di 2024. Turunnya laba bersih ini sejalan dengan pendapatan usaha AADI yang melemah 10,88% YoY menjadi US$3,6 miliar sepanjang dari sebelumnya sebesar US$4,04 miliar year on year (YoY). 

Sebelumnya, riset yang ditulis Analis Indo Premier Sekuritas Reggie Parengkuan dan Ryan Winipta menilai katalis yang akan menopang kinerja AADI ke depan adalah ekspektasi berlanjutnya tren kenaikan harga Indonesia Coal Index (ICI) yang didukung oleh aktivitas restocking dan penurunan produksi di China.

"Risiko utama berasal dari potensi pelemahan harga batu bara akibat permintaan yang lemah dari China dan India," tulis riset itu.

Dengan mempertimbangkan katalis dan risiko yang membayangi, sekuritas menyematkan rating buy saham AADI dengan target harga Rp9.500 per saham. Pada penutupan perdagangan Jumat (23/1), saham AADI ditutup menguat 5,96% ke Rp8.450.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Strategi Brand Fashion Lokal Menggenjot Penjualan Ramadan
• 14 jam lalumedcom.id
thumb
Beredar Kabar Keluarga Petinggi PKT Zhang Youxia Ditangkap, Perebutan Kekuasaan Elit Partai Komunis Tiongkok Masuk “Spiral Kematian”
• 6 jam laluerabaru.net
thumb
Walmas Lumpuh Total, Legislator Sulsel Dapil Luwu Raya Siap Kawal Aspirasi Pemekaran
• 12 jam laluharianfajar
thumb
ICONNET Beri Diskon 75 Persen pada Pelanggan Terdampak Banjir Sumatra
• 6 jam laluidntimes.com
thumb
Wakil Ketua MPR: Pemenuhan Gizi Amanat Konstitusi
• 19 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.