Hujan deras yang mengguyur Kota Bogor, Jawa Barat, tak mengurangi keakraban perayaan ulang tahun ke-79 Megawati di Istana Batutulis, Jumat (23/1/2026). Di ruang pertemuan yang dipenuhi rangkaian bunga anggrek dan meja-meja sederhana, Megawati yang lahir di Yogyakarta, 23 Januari 1947, duduk dikelilingi orang-orang terdekat, mulai dari anak, cucu, saudara, hingga sahabat lama.
Ketiga anaknya hadir lengkap. Mohamad Rizki Pratama dan Muhammad Prananda Prabowo berdiri tak jauh dari sang ibu, sementara Puan Maharani tampak merangkul Megawati. Di sekeliling mereka, para menantu turut mendampingi. Prananda hadir bersama istrinya, Nancy Prananda, sedangkan Puan didampingi sang suami, Hapsoro Sukmonohadi. Sejumlah cucu ikut berkumpul, salah satunya Diah Pikatan Orissa Putri Haprani atau akrab disapa Pinka Haprani.
Keluarga besar Soekarno turut menyemarakkan suasana. Kakak sulung Megawati, Mohammad Guntur Soekarnoputra, hadir bersama putrinya, Puti Guntur Soekarno. Kerabat lain, seperti Romy Soekarno, juga tampak berbaur dalam suasana yang cair dan akrab.
Bagi Megawati, kehadiran anak, cucu, dan keluarga besar Bung Karno bukan sekadar pelengkap perayaan. Mereka menjadi saksi perjalanan hidupnya, mulai dari masa muda yang penuh perjuangan hingga tahun-tahun politik yang berliku. Di usia ke-79, kebersamaan itu menjadi penanda bahwa perjalanan panjang seorang Megawati tak pernah dilalui sendirian.
Dalam suasana kekeluargaan itu, jajaran elite Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) turut hadir. Megawati duduk di meja utama bersama Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto. Ganjar Pranowo, Ketua Bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah PDI-P, juga tampak hadir dan berbaur di tengah para fungsionaris partai.
Sejumlah pengurus teras Dewan Pimpinan Pusat PDI-P juga memenuhi undangan, di antaranya Bendahara Umum Olly Dondokambey, Wakil Bendahara Umum Rudianto Tjen dan Yuke Yurike. Para Ketua DPP juga terlihat hadir, seperti Ahmad Basarah selaku Ketua Bidang Luar Negeri, Eriko Sotarduga (Ketua Bidang Kehutanan dan Lingkungan Hidup), Charles Honoris (Ketua Bidang Jaminan Sosial), serta I Gusti Ayu Bintang Darmawati atau Bintang Puspayoga (Ketua Bidang Perempuan dan Anak).
Bagi Megawati, kehadiran anak, cucu, dan keluarga besar Bung Karno bukan sekadar pelengkap perayaan. Mereka menjadi saksi perjalanan hidupnya, mulai dari masa muda yang penuh perjuangan hingga tahun-tahun politik yang berliku.
Nama-nama lain turut berbaur dalam suasana yang cair, antara lain Djarot Saiful Hidayat (Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi), Andreas Hugo Pareira (Ketua Bidang Keanggotaan dan Organisasi), Wiryanti Sukamdani (Ketua Bidang Pariwisata), Deddy Yevri Hanteru Sitorus (Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Eksekutif), hingga Ketua Bidang Hukum PDI-P Ronny Talapessy.
Sejumlah sahabat lama Megawati dari kalangan pers juga terlihat hadir. Widiarsi Agustina dan Kristin Samah tampak berbincang akrab di meja Megawati, menambah nuansa perayaan yang hangat.
Perayaan kian cair ketika alunan musik mulai terdengar. Lagu-lagu kesukaan Megawati mengisi ruangan, mengundang para tamu untuk ikut bersenandung. Sesekali, Megawati tampak mengangguk mengikuti irama, menikmati perayaan yang berlangsung santai dan bersahaja.
Puncak acara ditandai dengan pemotongan tumpeng sebagai ungkapan syukur. Hidangan yang disajikan sederhana, mencerminkan selera Megawati, seperti soto, aneka lauk Nusantara, serta sayuran rebus. Potongan tumpeng pertama diserahkan kepada Guntur Soekarnoputra.
Usai menerima potongan tumpeng, Guntur berdiri dan menoleh ke arah Megawati. Dengan sapaan penuh keakraban, ia mengajak adiknya bernyanyi bersama. “Dis… adis,” ucap Guntur, sapaan sayangnya untuk sang adik.
Megawati bangkit dari tempat duduknya. Ia menyanyikan “Cinta Hampa”, lalu melanjutkan dengan lagu legendaris Frank Sinatra, ”My Way”. Suaranya mengalun tenang, disambut lantunan suara para tamu yang ikut bersenandung.
Tak berhenti di situ, Guntur juga mengajak Megawati menari. Keduanya bergerak perlahan mengikuti irama musik. Sejumlah tamu ikut bergabung, menjadikan ruangan kian hidup, seolah merayakan bukan hanya pertambahan usia, tetapi juga kebersamaan yang tetap terjaga.
Setelah seluruh rangkaian doa serta pemotongan tumpeng dan kue selesai, tiga anak Megawati mendekat dan mengecup sang ibu, tepat menjelang acara berakhir. Momen itu berlangsung haru dan penuh kegembiraan, menutup perayaan dengan keheningan emosional yang kuat.
Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto mengatakan, kecupan tersebut menjadi refleksi relasi mendalam antara ibu dan anak. “Ulang tahun seorang Ibu merefleksikan penghormatan anak atas kasih Ibu sepanjang masa. Karena itulah suasananya haru dan penuh kegembiraan,” ujar Hasto saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu (24/1/2026).
Menurut Hasto, kehadiran anak, cucu, serta keluarga besar Bung Karno dalam perayaan itu menggambarkan kehidupan keluarga yang rukun dan penuh kebersamaan. Nilai-nilai tradisi dan budaya, terutama penghormatan kepada orang tua, tetap dijaga dan diwariskan lintas generasi dalam keluarga tersebut.
Ulang tahun seorang Ibu merefleksikan penghormatan anak atas kasih Ibu sepanjang masa. Karena itulah suasananya haru dan penuh kegembiraan.
Di balik perayaan yang berlangsung sederhana, perhatian Megawati tetap tertuju pada kondisi bangsa yang tengah dilanda cuaca ekstrem. Di sela-sela ulang tahun, Megawati memantau laporan banjir dan rob di sejumlah wilayah, termasuk perkembangan sistem pengelolaan sampah di Surabaya dan Trenggalek.
Kepedulian itu, kata Hasto, juga diterjemahkan secara simbolik melalui hadiah ulang tahun dari jajaran struktural partai berupa kegiatan menanam pohon, menyelamatkan mata air, membersihkan sungai, serta melepas ikan dan burung ke alam bebas.
“Maknanya adalah merawat bumi, menjaga pertiwi,” kata Hasto. Dalam perspektif kerakyatan, jajaran partai juga menggelar tumpengan bersama rakyat di daerah masing-masing.
Hasto turut menyinggung momen ketika Megawati menyanyikan lagu My Way. Lagu favorit itu, menurutnya, mencerminkan jalan hidup Megawati yang telah ditempa pasang surut sejarah atau Cakra Manggilingan.
Dalam My Way, kata Hasto, tercermin kesetiaan pada cita-cita, semangat berjuang, keberanian menempuh jalan kebenaran, serta kesabaran revolusioner dalam menghadapi kehidupan yang terjal dan berliku.
Menjelang akhir acara, para tamu diajak berdoa bersama. Di tengah cuaca ekstrem yang melanda sejumlah daerah, doa dipanjatkan untuk keselamatan bangsa dan keteguhan menghadapi berbagai ujian.
Bagi Megawati, keteguhan itu tidak tumbuh sendirian. Dalam perjalanan politiknya yang panjang, keluarga menjadi salah satu penopang penting. Almarhum suaminya, Taufiq Kiemas, dikenal mengambil peran sebagai pendamping sekaligus penyeimbang.
Dalam peluncuran buku Gelora Kebangsaan Tak Kunjung Padam yang diberitakan Kompas pada 2 Januari 2013, Taufiq menyebut bahwa di PDI-P, Megawati adalah pengambil keputusan. Namun, ketika tak ada yang berani mengkritik, ia memilih berada di posisi yang berani mengkritik.
“Kalau semua orang iya-iya saja, lama-lama kejeblos juga,” ujarnya kala itu.
Relasi keduanya dibangun bukan di atas keseragaman pandangan, melainkan keberanian untuk berbeda demi tujuan yang sama. Puan Maharani pernah mengibaratkan Megawati dan Taufiq sebagai dwitunggal, sepasang sayap yang berbeda tetapi saling melengkapi.
Jejak dukungan keluarga itu berlanjut pada generasi berikutnya. Puan terlibat langsung dalam pengelolaan partai dan lembaga negara, sementara Prananda Prabowo menjalani peran strategis di balik layar partai. Bersama Megawati, keterlibatan anak-anaknya menunjukkan bahwa keluarga tidak hanya menjadi tempat pulang, tetapi juga bagian dari kerja politik yang dijalani dengan disiplin dan kehati-hatian.
Di usia ke-79, Megawati merayakan ulang tahunnya tanpa kemegahan berlebih. Di tengah keluarga, sahabat, dan kader, ia menegaskan satu hal penting. Di balik perjalanan politik yang panjang dan penuh dinamika, kehangatan keluarga tetap menjadi tempat pulang, sekaligus penjaga kewarasan di tengah hiruk-pikuk kekuasaan.




