Sentimen Rupiah hingga Kredibilitas Fiskal Bikin IHSG Sepekan Terkoreksi 1,37%

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam sepekan terkoreksi 1,37% dari 9.075 ke 8.951. Pelemahan indeks juga diikuti dengan net sell asing mencapai Rp3,25 triliun.

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata menjabarkan stimulus dan sentimen yang akan menjadi perhatian utama pasar di pekan depan. Dari global, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) 27–28 Januari 2026.

"Termasuk juga konferensi pers pasca keputusan yang biasanya menjadi penentu utama risk appetite pasar emerging market serta arah imbal hasil dolar AS, dengan implikasi langsung ke rupiah dan IHSG," ujar Liza kepada Bisnis, dikutip Minggu (25/1/2026).

Liza mencatat, pada pelemahan IHSG pekan lalu rupiah sempat menyentuh rekor terendah di sekitar Rp16.985 per dolar AS.

Selain itu, juga ada kekhawatiran investor terhadap kredibilitas kebijakan fiskal dan independensi bank sentral sehingga mendorong kenaikan risk premium aset Indonesia, membuat dana asing hengkang dan IHSG melemah.

Masih dari Amerika Serikat, menurutnya pasar juga akan mencermati rilis inflasi AS berbasis personal consumption expenditure price index (PCE) sebagai acuan inflasi favorit The Fed, data aktivitas seperti Purchasing Managers Index (PMI), serta kelanjutan earnings season global yang berpotensi menggeser sentimen ekuitas regional.

Baca Juga

  • Rekomendasi Saham Pekan Depan saat IHSG Diramal Konsolidasi, Ada BSDE & ANTM Cs
  • Depresiasi Rupiah hingga Net Sell Asing Bebani Langkah IHSG Sepekan
  • IHSG Sepekan Melemah 1,37%, Dana Asing Menguap Rp3,25 Triliun

Berikutnya sentimen yang datang dari Asia, Liza menjelaskan bahwa dinamika suku bunga Jepang dan pergerakan Japanese Government Bonds (JGB)/yen masih sensitif setelah Bank of Japan menahan suku bunga di 0,75% dengan nada lebih hawkish dan menaikkan proyeksi ekonomi, sementara volatilitas pasar obligasi Jepang meningkat seiring isu politik-fiskal.

"Di dalam negeri, sentimen yang paling ditunggu bukan hanya rilis data ekonomi, tetapi juga konsistensi komunikasi kebijakan, komitmen terhadap disiplin fiskal, independensi BI, serta langkah konkret stabilisasi rupiah melalui instrumen moneter dan intervensi pasar. Faktor-faktor ini lah yang akan menentukan arah risk premium Indonesia dalam jangka pendek," tandasnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kemendikdasmen Percepat Pemulihan PAUD Pascabanjir di Aceh
• 5 jam lalutvrinews.com
thumb
Selain Tarot, Gen Z Juga Lebih Percaya Numerologi untuk Menata Masa Depan
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Usut Kematian Lula Lahfah, Polres Jaksel Cek Timeline hingga Periksa Rekaman CCTV dan Sejumlah Saksi
• 55 menit laludisway.id
thumb
Kemenkeu Bantah Kabar Purbaya Ditipu Bankir Soal Injeksi Rp200 Triliun: Hoaks!
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Menuju Bursa, Pramono Anung Optimistis Bank Jakarta IPO Tahun Depan
• 9 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.