FAJAR, SURABAYA — Apa itu penguasaan? Pertanyaan ini kembali relevan setelah Persebaya Surabaya meraih dua kemenangan beruntun dengan cara yang nyaris menampar logika statistik modern. Dalam dua laga terakhir, Green Force mencetak lima gol meski penguasaan bola tak pernah menyentuh 27 persen.
Teranyar, Persebaya menaklukkan PSIM Yogyakarta 3-0 di Stadion Sultan Agung, Bantul, Minggu (25/1/2026), hanya dengan 26 persen ball possession. Sebelumnya, mereka juga menundukkan Malut United 2-1 saat lawan mencatatkan penguasaan bola ekstrem—81 persen, berbanding 19 persen milik Persebaya.
Data ini seperti menertawakan dogma lama sepak bola: menguasai bola bukan jaminan menang.
Dalam laga melawan PSIM, tim tuan rumah mendominasi permainan dengan 74 persen penguasaan bola, mengalirkan 532 umpan sukses dari 608 percobaan. Persebaya? Hanya 196 umpan sukses dari 260 percobaan dengan akurasi 76 persen. Jauh lebih sedikit, tapi jauh lebih mematikan.
Di bawah arahan Bernardo Tavares, Persebaya menampilkan sepak bola yang dingin dan pragmatis. Bertahan disiplin, rapat, lalu menghukum lawan lewat transisi cepat. Tidak indah dalam angka, tapi kejam dalam hasil.
Babak pertama berjalan relatif seimbang. PSIM menguasai bola, Persebaya menguasai kesabaran. Green Force tak tergoda menekan tinggi. Mereka menunggu momen.
Sinyal perubahan muncul di awal babak kedua. Kombinasi Bruno Moreira dan Francisco Rivera menciptakan peluang di menit ke-52. Sontekan Rivera memang masih bisa diamankan Cahya Supriadi, tapi tempo Persebaya jelas meningkat.
Tekanan berlanjut. Malik Risaldi melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti pada menit ke-61. Kiper PSIM kembali dipaksa bekerja keras. Momentum sepenuhnya beralih.
Membaca situasi dengan jeli, Tavares melakukan perjudian terukur. Pedro Matos, Bruno Paraiba, dan Rachmat Irianto masuk. Hasilnya instan. Struktur serangan berubah, intensitas naik, dan PSIM mulai kehilangan kontrol—meski masih memegang bola.
Menit ke-73, Bruno Paraiba memecah kebuntuan. Aksi individu di dalam kotak penalti diakhiri tembakan keras yang tak terbendung. Gol debut yang langsung berdampak. Persebaya unggul, PSIM goyah.
Sepuluh menit berselang, pukulan pamungkas datang. Rachmat Irianto melakukan solo run dari tengah lapangan, menembus pertahanan, dan menempatkan bola ke tiang dekat. Gol itu bukan sekadar penutup, tapi simbol: Persebaya tidak butuh bola untuk menguasai pertandingan.
Hingga peluit akhir, skor 0-3 tak berubah. Persebaya pulang dengan tiga poin dan tetap bertahan di peringkat keenam klasemen sementara Super League 2025/2026 dengan 31 poin.
Statistik memperjelas ironi laga ini. PSIM unggul jumlah tembakan (15 berbanding 12), tapi hanya lima yang tepat sasaran. Persebaya justru lebih efisien dengan enam shots on target. Dalam bertahan, Green Force mencatatkan 24 clearance, dua kali lipat PSIM.
Sentuhan di kotak penalti juga nyaris seimbang—PSIM 40, Persebaya 36—menunjukkan Green Force tetap berbahaya meski jarang menguasai bola.
Dua laga, lima gol, penguasaan bola selalu di bawah 27 persen. Pesannya jelas: ball possession tanpa efektivitas hanyalah angka kosong.
Persebaya Surabaya memberi pelajaran keras di Super League musim ini. Sepak bola bukan tentang siapa paling lama memegang bola, melainkan siapa paling cerdas memanfaatkannya.



