Bagaimana jadinya jika belasan fotografer mengikuti lokakarya fotografi selama tiga hari dua malam di tempat yang asing dan diharuskan membuat cerita? Sesuatu yang tersebunyi dan terlewat dari pandangan masyarakat umum akhirnya muncul. Hasil karya fotografer yang terlibat itu bisa dilihat di pameran foto Nyeser Paseser di Wisma Jerman, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (25/1/2026).
Lokasi lokakarya sendiri berada di kawasan konservasi mangrove yang berada di Desa Lembung Paseser, Kecamatan Sepulu, Bangkalan, Jawa Timur, pada awal Desember tahun lalu. Sebanyak 19 fotografer dari beberapa daerah tersebut belum pernah datang ke lokasi dan kemudian terlibat dan belajar memahami tentang pentingnya potensi kawasan mangrove dalam kehidupan sehari-hari saat ini dengan waktu yang terbatas.
Dengan sudut pandang personal, akhirnya tercipta cerita yang beragam. Ada yang bercerita tentang orang-orang yang mengandalkan hidup dari laut di sekitar, ada yang bercerita tentang pemburu burung, ada yang bercerita tengan anak-anak pesisir yang kehilangan identitasnya sebagai masyarakat pesisir, hingga ada yang bercerita tentang makanan yang biasa dibuat masyarakat sekitar dengan mengandalkan hasil laut dari sekitar.
Disajikan tanpa figura, semua foto yang dipamerkan ditempel di papan sintetis polyfoam. Hal tersebut dilakukan agar para pengunjung bisa lebih fokus dalam melihat karya-karya yang dipamerkan. Penyusunan foto dibuat tidak monoton sehingga pengunjung bisa lebih menikmatinya.
Pertama kali masuk ke ruang pameran, pengunjung akan disambut oleh karya dari Nur Anisa yang merupakan mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Pulau Madura. Nur Anisa sendiri menghadirkan karya foto ceritanya dengan pendekatan portrait. Melalui kameranya, dia memotret orang-orang yang tinggal di sekitar kawasan konservasi mangrove.
Tidak jauh dari tempat karya Nur Anisa terdapat karya dari Sherly Aprilia yang membuat foto konseptual mengenai makanan-makanan laut yang bersumber dari kawasan konservasi mangrove Lembung Paseser. Dengan pengambilan foto menggunakan sudut bird eye view, Sherly memotret makanan mulai dari bahan sebelum diolah. Komoditas laut setempat yang digunakan seperti gurita, kepiting, tiram, ikan, juga beberapa tumbuhan.
Penempatan karya Sherly juga cukup unik dan menarik perhatian. Tak seperti karya-karya lainnya yang digantung di dinding, kurator pameran, Gata Mahardika, menempatkan karya-karya ditempel di kotak kayu menyerupai meja. Saat melihat karya Sherly, pengunjung seperti melihat bagaimana makanan disajikan di meja makan.
Dari karya tentang makanan lokal tersebut, dihadirkan juga agenda memasak langsung beragam komoditas yang dibuat langsung oleh ibu-ibu Lembung Paseser. Saat pengolahan makanan berlangsung, pengunjung bisa melihat cara mengolah sekaligus cara memakannya. Pengunjung banyak yang penasaran mencoba, khususnya tiram.
Selain menikmati cerita yang dihadirkan para fotografer dan merasakan sensasi makanan laut setempat, pameran yang berlangsung hingga 28 Januari 2026 tersebut mengajak untuk masyarakat untuk lebih peduli dengan tentang keberlangsungan kawasan mangrove.





