Merawat Merah Putih, Membangun Koperasi Abadi Nan Jaya

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Merah Putih sudah lama menjadi warna simbol negara. Ia telah mapan secara identitas, dan tidak akan pernah selesai menjadi kerja kebijakan. Ia selalu terawat antar generasi agar kebersamaan, persatuan, keadilan sosial terus menjadi cita-cita yang perlu dikejar. Sejalan dengan ini, gagasan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KD/KMP) perlu menempatkannya sebagai program pembangunan yang lestari. Gagasan ini perlu diapresiasi, koperasi diharapkan menjadi penggerak ekonomi, memutus ketergantungan pada tengkulak dan pinjaman tak resmi, dan memperkuat ekonomi masyarakat.

Namun sejarah telah menunjukkan bagaimana koperasi era sebelumnya bisa berjaya lalu meredup. Koperasi ditempatkan sebagai instrumen kebijakan tinimbang organisasi milik anggota. Koperasi awalnya menjawab kebutuhan petani. Koperasi menyediakan pupuk, bibit, alat-alat pertanian, menyerap gabah, dan akses pembiayaan. Kemudian koperasi berangsur melemah ketika kebijakan pangan dan subsidi berubah. Subsidi benih dan pupuk langsung ke patani, harga gabah dan komoditas tidak dijamin. Ketika fluktuasi harga pasar terjadi, naka akan langsung mengancam kehidupan koperasi. Masalahnya bukan lemahnya dukungan negara, melainkan memang koperasi tidak dipersiapkan menjadi entitas yang mandiri. Ia rentan akan adanya perubahan kebijakan.

Koperasi era sebelumnya memberi pelajaran dalam perancangan program serupa saat ini. Bagaimana negara membangun fondasi kuat, perlahan namun pasti, mengakomodasikan kebutuhan lokal. Jika tidak, maka akan melahirkan koperasi yang kuat secara administratif namun lemah secara ekonomi. Koperasi berisiko menjadi cangkang yang sah secara hukum tetapi minim partisipasi anggota dan aktivitas ekonomi.

Kita harus menatap masa depan yang terus optimis. Pengalaman yang kurang menggembirakan cukup menjadi cara kita mewujudkan gagasan yang makin logis. Kita masih bisa melihat koperasi yang mampu bertahan saat ini dan berusia puluhan tahun. Koperasi sentra susu, koperasi peternak, koperasi gapoktan, koperasi simpan pinjam bisa menunjukkan contoh. Inilah contoh koperasi-koperasi abadi nan jaya.

Koperasi-koperasi ini berangkat dari hal-hal yang kecil. Mereka membangun disiplin anggota, fokus pada kebutuhan anggota, lalu berinvestasi dalam teknologi. Yang dibutuhkan koperasi sejatinya adalah kesesuaian jenis usaha dan kebutuhan anggota, dan kemampuan mengelola risiko.

Negara perlu berperan menyediakan dukungan kapasitas, akses pasar, pelatihan, regulasi yang memudahkan, fasilitasi kemitraan, serta insentif yang jelas. Dengan intervensi seperti ini, pengurus bisa mengambil inisiatif, membangun tata kelola yang baik, dan berkembang sesuai konteks lokal. Selanjutnya profesionalisme nyata dari pengurus pelan-pelan akan muncul.

Kemudian yang sering menjadi asumsi adalah ketika lahir dari arus bawah, dari anggota koperasi maka akan berhasil. Sebaliknya yang bersifat arahan pusat (Top down) akan berakhir dengan kegagalan. Tentu saja tidak serta merta benar, Pengalaman di luar negeri menunjukkan bahwa negara yang kuat pun tidak otomatis bertentangan dengan prinsip koperasi. Gagasan top down muncul juga terjadi dengan mandat sosial yang jelas. Misalnya koperasi di negara Skandinavia yang ditugaskan untuk mengelola perumahan. Negara tetap terlibat di fase awal namun tetap menyerahkan ke koperasi untuk menjaga akuntabilitas bagi anggota. Campur tangan negara fokus pada penyediaan sewa rumah yang terjangkau, bukan kendali atas koperasi yang dibentuk.

Jika kita tarik benang merah, kunci koperasi yang bertahan terletak pada pemberdayaannya. Merawat koperasi bermakna membangun sumber daya manusianya, pembekalan manajerial pengurus, akuntansi sederhana, dan penyusunan perencanaan usaha. Hal ini meminimalkan penguasaan koperasi oleh segelintir elite atau terjebak dalam kepatuhan administrasi semata. Selain sumber daya manusia, dukungan teknologi dan akses pasar sangat penting. Kegagalan koperasi sangat mungkin bukan karena kurangnya kerja keras, namun biaya produksi terlalu tinggi. Penggunaan teknologi tepat guna berpotensi menekan biaya produksi. Akses pasar menjadi faktor penting agar koperasi tidak hanya berhenti pada tahap produksi tanpa kepastian penjualan.

Kemudian godaan untuk mendikte. Merawat akhirnya memberi ruang koperasi belajar, salah, dan memperbaiki diri. Koperasi abadi nan jaya lahir dari kesukarelaan, pertumbuhan bertahap, kesabaran membangun kapasitas, kepercayaan dan kemandirian.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Gagal Juara M7 World Championship, Alter Ego Raih Hadiah Rp 2,5 Miliar
• 7 jam lalugenpi.co
thumb
Kalahkan Arsenal, Matheus Cunha tetap Puji The Gunners sebagai Tim Terbaik
• 1 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Cherry Bombshell Comeback, Lagu Baru Penuh Pesan Emosional
• 11 jam lalugenpi.co
thumb
Pemprov Bali-PLN perkuat ekosistem kendaraan listrik untuk pariwisata
• 17 jam laluantaranews.com
thumb
Kapolri: Kortas Tipikor Kembalikan Kerugian Rp 2,37 Triliun ke Negara
• 4 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.