Longsor yang menerjang Kampung Pasir Kuning, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, menyisakan trauma bagi Abah Ade (60). Suara-suara minta tolong yang ia dengar malam itu lenyap seketika bersama bencana yang datang.
Abah Ade tak pernah membayangkan minggu (25/1/2026) malam itu akan menjadi batas terakhir antara kehidupan yang selama puluhan tahun ia jaga dan kenyataan pahit yang datang tanpa peringatan. Tak pernah terlintas di benaknya, hujan syahdu sejak siang hari berubah menjadi petaka yang membekas dalam di hidupnya.
Seperti malam-malam sebelumnya, kawasan Kampung Pasir Kuning, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, masih diselimuti sunyi pegunungan, hingga dentuman alam memecah segalanya dalam hitungan detik.
Abah bercerita, ia terbangun dini hari karena rumahnya bergetar hebat dalam gelap serta suara gemuruh keras memecah keheningan, terdengar seperti helikopter atau pesawat besar yang melintas sangat rendah.
Ia segera keluar rumah dan melihat dari arah perbukitan bahwa air bah bercampur lumpur meluncur deras, membawa kayu, tanah, dan puing bangunan.
Semua terjadi dalam waktu sangat singkat, nyaris tanpa jeda bagi siapa pun untuk menyelamatkan diri.
"Suaranya besar sekali kayak gemuruh helikopter atau pesawat ada di atas rumah. Saya lihat langsung air turun dari atas," ujar Abah Ade (60) mengenang peristiwa itu, seperti dilansir Antara, Senin (26/1/2026).
Sebagai Ketua RT 05 Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, nalurinya bergerak lebih cepat dari rasa takut dan berusaha menolong warga yang masih berada di dalam rumah.
Dalam kondisi gelap, hujan deras, dan arus yang terus meninggi, ia berlari menyusuri kampung yang perlahan lenyap di depan mata.
Di tengah hujan dan gelap, teriakan minta tolong terdengar bersahutan, tetapi derasnya arus membuat upaya penyelamatan tak berdaya.
(idh/imk)



