PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengimbau seluruh pengguna jasa penyeberangan, khususnya di lintas utama Sumatera–Jawa–Bali, untuk meningkatkan kewaspadaan. Hal itu menyikapi potensi cuaca ekstrem yang masih berlangsung.
Sejumlah kapal penyeberangan yang beroperasi di Selat Sunda dilaporkan mengalami tantangan navigasi akibat gelombang dan angin kencang. Hal itu antara lain dialami KMP Rishel milik PT Surya Timur Lines dan KMP Dorothy milik Damai Lintas Bahari pada Jumat (23/1).
Direktur Utama ASDP Heru Widodo menegaskan bahwa prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjadi dasar utama dalam setiap kebijakan operasional penyeberangan. Menurutnya, keselamatan adalah prioritas mutlak.
Baca juga : Prakiraan BMKG: Cuaca Berawan dan Berawan Tebal di Sebagian Wilayah Indonesia Senin 26 Januari 2026
“ASDP tidak akan memaksakan operasional apabila kondisi cuaca berisiko. Kami mengimbau masyarakat untuk mengatur waktu perjalanan dengan bijak, memantau informasi cuaca terkini, serta tidak memaksakan diri menyeberang ketika kondisi tidak aman,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip, Senin (26/1).
Sebagai bagian dari langkah antisipatif, ASDP menyesuaikan pola operasional secara dinamis melalui koordinasi intensif dengan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) dan Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD), termasuk penyesuaian jadwal hingga penundaan keberangkatan bila diperlukan.
Di sisi darat, pengaturan arus lalu lintas di sekitar pelabuhan, optimalisasi kantong parkir, serta pengendalian kepadatan kendaraan terus diperkuat untuk menjaga keselamatan dan kelancaran layanan.
Baca juga : Waspadai Bencana Hidrometeorologi, Cuaca Ekstrem Berpotensi di 17 Daerah Jawa Tengah Senin 26 Januari 2026
Corporate Secretary ASDP Windy Andale menambahkan, perlindungan bagi pengguna jasa juga dilakukan melalui fleksibilitas layanan. “ASDP menerapkan kebijakan refund 25% dan reschedule 10% melalui Ferizy agar perjalanan dapat disesuaikan dengan kondisi cuaca. Keselamatan dan kenyamanan pengguna jasa tetap menjadi prioritas,” jelasnya.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika periode 25 hingga 31 Januari 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada puncak musim hujan. Hal itu dipengaruhi penguatan Monsun Asia serta aktivitas gangguan tropis di wilayah selatan Indonesia.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan intensitas hujan, kecepatan angin, serta tinggi gelombang di sejumlah perairan strategis.
BMKG memprakirakan kecepatan angin di perairan Selat Sunda, Laut Jawa, hingga Selat Bali berada pada kisaran 14–16 knot, dengan hembusan angin (gust) yang dapat mencapai 25–30 knot.
Sementara itu, tinggi gelombang signifikan diperkirakan berada di rentang 1,2 hingga 1,6 meter, dengan potensi meningkat secara fluktuatif mengikuti dinamika atmosfer harian. (H-2)





