Abah Ade (60 tahun) terbangun dari tidurnya pada Sabtu dini hari (24/1) tatkala rumahnya di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, berguncang disertai suara gemuruh.
Ia segera keluar rumah dan melihat air bah bercampur lumpur meluncur deras dari arah perbukitan, membawa kayu, tanah, dan puing bangunan.
Semua terjadi dalam waktu yang sangat singkat, nyaris tanpa jeda bagi siapa pun untuk menyelamatkan diri.
“Suaranya besar sekali kayak gemuruh helikopter atau pesawat ada di atas rumah. Saya lihat langsung air turun dari atas,” ujar Abah Ade, dikutip dari Antara pada Senin (26/1).
Sebagai Ketua RT 05, nalurinya bergerak lebih cepat dari rasa takut. Ia berusaha menolong warga yang masih berada di dalam rumah.
Dalam kondisi gelap, hujan deras, dan arus yang terus meninggi, ia berlari menyusuri kampung yang perlahan lenyap di depan mata.
Di tengah hujan dan gelap, teriakan minta tolong terdengar bersahutan, namun derasnya arus membuat upaya penyelamatan tak berdaya.
Abah Ade menyaksikan sendiri sejumlah warganya meminta pertolongan sebelum akhirnya menghilang di depan mata, terseret air bah bercampur lumpur.
Di wilayah RT 05 yang dihuni 23 kepala keluarga, bencana itu hanya menyisakan sedikit harapan. Hanya dua keluarga yang dilaporkan selamat.
Kampung yang selama ini dihuni puluhan tahun mendadak berubah menjadi hamparan lumpur tanpa batas.
Sekitar 70 orang dinyatakan hilang dan meninggalkan duka mendalam bagi warga yang selamat maupun keluarga yang masih menanti kepastian.
Di rumahnya sendiri, Abah Ade tinggal bersama dua anggota keluarga lainnya dan seluruhnya selamat. Namun, ia mengalami luka akibat tertimpa kayu saat berupaya menyelamatkan warga.
Trauma MendalamLuka fisik itu perlahan pulih, tetapi tidak dengan ingatan yang membekas di benaknya.
Setiap suara hujan deras atau gemuruh di kejauhan kerap memicu ketakutan yang sama seperti malam itu.
Sejak peristiwa tersebut, Abah Ade mengaku tidak sanggup kembali ke kampungnya karena trauma. Ia enggan melihat kembali kawasan yang dulu ia kenal sebagai rumah.
“Sekarang seperti laut, semuanya rata. Saya trauma dan tidak mau melihat lokasi itu lagi,” tambahnya.
Bencana longsor dan air bah di wilayah Cisarua tidak hanya meratakan permukiman warga, tetapi juga menelan banyak korban jiwa—setidaknya 17 orang ditemukan tewas, 73 lainnya hilang.




