Guru-guru yang terdampak bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, mendapat bantuan khusus dari pemerintah. Selain tunjangan, mereka juga diberi kelonggaran terkait beban mengajar selama masa tanggap darurat pendidikan.
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat dalam rapat koordinasi percepatan rehabilitasi pascabencana Sumatera di Kantor Kemendagri, Jakarta Pusat, Senin (26/1).
“Tunjangan khusus guru untuk di wilayah bencana ini selama 3 bulan sudah disalurkan kepada 16.467 guru senilai Rp 32,9 miliar,” kata Atip dalam paparannya
Tak hanya itu, aturan beban kerja guru juga dibuat lebih fleksibel agar mereka bisa fokus pada pemulihan kondisi pribadi dan sekolah.
“Aneka tunjangan guru di wilayah bencana tidak mempersyaratkan beban mengajar. Total dana tunjangan sebesar Rp 500,89 miliar dan sudah cair,” ujarnya
Selain dukungan finansial, Kemendikdasmen juga memberikan dukungan psikososial bagi guru dan siswa.
“Dan juga untuk dukungan psikososial seluruh para siswa khususnya, sudah terlaksana di 680 satuan dengan nilai Rp 2,7 miliar,” ujarnya
Pemerintah turut menyalurkan bantuan pendidikan lainnya seperti buku pembelajaran dan perlengkapan sekolah.
“Kemudian juga pemberian buku pembelajaran sudah disalurkan sejumlah 147.670 buku,” jelasnya
Atip menegaskan, fleksibilitas juga diberikan dalam penyaluran dana operasional sekolah di daerah terdampak.
“Kemudian bantuan operasional satuan pendidikan (BOSP) sudah tersalur ke 29.000 satuan pendidikan di kabupaten terdampak senilai Rp 1,98 triliun. Persyaratan penyaluran juga sudah diberikan fleksibilitas, termasuk dalam penggunaannya sesuai kebutuhan sekolah,” jelasnya
Langkah ini diharapkan bisa membantu guru tetap menjalankan pembelajaran di tengah keterbatasan akibat bencana, sekaligus mempercepat pemulihan sektor pendidikan di wilayah terdampak.




