BEKASI, KOMPAS.com — Setelah tiga malam mengungsi akibat rumah terendam banjir hingga dua meter, warga mulai kembali ke kediaman mereka di Perumahan Green Lavender Sukamekar, Desa Sukamekar, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, Senin (26/1/2026).
Banjir yang melanda kawasan perumahan subsidi tersebut dipicu hujan ekstrem pada Jumat (23/1/2026), dengan ketinggian air mencapai 180 sentimeter hingga 200 sentimeter.
Pantauan Kompas.com, warga mulai membersihkan sisa lumpur dan menyelamatkan barang-barang berharga yang masih bisa digunakan.
Baca juga: Kompleks Green Lavender Sukamekar Bekasi Jadi Danau, Warga Kecewa dan Merasa Ditipu
“Saya baru mulai balik ke rumah siang ini. Sebelumnya lama di pengungsian. Tiga malam ya kurang lebih,” ujar warga bernama Budi (48) saat ditemui Kompas.com di rumahnya, Senin.
Meski sempat banjir lagi pada Senin dini hari, kondisi tersebut tidak berlangsung lama dan segera surut kembali.
“Kalau yang tadi mendadak banjir, cuma enggak lama. Langsung surut lagi,” kata dia.
Saat banjir melanda, air merendam bagian dalam rumah Budi hingga setinggi 50 sentimeter sampai 80 sentimeter. Sementara di jalan depan rumah, ketinggian air mencapai 100 sentimeter hingga 150 sentimeter. Bahkan, di bagian dalam perumahan, genangan meluas hingga sekitar 200 meter.
“Beda-beda ketinggian airnya. Saya cuma bisa selamatkan apa yang bisa selamat,” ujarnya.
Budi mengaku sempat diliputi rasa cemas ketika air mulai masuk ke rumah. Kekhawatiran terbesar yang ia rasakan adalah kemungkinan harus kembali mengungsi bersama keluarga.
“Pasti ya khawatir. Karena sebelumnya kan sudah kejadian. Masa harus mengungsi lagi. Enggak enak mengungsi sama capek bersihin lagi,” ucap dia.
Baca juga: Perumahan Green Lavender Sukamekar Bekasi Berubah Jadi Danau, Terendam Banjir 2 Meter
Ia juga menyoroti belum adanya tanggung jawab dari pihak pengembang perumahan pascabanjir. Menurut Budi, perbaikan harus segera dilakukan agar kejadian serupa tidak terus berulang.
“Ya diperbaikilah yang memang harus diperbaiki. Supaya kita enggak mengungsi melulu. Capek juga, kerja keganggu, jadi harus cuti beberapa hari,” katanya.
Hal senada disampaikan Lia (44). Ia menggambarkan kondisi rumahnya saat banjir seperti lautan yang memaksanya mengungsi ke beberapa lokasi.
“Kondisinya seperti lautan. Saya sampai harus mengungsi di dua tempat. Sempat enggak betah karena penuh,” tutur Lia.
Meski telah mengungsi, Lia mengaku pikirannya terus tertuju pada kondisi rumah yang ditinggalkan.





